Lampung Gelar Imunisasi Serentak Cegah Difteri

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae kini sedang menjadi perhatian serius pemerintah, dari pusat hingga daerah untuk melakukan pencegahan dan pengobatannya.
Newswire | 13 Desember 2017 09:01 WIB

Bisnis.com, BANDARLAMPUNG--Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae kini sedang menjadi perhatian serius pemerintah, dari pusat hingga daerah untuk melakukan pencegahan dan pengobatannya.

Provinsi Lampung pun melalui Dinas Kesehatan mengklaim sejak April 2017 telah melakukan sosialisasi kepada seluruh jajaran dinas kesehatan kabupaten/kota untuk melakukan imunisasi terhadap penyakit difteri yang saat ini sedang merebak di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana mengatakan, pihaknya sudah instruksikan kepada seluruh jajaran dinas kesehatan kabupaten/kota se-Provinsi Lampung untuk bisa melakukan sosialisasi terhadap puskesmas masing-masing untuk melakukan imunisasi difteri, apalagi yang saat ini sedang menjadi perhatian serius.

Menurutnya, di Provinsi Lampung terdapat tiga pasien yang terduga suspect difteri, yaitu dari Kabupaten Lampung Timur, Lampung Selatan dan Mesuji.

Hasil laboratorium di Jakarta, pasien dari Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan ini negatif, sedangkan satu pasien lainnya meninggal dunia, yaitu dari Kabupaten Mesuji yang terduga suspect penyakit difteri.

Selama dua bulan terakhir, lanjutnya, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus melakukan sosialisasi ke kabupaten/kota untuk mencegah banyaknya pasien difteri. Karena sudah ada tiga provinsi yang dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Reihana berharap jangan sampai menambah lagi korban jiwa akibat difteri ini. Dengan itu butuh dukungan semua pihak untuk mencegah penyakit difteri menyebar ke wilayah Provinsi Lampung dengan cara imunisasi di tempat yang telah disediakan, seperti posyandu, puskesmas, klinik, dokter dan sekolah.

Reihana menjelaskan, difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84 persen. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90 persen.

Reihana menjelaskan penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk dan barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

Banyak sekali gejala yang ditimbulkan akibat bakteri ini, lanjut dia, seperti terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas dan lelah. Jadi semua wajib mewaspadai penyakit ini dan segera lakukan imunisasi agar buah hati kesayangan kita tidak terkena penyakit tersebut.

Ia juga mengharapkan kepada seluruh orang tua untuk bisa membawa anak-anak ke posyandu, puskesmas, rumah sakit, klinik, bidan dan tempat kesehatan lainnya untuk dilakukan imunisasi agar tidak ada lagi masyarakat Lampung terkena penyakit tersebut, seperti yang sudah terjadi saat ini.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung Edwin Rusli menyatakan kota tersebut bebas dari virus difteri dan hal itu dinilai berkat upaya sosialisasi rutin dan imunisasi terjadwal bagi anak-anak.

Meskipun begitu, lanjut dia Dinkes Kota Bandarlampung tetap meningkatkan kewaspadaan.

Ia mengatakan seluruh puskesmas telah meningkatkan kewaspadaannya dan berbagai upaya telah dilakukan sebagai bentuk pencegahan.

Salah satunya dengan memberikan imunisasi kepada anak-anak, yang telah dilakukan pada awal bulan lima lalu. Capaian imunisasi sudah 100 persen dan dipastikan Bandarlampung khususnya aman dari virus difteri.

Imunisasi dijelaskannya, merupakan anti body pada tubuh agar lebih kuat sehingga dapat menangkap virus.

Ia melanjutkan, bahwa virus difteri paling rentan kepada anak usia di bawah 10 tahun, gejala yang ditimbulkan yakni biasanya terjadinya radang tenggorokan, adanya lapisan selaput tebal warna abu-abu pada tenggorokan, pembengkakan kelenjar leher, susah bernafas dan menelan makanan, ada lendir di bagian hidung, demam, batuk keras, dan gangguan penglihatan.

Terjadi pula tanda-tanda syok seperti kulit pucat, dingin berkeringat dan jantung berdebar cepat.

Jika kita merasa memiliki gejala di atas dianjurkan untuk segera menemui dokter untuk mendapatkan tindakan selanjutnya atau disarankan untuk segera pergi ke dokter.

Untuk pencegahan, imunisasi dasar lengkap yakni DPT-HP bisa dilakukan pada anak-anak, lalu imunisasi DT ketika anak menginjak usia sekolah dasar yang dilanjutkan dengan imunisasi TD.

Pencegahan cara lain yakni menjaga kebersihan lingkungan dan juga kebersihan tubuh, biasakan untuk mencuci tangan sebelum makan.

Ia menegaskan, yang paling penting yakni menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi.

Wali Kota Bandarlampung Herman HN menyatakan telah melakukan pencegahan dan saat ini sedang meminta vaksin.

Herman pun mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kebersihan.

Ia mengatakan, bahwa Bandarlampung terbebas dari virus difteri, terlebih pencegahan telah dilakukan khususnya terhadap anak-anak.

Begitu pun dengan Pemerintah Kabupaten Waykanan gencar melakukan pencegahan difteri.

Kepala Dinas Kesehatan Waykanan Farida Aryani mengatakan, pihaknya segera memanggil seluruh kepala Puskesmas untuk membahas imunisasi serentak guna mencegah berkembangnya difteri dan akan segera melakukan imunisasi serentak untuk mengantisipasi penyebaran penyakit difteri yang kini marak terjadi beberapa daerah di Indonesia.

Imunisasi ini perlu segera dilakukan, khususnya kepada balita dan anak-anak, apalagi menurut informasi telah ada warga di beberapa daerah terduga terkena difteri yang meninggal dunia.

Kabupaten Waykanan harus terbebas dan mencegah berkembangnya penyakit yang telah menjadi kejadian luar biasa (KLB) di beberapa daerah itu, ujar Farida.

Dinas Kesehatan dan jajaran puskesmas akan menggelar rapat untuk melakukan kegiatan imunisasi serentak di Kabupaten Waykanan. Imunisasi kemungkinan tidak hanya dilakukan di puskesmas tapi juga di posyandu, klinik, rumah sakit, bidan, sekolah dan beberapa tempat kesehatan lainnya.

Pihaknya pun akan melakukan "jemput bola" agar semua balita dan anak-anak bisa mendapatkan vaksin pencegahan difteri tersebut.

Ia minta kepada para petugas kesehatan hingga bidan desa lebih pro aktif melakukan jemput bola sekaligus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah difteri.

Farida menjelaskan, imunisasi difteri ini akan diberikan secara gratis, ini merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Pemkab Waykanan kepada seluruh masyarakat yang ada.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri "corynebacterium diphtheriae". Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri.

Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk, barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk dan sentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit penderita.

Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2-5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

Selain itu, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher.

Ia pun mengimbau segera periksakan diri ke dokter jika melihat gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi. Pencegahan untuk penyakit ini adalah dengan vaksin, pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP.

Sumber : Antara

Tag : Sky House BSD, Sky House BSD
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top