Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

342 Ton Karet Sumut yang Tertahan di Kapal MV Mathu Bhum Ternyata Pesanan Pabrik Ban Dunia

Sebanyak 342,72 ton karet asal Sumatra Utara yang awalnya hendak diekspor kini masih tertahan dalam 17 unit kontainer di kapal MV Mathu Bhum.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 26 Juni 2022  |  21:25 WIB
342 Ton Karet Sumut yang Tertahan di Kapal MV Mathu Bhum Ternyata Pesanan Pabrik Ban Dunia
Ilustrasi - Buruh mengumpulkan hasil sadapan getah karet ke atas truk di perkebunan karet Pasir Ucing, Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, MEDAN - Sebanyak 342,72 ton karet asal Sumatra Utara yang awalnya hendak diekspor kini masih tertahan dalam 17 unit kontainer di kapal MV Mathu Bhum.

Kapal tersebut ditahan TNI Angkatan Laut saat mau berlayar membawa 34 kontainer berisi Refined, Bleached, Deodorized (RBD) Palm Olein dari Pelabuhan Belawan, Kota Medan, ke Pelabuhan Klang, Malaysia pada Rabu (4/4/2022) lalu.

Belakangan diketahui bahwa 342,72 ton karet tersebut merupakan pesanan sejumlah pabrik ban internasional. Antara lain Goodyear, Michelin, Yokohama. Karet-karet itu kabarnya bakal dikirim ke Amerika Serikat, India, Kolombia, Romania, dan Argentina.

Hal ini dibeberkan oleh Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah melalui keterangan tertulis yang dikutip Minggu (26/6/2022).

"Semua karet yang diekspor merupakan bahan baku ban adalah pesanan buyer dari pabrik ban besar dunia, di antaranya Goodyear, Michelin, Yokohama. Jumlahnya 342,72 ton atau 17 kontainer," kata Edy.

Menurut Edy, pihak buyer kini mempertanyakan status komoditas yang mereka pesan. Sebab terhitung sudah 52 17 unit kontainer berisi karet tersebut tertahan di pelabuhan.

"Para buyer meminta eksportir menginformasikan bila kapal telah diberangkatkan dari Belawan. Namun, pihak eksportir sama sekali belum dapat menyampaikan informasi terkait hal ini karena respon operator kapal belum ada kepastian," kata Edy.

Sejak Rabu (4/4/2022) lalu, TNI Angkatan Laut menahan kapal MV Mathu Bhum milik perusahaan asal Singapura di Pelabuhan Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara, karena diduga mau menyelundupkan 34 unit kontainer RBD Palm Olein ke luar negeri.

Kala itu, pemerintah masih melarang sejumlah bahan baku minyak goreng untuk diekspor. Komoditas RBD Palm Olein dalam kapal tersebut dimiliki tiga perusahaan dengan jumlah bervariasi.

Ketiganya adalah PT Permata Hijau Group, PT Inno-Wangsa Oils and Fats dan PT Multimas Nabati Asahan. Masing-masing memiliki RBD Palm Olein sebanyak lima unit kontainer, kemudian 15 unit kontainer dan 14 unit kontainer.

Lebih dari sebulan berlalu, ujung penanganan perkara itu belum jelas. Di sisi lain, sejumlah pihak mulai merasa keberatan karena barangnya ikut ditahan dalam kapal meski tidak berkait paut dengan bahan baku minyak goreng.

Seperti diketahui, 34 unit kontainer berisi RBD Palm Olen terdapat diangkut bersamaan dengan 402 unit kontainer berbagai komoditas lainnya. Termasuk karet.

Edy mengatakan, perdagangan karet dalam pasar internasional tunduk pada kontrak yang diatur oleh International Rubber Association (IRA).

Selain itu, terdapat pula perjanjian lainnya yang terikat dengan kontrak dagang internasional. Antara lain konvensi CISG 1980 dan the UNIDROIT Principle of International Contracts tahun 1994.

Pada tanggal 2 September 2008 silam, Indonesia telah mengesahkan Statuta UNIDROIT dengan Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2008 tentang Pengesahan Statute of The International Institute For The Unification of Private Law. Menurut Edy, satu di antara prinsipnya adalah kepastian hukum.

"Apabila dalam waktu dekat ini barang ekspor tersebut masih ditahan, maka perwakilan eksportir sedang mempersiapkan diri untuk menemui Presiden RI untuk menyelesaikan permasalahan ini," katanya beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, volume ekspor karet Sumatra Utara tercatat 26.051 ton pada Mei 2022. Jumlahnya anjlok 17,6 persen dibanding April 2022.

