Penguatan Ekonomi Sumut, Ekspor atau Ketahanan Pangan?

Tanamam pangan, juga memiliki andil yang tak kalah penting sebagai penyelamat perekonomian Sumut di kala seluruh dunia serba lockdown.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Salah satu yang menjadi pendorong laju pertumbuhan perekonomian Sumatra Utara (Sumut), khususnya di masa pandemi Covid 19 adalah sektor pertanian dengan subsektor perkebunan dan tanaman pangan.

Dari sisi subsektor perkebunan, kelapa sawit dengan produk turunannya yakni Crude Palm Oil (CPO), menyumbang sekitar 30 persen nilai ekspor dari Sumut. Tentu saja hal ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. 

Apalagi dengan luas lahannya yang mencapai 1,4 juta hektare (ha), berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sumut tahun 2020. Sementara, masih dari sumber yang sama, luas lahan panen padi di Sumut hanya mencapai sekitar 388.000 ha. 

Akan tetapi, subsektor lainnya yaitu tanamam pangan, juga memiliki andil yang tak kalah penting sebagai penyelamat perekonomian Sumut di kala seluruh dunia serba lockdown. Lantas mana yang sejatinya memegang peranan penting dalam penguatan perekonomian Sumut? Subsektor perkebunan dengan peran ekspornya, atau justru tanaman pangan dengan spesialisasinya menjaga ketahanan pangan?

Pengamat ekonomi Sumut Universitas Sumatera Utara Wahyu Ario Pratomo berpendapat penguatan ekonomi Sumut diawali dengan ketahanan pangan yang seharusnya diutamakan lebih dulu.

"Ketahanan pangan tersebut ditandai dengan ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan dan stabilitas harga pangan," ujar Wahyu kepada Bisnis, Selasa (14/3/2023).

Meski begitu, ekspor produk unggulan seperti CPO pun juga tak kalah penting menurutnya karena akan meningkatkan perekonomian dan penciptaan lapangan kerja. 

"Namun ketersediaan lahan untuk pangan akan lebih penting, mengingat masyarakat Sumut masih banyak yang memiliki pendapatan rendah sehingga harga pangan yang terjangkau akan lebih diutamakan," tuturnya.

Senada dengan Wahyu, Rektor Universitas Tjut Nyak Dhien Medan Irwan Agusnu Putra berpendapat bahwa salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menguatkan perekonomian Sumut adalah dengan meningkatkan hasil panen tanaman pangan.

"Saya hanya bisa berkomentar, adalah produksi pangan. Salah satunya begitu (meningkatkan produksi pangan)," ucapnya.

Begitu pula dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Doddy Zulverdi, yang mengatakan ketahanan pangan merupakan basis ketahanan yang paling diutamakan dalam menjaga perekonomian daerah dibandingkan ekspor.

"Kalau ekspor itu kan sesuatu yang sifatnya kalau kita ada ekstra, kelebihan produksi, dan kita bisa jual suoaya lebihsupaya bisa meningkatkan pendapatan ya itu adalah sesuatu tahap berikutnya.Tapi ekspor kan terjadi kalau kita sudah bisa memenuhi kebutuhan kita. Jadi harunya itu (kebutuhan) dulu yang kita perkuat," ujar Doddy pada Launching 4th Sumatranomics 2023 di Medan, Senin (13/3/2023).

Menurut Doddy hal ini jelas merupakan tantangan besar di semua negara yang basisnya agraris. Bagaimana menyeimbangkan penggunaan lahan. 

"Tahap awal memang banyak untuk pangan ya, tapi seiring dengan kemajuan ilmu teknologi dan kebutuhan manusia dan juga sisi skala ekonomi makin banyak lah kebutuhan. Mulai dari untuk perkebunan, juga untuk perumahan, industri. Nah, akibatnya makin menyusut lahan untuk pangan," lanjutnya.

Dari sudut pandangnya, memang harus ada kebijakan yang sifatnya pengamanan lahan dalam menyikapi persoalan ini. Dengan sedapat mungkin menjalankan aturan tata ruang. 

"Kalau ini tata ruang adalah lahan yang diarahkan untuk pangan, ya jangan dikorbankan, begitu kan," sambungnya.

Salah satu upaya lain yang dapat dilakukan juga, lanjut Doddy, adalah adanya dukungan legal. Meskipun sejatinya isunya lahan pangan ini bukan hanya perkara legal saja, akan tetapi petani tetap tidak bisa dipaksa untuk tidak mengalihkan lahannya. 

"Sementara dia mungkin butuh pendapatan, ada isu warisan juga," tutur Doddy.

Untuk itu, ia juga menilai bahwa memang harus ada penguatan yang tidak bisa dihindari. Karena ada penurunan skala lahan yang kian hari kian mengecil. Sehingga diperlukanlah langkah-langkah untuk penguatan dari sisi kelembagaan. 

"Jadi boleh saja petani punya lahan kecil-kecil, tapi kalau dikelompokkan dalam satu kelembagaan yang kuat, koperasi atau bentuk kerja sama lain, dia bisa lebih efisien, lebih produktif. Meski kecil-kecil kalau produksinya makin banyak, dia tetap bisa menghasilkan," jelas Doddy.

Tapi kembali lagi kepada isunya, ia berpendapat poinnya adalah bagaimana pemerintah pusat juga ada ketegasan mengenai penggunaan lahan. 

"Kalau engga, ya sulit. Karena ada pertimbangan-pertimbangan ekonomi yang membuat bisa saja nanti kebutuhan lahan untuk pertanian makin menyusut," tutup Doddy

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Ade Nurhaliza
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper