Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Disbun Riau Dorong Petani Sawit Bermitra, Tapi Masih Ada Sejumlah Kendala

Dinas Perkebunan Provinsi Riau mengupayakan berbagai langkah untuk bisa meningkatkan harga jual tandan buah segar (TBS) sawit, di tengah masih rendahnya harga acuan yang ditetapkan pemda.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 06 Juli 2022  |  19:40 WIB
Disbun Riau Dorong Petani Sawit Bermitra, Tapi Masih Ada Sejumlah Kendala
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar

Bisnis.com, PEKANBARU -- Dinas Perkebunan Provinsi Riau mengupayakan berbagai langkah untuk bisa meningkatkan harga jual tandan buah segar (TBS) sawit, di tengah masih rendahnya harga acuan yang ditetapkan pemda.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Disbun Riau Defris Hatmaja mengatakan saat ini untuk harga jual TBS sawit yang bermitra dengan perusahaan, sudah sesuai dengan harga acuan dari Disbun.

"Jadi untuk sekarang harga sawit murah itu adalah petani yang non mitra, karena itu sudah ada regulasi berupa Peraturan Gubernur, yang mendorong kemitraan petani swadaya dengan perusahaan. Cuma para petani swadaya ini cukup sulit dan ada yang tidak mau dimitrakan," ujarnya Rabu (6/7/2022).

Dia menjelaskan sejumlah kendala yang menyebabkan petani swadaya tidak mau dimitrakan dengan perusahaan diantaranya terkait lahan petani yang berada di kawasan hutan.

Kemudian ada juga petani swadaya yang belum memenuhi persyaratan kemitraan seperti belum memiliki kelembagaan, atau organisasi petani. Serta para petani belum memenuhi syarat minimal luasan kebun sehingga hal itu yang menghambat petani bisa dijadikan mitra penjualan TBS sawit ke perusahaan.

"Itu beberapa kendalanya yang membuat kemitraan petani swadaya dengan perusahaan menjadi sulit terwujud, kami juga sudah mendorong kabupaten kota untuk membuat regulasi kemitraan tapi sampai kini belum ada yang membuat."

Sementara itu Sekretaris Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau, Djono Albar Burhan mengatakan harga jual sawit petani terus turun setiap pekannya. Kini sudah menyentuh di bawah Rp1.000 per kg.

"Terkait harga tandan buah segar sawit tingkat petani itu betul bahwa saat ini sudah di bawah Rp1.000 per kg. Kalau di pabrik saat ini sekitar Rp1.200 sampai Rp1.300, tapi petani menjual sawitnya ke agen dan itu di rentang Rp800 seperti di Indragiri Hilir, dan Rp900 di Siak," ujarnya.

Dia mengakui rendahnya harga jual TBS sawit ini membuat luka dan kesedihan yang dirasakan petani semakin dalam. Dimulai sejak adanya larangan ekspor CPO pada April 2022 lalu, kini hampir tiga bulan berlalu harga jual TBS petani tidak kunjung pulih.

Djono menilai kondisi ini disebabkan oleh regulasi dari pemerintah terkait kebijakan ekspor, dimana beban pengusaha semakin besar untuk menjual sawit keluar negeri namun beban itu malah ditimpakan kepada petani dengan dampak turunnya harga TBS.

Menurutnya dari beragam aturan perdagangan sawit yang dibuat pemerintah saat ini, petani sawitlah yang paling merasakan akibatnya yaitu harga sawit yang rendah, jauh dibandingkan negara tetangga Malaysia yang harga sawitnya masih di rentang Rp4.000 keatas per kg.

"Karena itu kami berharap aturan yang memberatkan terkait ekspor sawit ini dapat dicabut, sehingga harga TBS petani bisa kembali pulih seperti sebelumnya," ujarnya.

Dia menambahkan, di saat harga sawit murah ini bersamaan dengan momen tahun ajaran baru sekolah dan kuliah, akibatnya banyak anak petani yang tidak bisa melanjutkan sekolah atau kuliahnya. Di tengah kondisi itu, para petani sawit masih menghadapi situasi berat karena harus mengeluarkan beragam biaya operasional untuk mengelola kebun seperti upah panen.

Kemudian masalah lainnya adalah harga jual pupuk yang kini masih tinggi, sampai Rp900.000 perkarung, sedangkan pada saat masih normal dulunya hanya Rp250.000 sampai Rp300.000 perkarung.

Akibat harga sawit murah itu, petani sama sekali tidak lagi mendapatkan untung dari penjualan TBS, bahkan hasil jualan kini harus dipilih pemakaiannya, apakah untuk biaya makan atau beli pupuk.

"Jadi sekarang itu ada istilah petani sawit hanya bertahan hidup dengan tabungannya, kalau dari hasil panen sudah tidak bisa diharapkan di saat harga sawit murah seperti saat ini."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

riau sawit
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top