Kurun Januari - Mei 2022, volume ekspor karet Sumatra Utara tercatat 152.872 ton. Jumlah ini juga turun 3,07 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Menurut Edy, penurunan volume ekspor karet pada Mei 2022 terbilang siginifikan alias tajam.

Kondisi serupa, menurut Edy, sebenarnya juga terjadi pada periode yang sama tahun lalu. Penyebab kala itu adalah faktor teknis seperti delay shipment akibat kelangkaan kontainer.

"Anjloknya volume ekspor karet Sumatra Utara Bulan Mei sangat tajam," kata Edy.

Menurut Edy, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kinerja ekspor karet Sumatra Utara tetap merosot pada Mei 2022. Penyebab utamanya masih soal permintaan buyer dari pabrikan ban yang semakin berkurang.

Secara global, kata Edy, pembelian dari pihak buyer ke Indonesia juga berkurang. Namun kondisi berbeda dialami negara produsen karet lainnya.

Saat ini, pabrik ban dunia masih cenderung memilih membeli karet dari negara tetangga, Thailand. Hal ini dikarenakan harganya lebih murah ketimbang Indonesia.

"Penurunan volume ekspor juga dipengaruhi adanya sedikit delay shipment," kata Edy.

Di sisi pasokan, lanjut Edy, produksi perkebunan karet mengalami sedikit gangguan. Kondisi ini dipengaruhi oleh peningkatan frekuensi curah hujan.

Pada Mei 2022, terdapat sejumlah negara tujuan ekspor karet dari Sumatra Utara. Antara lain Jepang dengan persentase 28,74 persen, kemudian Amerika Serikat sebanyak 14,21 persen, Brazil sebanyak 10,54 persen, lalu Turki sebanyak 7,34 persen dan China sebanyak 7,04 persen.

Kuasa hukum PT Region Container Line Landen Marbun membantah awak kapal kliennya tidak mengantongi izin berlayar. Dia juga mengklaim izin ekspor RBD Palm Olein oleh tiga perusahan yang menyewa kapal mereka sudah lengkap dan tidak menyalahi aturan.

Menurut Landen, ketiganya telah mengantongi dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dan Nota Pemberitahuan Ekspor dari pihak Bea Cukai.

Izin-izin itu sudah terbit pada 25 - 26 April 2022, tepatnya dua hari sebelum larangan ekspor CPO dan produk turunnya berlaku pada 28 April 2022 sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2022.

Di sisi lain, menurut Landen, Pasal 6 pada peraturan tersebut juga memberi kelonggaran khusus bagi eksportir yang telah mendapatkan nomor pendaftaran pemberitahuan pabean ekspor sebelum 27 April 2022.

"Karena mereka sudah urus pemberitahuan ekspor barang ini sebelum berlaku aturan itu. Nah barang kali ada salah tafsir, menurut kami ada yang tidak utuh di sini," kata Landen kepada Bisnis, Selasa (17/5/2022).

Kendati begitu, Landen mengatakan bahwa pihaknya akan tetap kooperatif mengikuti proses hukum. Akan tetapi, dia berharap penanganan 34 kontainer RBD Palm Olein itu tidak mengganggu proses ekspor keseluruhan.

Menurut Landen, ada berbagai komoditas pertanian dan kelautan yang diangkut 402 unit kontainer lainnya dalam kapal tersebut. Pencekalan dalam waktu lama berpotensi menimbulkan kerugian eksportir mencapai lebih dari Rp153 miliar.

"Artinya, kalau ada yang bermasalah, ya monggo. Dipisahkan saja. Yang lain itu kan tidak," kata Landen.

Menurut Panglima Komando Armada TNI AL Laksamana Madya Agung Prasetiawan, penangkapan berawal dari informasi intelijen Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut I Belawan. Saat ini, awak kapal tengah diperiksa lebih lanjut.

"Kami menemukan 34 kontainer yang berisikan RBD Palm Olein yang merupakan barang yang dilarang sementara untuk diekspor," kata Agung saat konferensi pers pada Jumat (6/5/2022) petang.

Agung menceritakan, kapal MV Mathu Bhum dihentikan petugas TNI AL saat hendak berlayar di perairan Belawan pada Rabu (4/4/2022) lalu.

"Tindakan yang dilakukan oleh TNI AL pada dasarnya sudah sesuai dengan tugas TNI AL dalam penegakan hukum di laut," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet sumut ekspor karet gapkindo
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top