Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Akibat Kenaikan Harga Pangan pada Februari 2024, Sumbar Alami Inflasi 3,32%

Provinsi Sumatra Barat mengalami inflasi 3,32% (yoy) pada Februari 2024 yang disebabkan naiknya harga sejumlah komoditas pada bulan tersebut.
Seorang pekerja mengangkut beras di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, Kamis (22/2/2024). Dinas Perdagangan mencatat jelang Ramadan ini hampir semua bahan pokok mengalami kenaikan dari 30% hingga 50% dan kenaikan tertinggi terjadi di cabai merah dan beras. Bisnis/Muhammad Noli Hendra
Seorang pekerja mengangkut beras di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, Kamis (22/2/2024). Dinas Perdagangan mencatat jelang Ramadan ini hampir semua bahan pokok mengalami kenaikan dari 30% hingga 50% dan kenaikan tertinggi terjadi di cabai merah dan beras. Bisnis/Muhammad Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Provinsi Sumatra Barat mengalami inflasi 3,32% (yoy) pada Februari 2024 yang disebabkan naiknya harga sejumlah komoditas pada bulan tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar Sugeng Arianto mengatakan berdasarkan hasil pemantauan BPS di 4 kabupaten dan kota di Sumbar pada Februari 2024, tercatat terjadi inflasi yoy sebesar 3,32% atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,43 pada Februari 2023 menjadi 106,86 pada Februari 2024. 

"Inflasi itu terjadi adanya perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2024 secara umum yang menunjukkan adanya kenaikan," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (1/3/2024).

Sugeng menyampaikan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi yoy pada Februari 2024, yaitu cabai merah, beras, sewa rumah, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), cabai rawit, mobil, kentang, bawang putih, kontrak rumah hingga jengkol. 

Dia menjelaskan bila dilihat secara month to month (mtm) pada bulan Februari 2024 Sumbar juga mengalami inflasi sebesar 1,17%. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi mtm itu, mulai cabai merah, cabai rawit, beras, minyak goreng, tarif air minum PAM, jengkol, cabai hijau, hingga angkutan udara.

"Jadi pada Februari 2024, tingkat inflasi yoy Sumbar sebesar 3,32% dan tingkat inflasi ytd sebesar 0,85%," ujarnya.

BPS mencatat pada Februari 2024, seluruh kota IHK di Sumbar yang dihitung dari 4 kabupaten dan kota mengalami inflasi yoy. 

Menurutnya inflasi yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 5,52% dengan IHK sebesar 108,60, dan terendah terjadi di Kota Bukittinggi sebesar 2,31% dengan IHK sebesar 105,41.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumbar Novrial mengakui bahwa harga sejumlah komoditas memang terjadi kenaikan, terutama yang terpantau di sejumlah pasar di Sumbar.

"Harga yang naik itu, mulai dari beras, cabai merah,  telur ayam ras, tomat, dan sejumlah komoditas lainnya. Kenaikan nya itu dari 20% hingga 50%," jelasnya.

Novrial menyampaikan kenaikan harga sejumlah komoditas itu, sedikit banyaknya merupakan dampak dari bencana erupsi Gunung Marapi, yang turut mempengaruhi produksi hasil pertanian. Dimana di wilayah sekitaran Marapi banyak petani cabai merah, tomat, dan juga padi.

Menurutnya khusus untuk menaikan harga cabai merah, kondisi yang terjadi di pasar bahwa stok cabai yang masuk ke pasaran mengalami penurunan. 

"Cabai nya bukan dari Jawa, tapi ada dari Aceh, Medan, dan juga cabai lokal. Biasanya yang membuat harga normal itu, bila cabai dari Jawa masuk ke pasar-pasar di Sumbar," sebutnya.

Sedangkan untuk kenaikan harga beras, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) mulai intens melakukan operasi pasar dan pasar murah, setelah di dorong dengan memasok beras-beras yang ada di gudang Bulog ke sejumlah mitra Bulog di pasaran.

Pemimpin Wilayah BULOG Sumbar Sri Muniati mengatakan dampak dari naiknya harga beras di pasaran itu, turut berdampak pada naiknya permintaan beras di Sumbar, yakni dari biasanya 50 ton hingga 70 ton per hari, dan akhir-akhir naiknya menjadi 100 ton per harinya. 

"Kenaikan harga beras di pasaran membuat masyarakat banyak membeli beras Bulog. Selain harganya lebih murah yakni Rp11.500 per kilogram, masyarakat sudah bisa menikmati beras dengan kualitas beras premium," kata dia.

Sri menjelaskan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap beras, Bulog turut mendistribusikan beras ke mitra, mulai untuk mitra di pasar, hingga untuk mitra Bulog juga ada di sejumlah ritel di Sumbar.

Dengan adanya sebaran beras Bulog itu, dia berharap masyarakat bisa lebih mudah untuk dapat membeli beras yang dipasok dari Bulog.

Melihat tingginya permintaan beras ke Bulog, untuk ketersediaan beras total di seluruh gudang Bulog wilayah Sumbar yang tercatat hingga 27 Februari 2024 mencapai 22.500 ton, dan stok tambahan akan masuk beberapa hari kedepan sebanyak 13.500 ton.

Menurutnya dengan adanya stok itu, diperkirakan masih mampu untuk memenuhi kebutuhan beras di Sumbar selama 3 hingga 4 bulan kedepan.

"Jadi untuk momen Ramadan dan lebaran nanti, ketersediaan beras di gudang Bulog masih cukup. Artinya masih aman," ujarnya.

Dikatakannya melihat naiknya permintaan beras tersebut, Bulog bersama pemerintah daerah juga telah membahas skema yang dipersiapkan agar pengendalian harga beras di pasar semakin baik dilakukan.

Dimana pemerintah daerah akan menggelar pasar murah, dan khusus untuk berasnya itu diambil dari beras Bulog. 

Untuk kebutuhan pasar murah yang digelar oleh pemerintah daerah itu, Bulog memastikan stok yang ada saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar murah tersebut.

Selain pasar murah yang digelar pemerintah daerah, Bulog juga turut menggelar Operasi Pasar yang dilakukan hampir setiap hari, dengan sebaran titik yang terus menyebar.

"Setiap harinya itu, Operasi Pasar keliling yang kami lakukan itu, berbeda-beda titiknya. Tujuannya supaya terjadi pemerataan, dan masyarakat bisa lebih mudah mendapatkan beras Bulog," kata dia.

Sementara itu, untuk harga beras di pasar di wilayah Sumbar mencapai Rp17.000 per kilogram. Harga itu mengalami kenaikan sejak tiga bulan terakhir, dimana sebelumnya untuk harga normal di kisaran Rp15.000 per kilogram.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper