Buah Simalakama Pariwisata dan Harga Tiket Pesawat

Sejumlah laporan menyebutkan faktor mahalnya tiket pesawat mulai berimbas terhadap tingkat kunjungan wisatawan domestik di sejumlah bandara nasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  09:56 WIB
Buah Simalakama Pariwisata dan Harga Tiket Pesawat
Pengunjung menikmati kawasan pedestrian Jam Gadang, di Bukittinggi, Sumatera Barat, Minggu (24/2/2019). Revitalisasi pedestrian Jam Gadang tersebut rampung dan fasilitasnya kini bisa dinikmati pengunjung serta masyarakat, meliputi kawasan ramah disabilitas, taman bunga, lampu hias, dan air mancur. - Antara/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, PADANG — Sejumlah laporan menyebutkan faktor mahalnya tiket pesawat mulai berimbas terhadap tingkat kunjungan wisatawan domestik di sejumlah bandara nasional.

Meski secara ekonomi, banyak yang mahfum bahwa pariwisata merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, bila maskapai menurunkan tarif pesawat maka bisa terancam bangkrut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan, percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah bisa dilakukan dengan mendorong dua sektor utama yaitu industri dan pariwisata.

Hanya saja tidak semua daerah cocok untuk industri, tetapi kemungkinan bisa ditumbuhkan menjadi daerah penyangga bagi bahan baku, karena industri pasti butuh bahan baku.

Adapun daerah lain mungkin bisa mengembangkan pariwisata yang juga bisa memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi bagi daerah.

Untuk sektor ini perlu disiapkan kematangan masyarakat dalam menerima kunjungan wisatawan. Keramah-tamahan harus dikedepankan demikian juga perilaku bersih juga tata ruang daerah sebagai penunjang pariwisata.

"Beberapa daerah seperti Sumatera Barat merupakan contoh yang susah tumbuh industri, tetapi bisa mengembangkan pariwisata karena punya potensi untuk itu," kata Wapres pekan lalu.

Adapun soal maskapai, tiket mahal bisa diatasi dengan menyeimbangkan daya beli masyarakat dan keuntungan maskapai.

"Artinya tidak memberatkan masyarakat tetapi juga bisa menghidupi maskapai," katanya di sela-sela Rapat Kerja nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Padang, Sumatera Barat, Kamis.

Wapres menyebutkan, penerbangan murah atau Low Cost Carrier (LCC) terbukti lebih banyak membuat maskapai bangkrut dari pada tumbuh, sebut saja Mandala, Batavia Air, Adam Air, dan banyak maskapai sejenis.

Beberapa maskapai lain sekarang juga telah bergabung dan berada dalam dua grup saja, Garuda Indonesia dan Lion Air Group.

Menurut Wapres, jika dipaksa terus untuk menerapkan tiket murah, kemungkinan dua maskapai yang masih ada bisa bangkrut juga hingga pesawat untuk melayani penerbangan di Indonesia tidak ada lagi.

Persoalan tingginya harga tiket sudah menjadi keluhan masyarakat secara nasional yang direpresentasikan oleh sebagian gubernur pada Rakernas APPSI 2019.

Sektor pariwisata disebut menjadi yang paling keras menerima imbas dari kebijakan tiket mahal itu.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan potensi pariwisata daerah itu lengkap mulai dari laut, lembah, perbukitan hingga gunung. Juga dilengkapi seni budaya memukau serta kuliner yang lezat.

Pengembangan sektor itu terus didorong di antaranya dengan menciptakan event pariwisata berkelas dunia dan bisa menarik wisatawan, juga pembenahan destinasi wisata yang ada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, padang

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top