Pengamat Ungkap Penyebab Ekonomi Sumsel Melambat di Level 5,08% Tahun 2023

Kinerja pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) pada tahun 2023 mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok. Pelanggan memilih barang kebutuhan di salah satu ritel modern di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/7/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok. Pelanggan memilih barang kebutuhan di salah satu ritel modern di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/7/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, PALEMBANG – Badan Pusat Statistik mencatat kinerja pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) pada tahun 2023 mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Moh Wahyu Yulianto dalam rilis BRS mengungkapkan, ekonomi Bumi Sriwijaya sepanjang tahun lalu berada di level 5,08% atau lebih rendah dibanding tahun 2022 yang tercatat 5,23%. 

“Masih tumbuh pada level 5%, walaupun sedikit melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2022,” katanya, dikutip Senin (12/2/2024).

Dia menjelaskan, dari sisi lapangan usaha pendorong utama ekonomi Sumsel berasal dari sektor pertambangan dengan pertumbuhan sebesar 7,89% dan distribusi mencapai 26,61%. 

Sedangkan menurut pengeluaran, pendorong utama ekonomi masih ditempati oleh sektor konsumsi rumah tangga yang tumbuh [secara c to c] sebesar 5,27% dengan distribusi 60,63%. 

Pengamat Ekonomi Sumsel Sri Rahayu menerangkan pertumbuhan ekonomi wilayah itu memang diprediksi berada di lintasan 4,8-5,7%. 

Harapan itu dilatarbelakangi oleh momen pemilihan umum (Pemilu) yang diperkirakan mampu menggerek sejumlah sektor seperti percetakan, akomodasi dan lain sebagainya. 

“Karena masa Pemilu harapannya ekonomi bisa tumbuh dengan berbagai kegiatan kampanye yang mendorong hampir semua sektor,” katanya saat dibincangi Bisnis. 

Akan tetapi, jelas Sri, perlambatan yang terjadi pada ekonomi Sumsel dipengaruhi sektor konsumsi rumah tangga yang mengalami penurunan akibat daya beli masyarakat yang melorot.

"Kita tahu, Sumsel ini masih ditopang oleh tingginya peran konsumsi rumah tangga. Sementara, konsumsi rumah tangga turun," bebernya. 

Dia menjelaskan, terkereknya daya beli masyarakat diakibatkan oleh beberapa kondisi salah satunya harga sejumlah kebutuhan pokok yang sempat melonjak hingga menyebabkan tingginya inflasi. 

"Jadi mereka [masyarakat] banyak yang berhemat, dan mereka juga menunggu siapa tahu ada Caleg yang akan memberi sembako, misalnya. Ini yang menjadi akar," imbuhnya. 

Oleh karena itu, pemerintah memang seyogyanya melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga seperti salah satunya melalui pasar murah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper