Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Songket Batubara di Tengah Dua Kondisi, Penerus dan Pandemi

Songket Batubara punya ciri motif tersendiri. Berbeda dengan songket-songket dari daerah lainnya.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 02 Oktober 2021  |  19:11 WIB
Songket Batubara di Tengah Dua Kondisi, Penerus dan Pandemi
Wirna Sari (19) saat bertenun songket menggunakan alat tradisional di Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Sabtu (2/10/2021). - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara.
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN - Suwanti sibuk menyediakan sarapan untuk anak dan suami di rumah sederhana berdinding papan. Hari masih pagi kala itu. Setelah aktivitas rutin harian itu, saatnya Sang Ibu menjalani pekerjaan sekaligus hobinya, bertenun songket.

Suwanti merupakan satu dari ratusan ibu rumah tangga di Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, yang mengisi aktivitas sehari-hari dengan bertenun.

Perempuan berusia 47 tahun itu beranjak ke suatu pondok yang berada tak jauh dari kediamannya. Di pondok tersebut, terdapat sekitar delapan alat tenun terbuat dari kayu. Pabrik tenun tradisional ini dimiliki Makmur.

Di sini, Suwanti sudah ditunggu oleh enam penenun lainnya. Pasalnya, ia memegang peran penting dalam proses produksi songket di tempat ini, yaitu menentukan motif songket yang ditenun nantinya.

"Songket Batubara punya ciri motif tersendiri. Berbeda dengan songket-songket dari daerah lainnya. Membuat songket juga masih pakai cara yang diajarkan orang tua-orang tua kami dulu, masih pakai kayu-kayu begini," kata Suwanti kepada Bisnis, Sabtu (2/10/2021).

Terdapat beberapa tahap dalam proses produksi songket Batubara secara tradisional. Yakni tahap penggulungan benang, menyosok atau tahap memasukkan benang ke sisir khusus bernama karap, lalu tahap pembuatan motif atau mungut dan terakhir tahap bertenun.

"Bertenun songket ini intinya harus sabar. Kalau tidak pasti akan bosan dan susah membuatnya," kelakar Suwanti.

Kecamatan Talawi memang dikenal sebagai daerahnya para pengrajin songket Batubara. Mulai dari yang tua, hingga anak muda. Alasan mereka pun beragam. Ada yang menjadikannya sumber penghasilan utama. Namun ada pula yang sekadar menyalurkan hobi.

Walau berstatus sebagai warisan budaya nan melegenda, songket Batubara tetap tak luput dari ancaman. Di daerah ini, hanya tersisa tujuh wanita paruh baya yang benar-benar mahir dalam tahap penggulingan benang.

Meski terdengar sepele, tahap terawal dalam rangkaian produksi songket ini ternyata begitu sukar. Tak heran cuma segelintir saja yang mahir melakukannya.

Satu dari tujuh spesialisasi penggulung benang songket Batubara yang tersisa adalah Misnah. Usianya kini menginjak 62 tahun. Walau fisiknya tak lagi sekuat dulu, ketajaman mata serta kelihaian jemari Misnah tak perlu diragukan lagi.

Maklum saja, ia belajar tenun songket sejak umur 13 tahun. "Tinggal sedikit yang pandai gulung benang ini. Padahal kelihatannya mudah ya," jelasnya.

Di pelosok kampung, Zainab Saragih juga sudah setengah abad menekuni tenun songket. Dia merupakan satu di antara penenun tertua.

Bagi perempuan berusia 67 tahun ini, bertenun bagai makanan wajib tiap hari. "Kalau di rumah itu gak menyongket itu rasanya ada yang kurang. Memang hobi dari kecil dulu," kata Zainab menggunakan bahasa daerah.

Zainab memiliki delapan anak. Beruntung, ada beberapa di antara anaknya yang kini juga pandai bertenun. Semua itu diajarkan langsung oleh Zainab.

"Karena kalau tidak sabar itu memang susah mempelajari tenun ini. Kadang ada yang mau awalnya, tapi baru sebentar saja sudah bosan. Kalau anak-anak sekarang sudah jarang yang mau belajar," kata Zainab.

Suwanti (47) menggambar motif songket Batubara di kediamannya Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Sabtu (2/10/2021)./Bisnis-Nanda Fahriza Batubara

Zainab bukan satu-satunya orang tua yang mewariskan keahlian bertenun kepada anak. Tepat di tepi jalan, terlihat tiga gadis tampak fokus belajar tenun songket.

Mereka merupakan contoh anak muda yang memeroleh keahlian bertenun dari orang tua. Angin segar sekaligus harapan di tengah ancaman terhadap kelestarian warisan nenek moyang.

"Awalnya dari orang tua. Dulu sering melihat ibu di sini kerja menyongket. Jadi lama-lama saya tertarik. Waktu pertama saya coba, memang susah. Tapi pelan-pelan jadi malah suka sekali," kata Wirna Sari, gadis berusia 19 tahun.

Wirna dan teman-temannya belajar tenun songket di pondok milik Makmur, suami dari Wan Aisyah.

Sejak lima tahun belakangan, Makmur berjuang meneruskan usaha mertua. Mereka membuka usaha mikro kecil menengah ini tepat di samping rumah.

Harga yang dipatok untuk satu helai songket beragam. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta.

Sebelum pandemi Covid-19, Makmur memperkerjakan 50 perajin songket. Kini, jumlah itu berkurang. Alasan utamanya adalah pemasaran yang tidak selancar dulu.

"Sekarang sulit menjualnya. Kalau dulu setelah kami jual ke Medan, mereka jual bisa sampai ke luar negeri. Sekarang pesanan berkurang. Maka itu terpaksa pekerja saya banyak yang stop dulu," kata Makmur.

Dampak dari pandemi ini tidak main-main bagi Makmur. Dia bahkan terpaksa memakai sumber penghasilan lain demi menutupi gaji para karyawannya.

"Sekarang ini berjuang untuk bertahan saja sangat berat. Tapi kita coba pelan-pelan, semoga saja bisa seperti dulu lagi," kata Makmur mengakhiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut kerajinan songket Features
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top