Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Angin Segar, Ekspor Karet Sumut Naik 41 Persen pada Juni 2022

Peningkatan ini menjadi kabar gembira setelah kinerja ekspor karet Sumatra Utara konsisten merosot sejak April 2020 lalu.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 11 Juli 2022  |  13:40 WIB
Angin Segar, Ekspor Karet Sumut Naik 41 Persen pada Juni 2022
Buruh mengumpulkan hasil sadapan getah karet ke atas truk di perkebunan karet Pasir Ucing, Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Bisnis - Rachman
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN — Volume ekspor karet Sumatra Utara tercatat sebanyak 36.734 ton pada Juni 2022. Jumlahnya meningkat 41 persen dari Mei 2022 yang tercatat sebanyak 26.051 ton.

Peningkatan ini menjadi kabar gembira setelah kinerja ekspor karet Sumatra Utara konsisten merosot sejak April 2020 lalu.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah, mengatakan peningkatan ekspor pada Juni 2022 didongkrak oleh permintaan pabrik ban mancanegara. Umumnya, perusahaan akan mengimpor karet impor tiap pergantian semester untuk cadangan atau stok.

"Adanya peningkatan ini di antaranya disebabkan peningkatan permintaan dari pabrik ban. Permintaan di akhir Semester 1/2022 biasanya untuk menjaga stok," kata Edy melalui keterangan tertulis, Senin (11/7/2022).

Faktor lain yang turut mendongkrak kinerja ekspor karet Sumatra Utara pada Juni 2022 adalah pergeseran delay shipment. Pengiriman karet yang mengalami penundaan ekspor dialihkan ke bulan tersebut.

Sementara itu, 342,72 ton karet ekspor dalam 17 unit kontainer hingga kini masih ikut ditahan dalam kapal feeder Mathu Bhum sejak 4 Mei 2022.

"Permintaan di akhir semester satu biasanya untuk menjaga stok. Selain itu akibat adanya delay shipment pada Mei digeser ke Juni. Pada bulan Juli juga masih ada delay shipment," kata Edy.

Berdasar catatan Gapkindo, total volume ekspor karet Sumatra Utara berjumlah 189.605 ton pada semester 1/2022. Angkanya meningkat 1,24 persen secara year on year (you) atau dibanding semester 1/2021 lalu. "Melihat perkembangan ini, ada potensi volume ekspor Semester 2/2022 juga membaik," kata Edy.

Pada Juni 2022, terdapat 31 negara tujuan ekspor karet Sumatra Utara. Rusia, yang sempat masuk dalam daftar, hingga kini belum kunjung kembali mengimpor karet dari Sumatra Utara.

Adapun lima negara tujuan ekspor utama karet Sumatra Utara pada Juni 2022 lalu adalah Jepang sebanyak 26,46 persen, disusul Brazil sebanyak 11,21 persen, lalu Amerika Serikat sebanyak 9,77 persen, kemudian Turki sebanyak 7,79 persen dan China sebanyak 7,63 persen.

"Di mana Rusia belum juga termasuk di dalamnya," kata Edy.

Pada Mei 2022, volume ekspor karet Sumatra Utara tercatat 26.051 ton. Jumlahnya merosot 17,6 persen dari catatan volume ekspor April 2022. Penurunan yang sama sebenarnya juga terjadi pada Mei 2021 lalu. Kala itu, penurunan tajam disebabkan jumlah delay shipment meningkat akibat kelangkaan kontainer.

Pada Mei 2022, terdapat 27 negara tujuan ekspor karet Sumatra Utara. Yakni Jepang sebesar 28,74 persen, Amerika Serikat sebesar 14,21 persen, lalu Brazil sebesar 10,54 persen, Turki sebesar 7,34 persen dan China sebanyak 7,04 persen.

Menurut Edy, penurunan ekspor pada Mei 2022 disebabkan oleh pengurangan permintaan buyer dari kalangan pabrik ban dunia. "Bila diperhatikan secara global, pembelian dari pihak buyer ke Indonesia berkurang, namun ke negara produsen karet lainnya meningkat," kata Edy.

Menurutnya, banyak pabrik ban dunia cenderung membeli dan mengimpor karet asal Thailand. Hal ini disebabkan faktor harga yang lebih murah dibanding Indonesia. "Penurunan volume ekspor juga dipengaruhi adanya sedikit delay shipment," kata Edy kala itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet harga karet sumut
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top