MGRO Siap Cetak Dollar Karbon dari Pabrik Sawit Terbarukan

Di era Society 5.0 yang mulai berkembang saat ini, bisnis agroindustri kelapa sawit tidak lagi sekadar bisnis mengolah kelapa sawit sebagai komoditi unggul
Foto: MGRO Siap Cetak Dollar Karbon dari Pabrik Sawit Terbarukan
Foto: MGRO Siap Cetak Dollar Karbon dari Pabrik Sawit Terbarukan

Bisnis.com, SUMATRA - Di era Society 5.0 yang mulai berkembang saat ini, bisnis agroindustri kelapa sawit tidak lagi sekadar bisnis mengolah kelapa sawit sebagai komoditi unggul yang memperkuat daya saing perekonomian Indonesia.

Lebih jauh, agroindustri kelapa sawit sudah mulai dikembangkan sebagai komoditi yang berdampak positif bagi lingkungan dan berkontribusi bagi penanggulangan dampak perubahan iklim global.    

PT Mahkota Group, Tbk (MGRO), salah satu perusahaan agroindustri kelapa sawit yang mulai menggarap konsep proyek green economy tersebut dengan mengusung program Integrated Sustainable Agro Industry.

Sebuah model industri inovatif yang menggabungkan keberlanjutan, efisiensi energi, energi terbarukan, dan nol emisi karbon. Melalui komitmen inovasi dan pengelolaan lingkungan yang bersinergi, model industri ini, MGRO mewakili visi masa depan fasilitas industri kelapa sawit terintegrasi, di mana keberlanjutan, produktivitas, dan tanggung jawab lingkungan berpadu dengan baik.

MGRO Siap Cetak Dollar Karbon dari Pabrik Sawit Terbarukan

Proyek Integrated Sustainable Agro Industry ini sejalan dengan perkembangan praktik bisnis di kalangan korporasi global yang semakin serius mengembangkan model bisnis ramah lingkungan dalam kerangka keberlanjutan eksistensi bisnis korporasi (Corporate  Sustainability). Keberlanjutan itu salah satunya dengan menjalankan konsep green economy, dimana tujuannya tidak saja untuk mengambil tanggungjawab bagi keselamatan bumi kita, namun juga menghasilkan potensi profit bagi perusahaan melalui program sertifikat kredit karbon dan budaya efisiensi konsumsi energi.

Direktur Utama PT Mahkota Group Tbk Usli Sarsi mengatakan MGRO memiliki pandangan yang kuat soal Corporate Sustainability yang didorong oleh United Nations Global Compact dan pemerintah Republik Indonesia bahwa budaya bisnis dan praktik bisnis perusahaan sudah harus menerapkan prinsip ekonomi hijau (green economy).

“Dalam pengembangan program Integrated Sustainable Agro Industry, MGRO memiliki potensi untuk meraih pengurangan emisi karbon sebesar 95.246 MTCO2 per tahun. Kami ingin berperan untuk menciptakan iklim bisnis yang ramah lingkungan dan memberikan keuntungan bagi pemegang saham dan karyawan kami. Proyek Integrated Sustainable Agro Industry yang kami jalankan itu sangat prospektif bagi kelangsungan perusahaan,” kata Usli, di Medan, pekan lalu.

Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan harga perdagangan kredit karbon pada uji coba untuk pembangkit listrik berkisar US$2 hingga US$18 per ton. Bahkan, harga perdagangan kredit karbon di Uni Eropa telah mencapai lebih dari US$80 per ton.

Ada satu pabrik MGRO yang siap beroperasi secara bertahap dengan konsep pemakaian energi baru dan terbarukan (EBT) pada pertengahan 2024 ini. Pabrik ini diproyeksikan langsung bisa berdampak bagi pengembangan pendapatan baru (revenue stream) untuk perusahaan.

Terobosan MGRO Untuk Masuk ke Green Economy

Ada beberapa proyek penting yang disiapkan MGRO dalam implementasi Integrated Sustainable Agro Industry, seperti,  pertama, pengurangan konsumsi solar industri untuk kebutuhan bahan bakar untuk kegiatan produksi dengan potensi penghematan biaya energi mencapai hingga Rp70 miliar per tahun. Pengurangan konsumsi solar industri dilakukan dengan mengganti sumber energi primer ke bahan bakar energi terbarukan biogas.

Kedua, pengembangan sumber energi dari penggunaan EFB (empty fruit bunches) atau tanda buah kosong (tankos) menjadi bahan bakar pengganti cangkang dengan menghasilkan penghematan dari sekitar Rp19,6 miliar per tahun. Sedangkan cangkang sendiri dijadikan sebagai komoditi yang dijual ke pasar ekspor dan domestik sehingga menghasilkan sumber pendapatan tambahan bagi MGRO.

Ketiga, pembuatan pupuk organik dari limbah kelapa sawit untuk kebutuhan kebun sendiri dan dijual ke pasar. Mahkota Group sudah sampai pada tahap rencana memproduksi pupuk organik limbah sawit dengan potensi nilai pendapatannya mencapai Rp132 miliar per tahun dengan asumsi harga pupuk organiknya sekitar Rp2.000 per kg. Menurut sebuah hasil penelitian, pupuk organik dari pengolahan limbah kelapa sawit ini dapat membantu pertumbuhan daun dan kualitas buah sawit yang lebih baik.

Corporate Secretary Mahkota Group Elvi mengatakan kebijakan bisnis dalam kerangka Corporate Sustainability dan program Integrated Sustainable Agro Industry telah menjadi komitmen bisnis bagi Mahkota Group.

MGRO telah menerapkan prinsip-prinsip pengolahan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan (sustainable palm oil), standar kerja yang tinggi dan juga membangun kemitraan dengan masyarakat sekitar. Keberhasilan PT Mahkota Group Tbk terbukti dengan diperolehnya sertifikasi ISO 9001:2015, 14001:2015 22000:2018, 45001:2018, 37001:2016, Halal, SNI, SMK3, ISCC dan ISPO pada anak perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

# Hot Topic

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper