Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Sumut Tekan Risiko Kredit Macet hingga 2,90 Persen

Per Juni 2022, tingkat NPL Gross Bank Sumut tercatat sudah di bawah 3 persen. Yakni 2,90 persen.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 27 Juli 2022  |  08:49 WIB
Bank Sumut Tekan Risiko Kredit Macet hingga 2,90 Persen
Jajaran direksi Bank Sumut usai menyampaikan paparan kinerja keuangan Semester I/2022 di Kantor Pusat Bank Sumut, Kota Medan, Selasa (26/7/2022). - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara

Bisnis.com, MEDAN - PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) berhasil menekan Non Performing Loan (NPL) alias tingkat risiko kredit macet hingga titik terendah kurun satu dekade terakhir.

Per Juni 2022, tingkat NPL Gross Bank Sumut tercatat sudah di bawah 3 persen. Yakni 2,90 persen. Persentasenya turun drastis dibanding periode yang sama tahun lalu. Begitu pula dengan NPL Netto, Bank Sumut berhasil menekan ke angka 1,62 persen.

Baik NPL Gross maupun NPL Netto Bank Sumut juga sudah berada jauh di bawah ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni maksimal 5 persen.

"Dalam satu dekade terakhir, ini adalah capaian terbaik Bank Sumut. Kami berhasil mengelola NPL Gross yang sebelumnya tidak pernah mencapai di bawah 3 persen," kata Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi Bank Sumut Arieta Aryanti di kantornya, Kota Medan, Selasa (26/7/2022).

Arieta menegaskan Bank Sumut akan tetap berupaya menekan tingkat NPL tersebut hingga ke titik lebih rendah pada masa mendatang.

"Untuk pertama kalinya, di semester I/2022 ini kami capai 2,90 persen. NPL Netto kita juga turun cukup jauh. Kami harap ini bisa dipertahankan di bawah 3 persen," kata Arieta.

Selain tingkat risiko kredit macet, Bank Sumut juga mencatatkan kinerja apik dalam berbagai sektor keuangan lainnya. Termasuk dalam sisi financial ratio.

Per Juni 2022, Loan to Deposits Ratio (LDR) Bank Sumut tercatat 76,58 persen, lalu Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 73,47 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,73 persen.

Kemudian Return On Equity (ROE) sebesar 17,47 persen, Net Interest Margin (NIM) sebesar 6,71 persen dan Return On Asset (ROA) sebesar 2,24 persen.

Bank Sumut juga mencatatkan berbagai torehan positif lainnya pada semester I/2022. Pada periode ini, laba Bank Sumut sudah tercatat Rp345 miliar. Laba tersebut meningkat 12,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu atau secara year on year (yoy).

Capaian di atas meyakinkan Arieta bahwa Bank Sumut mampu meraup laba senilai Rp700 miliar hingga akhir tahun.

"Kalau dilihat secara proporsional, tidak tertutup kemungkinan pada akhir Desember 2022 nanti kami bisa membukukan laba mendekati atau bahkan mencapai Rp700 miliar," katanya.

Selain laba, aset Bank Sumut juga meningkat 6,4 persen (yoy) menjadi Rp40,9 triliun per Juni 2022. Catatan ini membuat Bank Sumut duduk di peringkat kelima bank daerah dengan total aset terbesar di Indonesia per Mei 2022.

Begitu pula dengan sisi kredit, Bank Sumut telah merealisasikannya senilai Rp26,3 triliun atau tumbuh sebesar 8,5 persen (yoy). Persisnya terdiri atas kredit konsumsi sebesar Rp15,3 triliun, kredit investasi sebesar Rp2,5 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp8,4 triliun.

Secara garis besar, komposisi kredit yang disalurkan oleh Bank Sumut per Juni 2022 terdiri atas kredit produktif sebesar 42 persen dan kredit konsumtif sebesar 58 persen. Penyalurannya diberikan kepada kalangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 31 persen dan non-UMKM sebanyak 69 persen.

Kinerja Bank Sumut dalam sisi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp509 miliar atau 101,8 persen dari target Semester I/2022. Arieta optimistis bank mampu mengejar total target sepanjang 2022. Pada tahun ini, Bank Sumut diketahui memeroleh alokasi KUR senilai Rp1 triliun.

Jika target di atas terlampaui, kata Arieta, Bank Sumut akan kembali mengajukan penambahan alokasi KUR. "Kami optimis dapat menyalurkan Rp1 triliun hingga akhir tahun dan tidak tertutup kemungkinan kami bisa menambah kuota jika memang capaian sampai Kuartal III/2022 nanti melampaui target," kata Arieta.

Arieta mengatakan, tingkat kepercayaan nasabah terhadap Bank Sumut juga tercatat meningkat. Hal ini terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun bank. Per Juni 2022, total DPK Bank Sumut tercatat senilai Rp34,4 triliun atau tumbuh sebesar 7,1 persen (yoy).

Komposisinya terdiri atas deposito senilai Rp13 triliun, kemudian tabungan senilai Rp11 triliun dan giro senilai Rp10 triliun.

Menurut Direktur Utama Bank Sumut Rahmat Fadillah Pohan, catatan apik penyaluran KUR Bank Sumut didongkrak oleh berbagai faktor. Di antaranya berkat kekompakan serta kerja keras jajaran Bank Sumut. Termasuk tata kelola bank yang baik dan efektif.

Selain itu, kinerja penyaluran KUR Bank Sumut juga didongkrak oleh beberapa faktor lain. Seperti jaringan kantor yang banyak, sumber daya manusia dan dukungan dari pemegang saham.

Catatan tersebut pula yang membuat Rahmat yakin Bank Sumut mampu menggelar Initial Public Offering (IPO) pada tahun ini. "Ini karena kekompakan manajemen, sinergi antardireksi, dengan pemegang saham dan seluruh stakeholders," kata Rahmat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank sumut kredit usaha rakyat
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top