Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menyambut Cuti Lebaran 2022, Sumbar Siapkan 300 Desa Wisata

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah menyiapkan segala hal untuk menyambut datangnya momen libur atau cuti Lebaran 2022.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 08 April 2022  |  12:27 WIB
Menyambut Cuti Lebaran 2022, Sumbar Siapkan 300 Desa Wisata
Masjid Raya Sumatra Barat yang berdiri megah Jalan Khatib Sulaiman Padang. - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah menyiapkan segala hal untuk menyambut datangnya momen libur atau cuti Lebaran 2022.

Hal ini juga seiring telah adanya pernyataan dari Presiden RI Joko Widodo tentang cuti bersama lebaran 2022 yang ditetapkan terhitung mulai tanggal 29 April hingga 6 Mei 2022.

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan keputusan yang telah diambil oleh Presiden RI Jokowi merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Tidak hanya bagi para perantau yang sudah rindu untuk kembali ke kampung halaman, tapi juga menjadi bangkitnya perekonomian di daerah.

"Dua tahun lamanya perantau tidak bisa berlebaran bersama keluarga di kampung halaman akibat pandemi Covid-19. Tahun 2022 ini, ternyata sudah dibolehkan mudik dengan berbagai persyaratan. Kebijakan presiden itu adalah kabar yang sangat ditunggu-tunggu," katanya kepada Bisnis di Padang, Jumat (8/4/2022).

Dia menyebutkan dengan adanya momen libur atau cuti Lebaran 2022 ini yang terbilang cukup lama yakni 10 hari, maka berbagai daerah di Sumbar bisa memastikan memberikan liburan yang menyenangkan.

Salah satunya yakni menghadirkan desa-desa wisata di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar. Mahyeldi mengatakan saat ini tercatat ada sebanyak 300 desa wisata di Sumbar yang sangat menarik untuk dikunjungi, terutama pada saat libur lebaran nanti.

"300 desa wisata ini adalah wisata baru yang dikelola langsung oleh masing-masing nagari/desa. Beragam jenis wisata tentunya, seperti ada tempat mandi-mandi, menikmati keindahan alam, ada arum jeramnya, hingga budaya dan kulinernya," jelas Mahyeldi.

Menurut dia meskipun telah hadirnya 300 desa wisata itu, bukan berarti pemerintah mengabaikan wisata yang selama ini telah populer, seperti Jam Gadang di Bukittinggi, Harau Limapuluh Kota, Pantai Padang, Carocok Painan, Mandeh, dan lainnya.

Selain itu juga ada wisata religi yang tidak kalah populer di Sumbar, seperti Masjid Raya Sumatra Barat, Masjid Al Hakim di pantai Padang, dan sejumlah tempat wisata lainnya.

Gubernur menjelaskan salah satu alasan Pemprov Sumbar menghadirkan desa wisata itu, agar dampak dari pariwisata itu merata di seluruh daerah.

Karena selama ini pariwisata di Sumbar seperti fokus di satu titik, sehingga dampaknya hanya dirasakan di satu daerah saja. Padahal masih banyak lagi potensi wisata yang belum tergarap.

"Kita juga tidak ingin, kalau objek wisata di Sumbar itu dan itu saja. Harus ada yang baru, biar wisatawan tidak bosan berada di Sumbar. Caranya memanfaatkan potensi di pedesaan. Ternyata di desa tidak kalah menarik dengan objek wisata lainnya yang telah lebih dulu populer," sebutnya.

Selain bertujuan untuk memberikan dampak perekonomian yang merata di tiap-tiap daerah, keberadaan desa wisata juga sebagai upaya untuk mengurai keramaian dan kepadatan pengunjung di titik-titik tertentu.

"Kalau masing-masing daerah di Sumbar sudah ada wisatanya, jadi tidak perlu jauh-jauh pergi daerah lainnya untuk menikmati cuti lebarannya," kata gubernur.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar Luhur Budianda menambahkan libur atau cuti Lebaran 2022 diperkirakan akan terjadi lonjakan pengunjung ke tempat-tempat wisata di Sumbar.

"Memang kita memperkirakan akan terjadi lonjakan wisatawan. Kalau melihat pada lebaran sebelum pandemi, rata-rata momen lebaran itu jumlah wisatawan di Sumbar mencapai angka 12 ribu orang," ujarnya.

Budi menyebutkan dengan kondisi dua tahun lama nya tidak bisa untuk mudik lebaran, dan kini telah boleh mudik dan bahkan cuti hingga 10 hari kerja, maka lonjakan pengunjung ke Sumbar bisa sama seperti sebelum pandemi melanda Ranah Minang.

"Kalau di masa pandemi yakni 2020 dan 2021 kemarin itu, sekitar 5.000 hingga 7.000 orang saja pengunjung ke Sumbar pada momen lebarannya. Dan itu merupakan pengunjung lokal saja atau antar kabupaten dan kota di Sumbar. Karena ada kebijakan PSBB di tahun 2020 dan lalu PPKM di tahun 2021, jadi ruang mobilitas jadi terbatas," katanya.

Kini dengan telah bolehnya mudik dan cuti dengan waktu yang cukup panjang, pariwisata diharapkan akan bangkit dan kembali bergairah. Namun persyaratan vaksinasi dan protokol kesehatan tentu masih menjadi hal yang harus patuhi oleh wisatawan.

"Pastinya wisatawan nusantara akan banyak ke Sumbar. Kalau untuk wisatawan asing kita belum tahu, karena saat ini Pemprov Sumbar tengah mengupayakan lobi ke pemerintah pusat untuk rencana dibukanya kembali rute penerbangan internasional di Bandara Minangkabau," jelas Budi.

Diakuinya bahwa market terbesar pariwisata untuk mancanegara di Sumbar itu adalah Malaysia. Untuk itu sangat diharapkan penerbangan internasional di Bandara Minangkabau bisa dibuka kembali.

"Di Bandara Minangkabau biasanya rute penerbangan cuma satu yakni Padang - Kuala Lumpur dengan maskapai penerbangan AirAsia. Semoga keinginan kami disetujui pemerintah pusat. Bicara ketentuan untuk penerbangan internasionalnya itu, tentu perlu kita siapkan di daerah, agar semuanya aman" tegas Budi.

Terkait bagaimana persiapan secara teknis Dispar Sumbar dalam hal momen cuti Lebaran 2022 ini, dalam waktu dekat akan dibahas dengan gubernur atau wakil gubernur. Setelah itu akan disiapkan pula surat edaran yang nantinya di kirim ke 19 kabupaten dan kota di Sumbar. (k56).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar DESA WISATA
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top