Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KA Wisata Mak Itam Sawahlunto, Begini Nasibnya Kini

Pengoperasian KA Wisata Mak Itam yang semulanya diharapkan dapat menjadi pendongkrak pariwisata di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat.
Kereta api Mak Itam saat berada di Stasiun Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Selasa (20/12/2022). /Bisnis-Muhammad Noli Hendra
Kereta api Mak Itam saat berada di Stasiun Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Selasa (20/12/2022). /Bisnis-Muhammad Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Pengoperasian KA Wisata Mak Itam yang semulanya diharapkan dapat menjadi pendongkrak pariwisata di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, yang merupakan kawasan Warisan Dunia Baru UNESCO yakni Situs Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, belum berjalan secara baik.

Vice President PT KAI (Persero) Divisi Regional II Sumbar Sofan Hidayah KA Mak Itam hanya dioperasikan pada momen akhir pekan saja, artinya luar dari hari akhir pekan, KA Mak Itam terparkir di Stasiun Sawahlunto.

"Kita mengoperasikan Mak Itam setiap akhir pekan atau hari libur saja. Hal ini sesuai dengan permintaan pihak Pemko Sawahlunto, karena sudah dituangkan ke dalam kesepakatan kerjasama antara PT KAI dengan Pemko Sawahlunto," katanya, Selasa (6/6/2023).

Dia menyebutkan pengoperasian KA Mak Itam dari awal memang ditargetkan untuk kereta api wisata, karena Sawahlunto telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia Baru UNESCO yakni Situs Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto.

Kereta api uap ini bila beroperasi hanya mampu mengangkut penumpang sebanyak 30 orang saja dengan tarif tiket Rp50.000 per orang pulang pergi Sawahlunto - Muaro Kalaban.

"Mak Itam usianya memang sudah tua, jadi memang kita memberikan perhatian khusus sebagai upaya antisipasi terjadi kerusakan. Hal ini juga yang membuat Pemko Padang minta KA Mak Itam hanya dioperasikan pada akhir pekan saja," ujarnya.

Sofan menjelaskan sebelum dioperasikannya kembali kereta api di Sawahlunto itu, terdapat empat BUMN yang terlibat bergotong-royong untuk melakukan reaktivasi yakni KAI, Biofarma, Pupuk Indonesia, dan Semen Indonesia.

Sementara itu, Wali Kota Sawahlunto Deri Asta menambahkan untuk pengoperasian kembali lokomotif Mak Itam itu, sebuah hal yang sudah lama dinanti oleh masyarakat maupun wisatawan.

"KA Mak Itam itu sudah melegenda. Jadi kami di Pemko Sawahlunto tentu sangat senang dan berterima kasih kepada PT KAI maupun BUMN yang telah terlibat, karena beroperasinya kembali kereta api turut menggerakan pariwisata di Sawahlunto," ujarnya.

Apalagi Situs Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto sudah ditetapkan Warisan Dunia Baru UNESCO, sehingga penunjang pariwisata perlu ada di Sawahlunto.

KA Wisata Mak Itam terakhir beroperasi pada tahun 2014. Pengoperasian KA Wisata ini sebagai upaya meningkatkan pariwisata di Sumbar khususnya di wilayah Sawahlunto.

Dalam rangka reaktivasi jalur Sawahlunto - Muaro Kalaban sepanjang 4 km ini, KAI telah melakukan perbaikan pada jalan rel, 2 unit jembatan, terowongan, persinyalan, bangunan stasiun, dan dipo.

Selain perbaikan prasarana, KAI juga menghidupkan lokomotif uap bersejarah yakni Lokomotif Uap E1060 atau Mak Itam yang dahulu beroperasi di jalur ini untuk melayani angkutan batu bara.

Selama proses perbaikan jalur tersebut, KAI menemui beberapa tantangan yang berhasil diatasi. Kendala seperti keterbatasan material untuk perbaikan, jalur KA yang digunakan warga untuk beraktivitas, dan lainnya.

Tantangan yang dihadapi dalam upaya perbaikan Lokomotif Mak Itam yang telah berusia 57 tahun. KAI harus mendatangkan Tim Ahli Perbaikan Lokomotif Uap dari Museum Kereta Api Ambarawa untuk dapat menangani kerusakan pada lokomotif bersejarah tersebut.

Melalui koordinasi dan komunikasi yang baik, KAI berhasil menyelesaikan perbaikan ini lebih awal dari target semula di Januari 2023.Sedangkan untuk jalur Sawahlunto - Muaro Kalaban pertama kali dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara Sumatra Staats Spoorwegen (SSS) dan dioperasikan sejak 1894. 

Alasan utama pembangunan awal kereta api di Sumatera Barat adalah sebagai sarana pengangkutan batu bara di Ombilin, Sawahlunto. Namun, akhir tahun 2000 produksi batu bara di Sawahlunto semakin berkurang dan secara otomatis aktivitas kereta api di jalur ini pun berhenti.

Jalur tersebut sempat digunakan untuk perjalanan KA Wisata Mak Itam pada tahun 2009 dan berhenti total pada tahun 2014. Mak Itam kemudian dipajang di Museum Kereta Api Sawahlunto. Mak Itam sendiri merupakan Lokomotif Uap bergerigi seri E1060 buatan Jerman tahun 1965. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper