Pertamina Tekan Harga BBM di Pulau Terluar Kepri

Oleh: Sarma Haratua Siregar 27 Juli 2018 | 18:47 WIB

Bisnis.com, BATAM – Pertamina terus berupaya menjaga pasokan BBM hingga pulau-pulau terluar di Provinsi Kepulauan Riau. Hasilnya Pertamina memastikan tak ada lagi kelangkaan stok BBM, dan berhasil menekan harga BBM di pulau terluar hingga 28 persen di pulau paling luar NKRI.

“Kita sudah berhasil menekan harga sampai sama dengan harga BBM di tempat lain. Namun untuk pulau terluar, ada faktor ongkos angkut yang membuat ada selisih harga. Tapi secara umum harganya sudah turun dan akan terus ditekan,” ujar Branch Manager Marketing Pertamina Kepri, Oos Kosasih.

Pertamina memusatkan program BBM 1 harga di 6 titik di Kepri. Yakni Serasan, Pulau Laut, Pulau Tiga dan Bunguran Timur di Kabupaten Natuna. Juga Jemaja di Kabupaten Anambas dan Tambelan di Kabupaten Bintan.

Untuk kepentingan tersebut, Pertamina membentuk divisi khusus bernama Project Koordinator BBM 1 Harga. Tim ini memonitor semua aktifitas, mulai dari distribusi hingga ketersediaan stok di masing-masing lokasi. Tujuannya memastikan tak terjadi kelangkaan BBM di tempat-tempat tersebut.

Untuk mendukung distribusi ke pulau-pulau terluar, Pertamina memaksimalkan fungsi depot di Selat Lampa, Ranai dan Tanjung Uban. Depot Selat Lampa dan Ranai digunakan untuk memenuhi ketersediaan stok di Anambas dan Natuna. Sementara untuk kebutuhan di Tambelan didistribusi melalui depot di Kijang atau Tanjung Uban.

Upaya-upaya ini telah berhasil menekan harga BBM hingga satu harga di sejumlah titik. Namun harga di 8 titik terluar masih berada di atas harga normal. Pasalnya ada faktor ongkos angkut yang menjadi tambahan biaya.

“Untuk ke Pulau Laut misalnya, itu diangkut dari Serasan menggunakan Pompong selama 8 jam,” jelasnya.

Kendati demikian, harga BBM di pulau-pulau terluar sudah berhasil di tekan. Sebelum program tersebut dilakukan, harga BBM jenis Premium di Pulau Laut mencapai Rp 25 ribu/ botol ukuran 1,5 liter. Saat ini harganya turun menjadi Rp 18 ribu/ botol ukuran 1,5 liter.

Pertamina akan terus mendorong agar harga BBM bisa ditekan hingga sama dengan daerah lain di Indonesia. Salah satunya adalah berkoordinasi dengan Pemerintah setempat, guna meningkatkan i infrastruktur pendukung yang dibutuhkan untuk mempermudah penyaluran BBM.

Selain itu Pertamina juga akan menambah sejumlah titik untuk memperluas jangkauan ke pulau-pulau lain di sekitar kawasan tersebut. Dengan demikian, biaya distribusi BBM akan jauh lebih murah dan mudah.

“Kami sudah rapat dengan Pemda Natuna untuk titik-titik baru. Salah satu yang mereka usulkan adalah Pulau Subi Besar,” jelasnya.

Dukungan regulasi dari pemerintah setempat juga sangat mempengaruhi upaya Pertamina menekan harga. Salah satu regulasi yang cukup membantu adalah aturan mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) BBM.

“Dukunga pemerintah setempat mendorong percepatan upaya kami menekan harga BBM,” jelas Oos.

//Bangun Depot di Anambas//

Pertamina tengah mengkaji penambahan Depot di Kabupaten Anambas. Wacana ini muncul atas permintaan Pemerintah setempat. Ada sejumlah indikator yang harus dipertimbangkan oleh Pertamina, terutama kebutuhan minimal daerah tersebut harus mencapai 85 ribu KL pertahun.

Menurut data Pertamina, realisasi penyaluran BBM ke Anambas tahun 2017 silam baru mencapai 44.530 KL. Diantaranya 8.514 KL untuk kebutuhan retail, dan 36.016 KL untuk kebutuhan industri dan bunker.

Pertamina telah mengadakan pertemuan khusus dengan pemerintah Kabupaten Anambas untuk mendorong pemetaan kebutuhan BBM di Kabupaten tersebut. Terutama untuk 3 gugusan pulau terbesar, yakni di Pamlmatak, Siantan dan Jemaja.

Pemetaan tersebut meliputi jumlah penduduk, kebutuhan realistin BBM di masing-masing kawasan, dan studi mengenai lokasi strategis untuk penambahan lembaga penyalur. Hasil pemetaan tersebut nanti akan disesuaikan dengan rencana pengembangan Pertamina.

Di lain sisi, jika syarat kebutuhan minimal belum terpenuhi, Pertamina masih bisa mempertimbangkan pembanguan Depot di Anambas. Salah satu pertimbangannya adalah karena Kabupaten tersebut merupakan pulau terluar yang butuh penanganan Khusus.

“Ini yang sedang kita evaluasi di pusat. Kita tak hanya soal untung rugi, tapi juga sosial dan geo politik yang harus dipertimbangkan,” jelasnya.

Jika pembangunan Depot di Anambas bisa terealisasi, maka distribusi BBM di Anambas tak lagi bergantung terhadap Depot daerah lain. Selama ini BBM untuk kebutuhan Industri diambil dari Depot Tanjung Uban, sementara BBM untuk kebutuhan Retail diambil dari Depot Natuna.

Semakin dekatnya Depot juga akan mendorong ongkos angkut BBM yang lebih murah, yang pada akhirnya berimbas kepada turunnya harga BBM di kawasan tersebut. Menurut Oos, turunnya harga BBM di kawasan tersebut akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat setempat.

“Faktor-faktor yang ada kaitannya dengan BBM akan bisa ditekan, sehingga pada akhrnya akan berimbas kepada turunnya harga sejumlah produk dan jasa di sana. Kami berharap ini bisa menjadi salah satu upaya menggeliatkan perekonomian setempat,” tuturnya.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya