Harga Karet: Sumsel Genjot Peningkatan UPPB

Oleh: Dinda Wulandari 24 April 2018 | 15:29 WIB
Harga Karet: Sumsel Genjot Peningkatan UPPB
Karet alam/Bisnis.com

Bisnis.com, PALEMBANG -- Sumatra Selatan mempercepat peningkatan jumlah unit pengolahan dan pemasaran bahan olah karet atau UPPB di setiap kecamatan penghasil karet dengan membentuk Asosiasi UPPB Sumsel.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan pihaknya ingin mewujudkan program bahan olah karet (bokar bersih) di setiap kecamatan melalui penguatan kelembagaan.

"Karena di tiap kecamatan belum ada jadi kami bentuk tingkat provinsi yang akan membawahi UPPB kabupaten dan selanjutnya kabupaten yang mendorong UPPB di kecamatan," jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (24/4/2018).

Menurut Rudi, semua desa yang memproduksi karet seharusnya membentuk UPPB. Disbun menghitung dengan luas areal kebun karet 1,3 juta hektare idealnya terdapat 3.000 UPPB yang menjadi wadah petani untuk membentuk harga jual komoditas andalan Sumsel itu.

"Namun jumlah UPPB yang ada baru sedikit hanya 152 makanya kami ingin mempercepat melalui penguatan kelembagaan, salah satunya dengan Asosiasi UPPB Sumsel," katanya.

Rudi menerangkan nantinya tidak hanya dinas perkebunan provinsi atau kabupaten yang terlibat dalam perbaikan harga maupun peningkatan kualitas bokar petani melainkan camat dan kepala desa juga aktif, tidak menutup kemungkinan program karet di kecamatan bisa ditingkatkan melalui pemanfaatan dana desa.

Dia mengemukakan selain bermanfaat terhadap posisi tawar petani dalam pembentukan harga melalui skema lelang, UPPB juga bisa mendorong penyeragaman mutu bokar.

"Kami juga ingin nantinya di tiap kecamatan memiliki sistem satu harga, satu mutu dan satu hari lelang," jelasnya.

Dia mengatakan selama ini hari lelang berlangsung tidak seragam di tiap kelompok tani atau UPPB, sehingga pengepul memiliki kesempatan mencari harga yang lebih murah.

"Jika hari lelangnya sama semua maka petani tidak perlu mengejar pengepul lagi, selama ini seperti arisan saja, digilir tiap UPPB," katanya.

Sementara itu Hidayat Lismanto, petani dari UPPB Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin, mengatakan pihaknya mampu menjual bokar senilai Rp9.736 per kilogram.

"Kalau tidak bergabung di UPPB harga jual bisa jauh lebih rendah, bahkan ada petani yang jual cuma Rp6.500 per kg," katanya.

Dia mengatakan pihaknya berharap pemerintah bisa merangsang petani lainnya untuk mau bergabung di UPPB dengan memberikan semacam reward bagi mereka yang bergabung.

"Supaya yang lain tertarik karena masih banyak yang belum gabung, rewardnya bisa berupa pembeku karet dan lain lain," ujarnya.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya