Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menghancurkan Kutukan 'Miskin' di Desa Talang Babungo

Kemiskinan yang melanda Desa Tabek, Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, sudah melebihi usia seabad. Padahal di desa itu, memiliki sumber alam yang kaya. Apakah hal itu sebuah kutukan?
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  13:38 WIB
Salah satu kawasan pertanian di Desa Tabek, Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, yang memiliki pondok identik dengan budaya Minangkabau.  - Bisnis/Noli Hendra
Salah satu kawasan pertanian di Desa Tabek, Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, yang memiliki pondok identik dengan budaya Minangkabau. - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, SOLOK - Kemiskinan yang melanda Desa Tabek, Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, sudah melebihi usia seabad. Padahal di desa itu, memiliki sumber alam yang kaya. Apakah hal itu sebuah kutukan?

Kasri, seorang anak kampung yang dibesarkan di Desa Tabek, dan juga dipercaya menjadi Ketua Kampung Berseri Astra (KBA) oleh PT Astra International Tbk, tahu betul bagaimana kondisi kampungnya itu dahulu dan sekarang.

"Dulu orang pada enggan datang ke Desa Tabek ini. Karena benar-benar sangat jauh, dan tidak ada yang menarik di desa ini. Masyarakatnya hidup dalam kondisi miskin," katanya kepada Bisnis, Rabu (30/12/2020).

Desa Tabek yang berada di arah selatan Kabupaten Solok ini tidaklah terlalu sulit untuk diakses. Setidaknya butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai di Desa Tabek bila berangkat dari Kota Padang, dan itu sewaktu kondisi jalan masih sempit dan buruk alias belum di aspal ataupun di beton.

Dimana estimasi waktu perjalanan 2 jam dari Padang hingga ke Pasar Alahan Panjang, dan 30 menit lagi dari Pasar Alahan Panjang untuk sampai ke Desa Tabek.

"Kalau sekarang, semenjak desa kami maju, perjalanan dari Pasar Alahan Panjang ke Tabek sekitar 20 menit saja, karena kondisi jalan telah bagus, ada yang di aspal ada yang di beton," ungkapnya.

Kasri mengaku memang tidak mudah hidup di deerah tertinggal. Perekonomian menjadi tantangan bagi masyarakat di Tabek.

Hasil panen sulit untuk dipasarkan langsung keluar dari desa itu, karena tidak ada armada untuk mengangkut hasil pertanian tersebut ke pasar.

Palingan sepeda motor butut bisa dikerahkan, namun bakal tidak optimal, karena hasil pertanian yang dibawah cukup banyak, seperti beras, tebu, jagung, dan sayur-sayuran lainnya.

Menghantarkan hasil panen secara langsung ke pasar, dari satu sisi dapat mengangkat nilai jual. Tapi hal itu sulit terwujud. Hingga akhirnya petani di Tabek harus menjual hasil panen dengan harga yang murah kepada pengumpul yang datang langsung ke desa mereka.

Inilah salah satu sebab, ekonomi di Desa Tabek sulit tumbuh. Kendati memiliki hasil panen yang melimpah, tapi tidak diiringi dengan kondisi harga yang baik.

"Sudah lah ekonomi sulit, dulu itu karakter masyarakat juga abai soal lingkungan. Jadi memang tidak ada yang menarik di Desa Tabek ini. Makanya saya merasa resah dengan kondisi itu, dan hingga akhirnya saya mengajak pemuda mengubah Desa Tabek untuk bergerak membawa perubahan," ujarnya.

Kondisi kemiskinan yang terjadi di Solok, disebut-sebut sudah terasa sejak dimasa penjajahan Jepang dahulu. Sejak itu hingga tahun 2015 silam pola pikir masyarakat untuk berupaya bangkit terlihat sulit.

Seakan adanya pemikiran kosong bagi masyarakat di Desa Tabek. Entah apakah itu sebuah kutukan, sehingga kemiskinan begitu sulit dientaskan.

Hadirnya Astra Runtuhkan Kutukan

Kasri bersama pemuda di Tabek sepakat untuk mengubah kampung halamannya dari kondisi kemiskinan dan ketertinggalannya itu. Cara yang dilakukan adalah mengundang pihak luar untuk bisa membantu Desa Tabek menjadi desa yang sejahtera.

Hingga suatu ketika, Kasri mendapat informasi bahwa PT Astra International Tbk memiliki sebuah program yakni Kampung Berseri Astra (KBA). Informasi itu seakan menjadi secercah harapan untuk meruntuhkan kutukan kemiskinan di Desa Tabek.

Bersama pemuda lainnya, Kasri pun menyiapkan proposal yang membahas terkait kondisi potensi di desa Tabek kepada pihak Astra. Memang, Kasri sangat berharap betul dengan Astra, karena KBA baginya seakan menjadi pelabuhan terakhir untuk mengubah kampung halamannya itu.

Persis di akhir tahun 2015 silam, akhirnya PT Astra Internasional Tbk menjadikan Desa Tabek Talang Babungo menjadi KBA. Tabek menjadi satu-satunya desa di Sumatra Barat yang dipilih oleh Astra.

"Ketika itu dimana di awal tahun 2016 KBA baru optimal berjalan di Tabek. Saya mengikuti sejumlah rangkaian program itu, seperti yang menjadi pedoman untuk mengubah Tabek melalui 4 pilar, yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan ekonomi," ujarnya.

Dengan adanya kepercayaan dari Astra, Kasri bersama pemuda yang tergabung dalam anggota KBA di Tabek, secara perlahan-lahan mereka mulai membenahi satu per satu hal yang selama ini dianggap jadi sumber permalasahan.

Mengingat perekonomian menjadi salah satu penyebab dari kondisi di Desa Tabek itu, Kasri pun berupaya untuk memperkuat perekonomian masyarakat desa melalui pendirian berbagai usaha, seperti pabrik tebu, homestay, dan pabrik gula semut dari aren.

Alasan perlu adanya pabrik tebu, karena ada sekitar 600 hektar perkebunan tebu di desa itu dari luas desa 5.000 meter persegi. Sehingga pengelolahan tebu menjadi sebuah usaha yang potensial untuk dikembangkan.

Dalam menyiapkan sumber daya manusianya agar pabrik itu berjalan optimal, masyarakat pun turut dibantu dari perguruan tinggi ternama yakni Universitas Andalas Padang.

Sementara untuk pendanaan pabrik tabu itu dibantu oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) ED Tabek. Artinya semua pihak turut bersemangat membantu langkah awal perbaikan ekonomi di Desa Tabek.

"Saya pun bersemangat melihat banyak dukungan. Astra melalui KBA membuka jalannya, dan pihak lainnya care kepada kami. Hingga akhirnya sampai saat ini pun pabrik tebu terus berproduksi," sebut dia.

Semenjak adanya pabrik tebu, masyarakat pun terlihat begitu antusias untuk menebang tebu-tebu mereka di kabun dan dihantarkan langsung ke pabrik. Berbeda ketika dulu, tebu-tebu mereka seakan dibiarkan tumbuh hingga menua. Sebanya harga yang terlalu murah dibeli oleh orang luar desa yang datang langsung ke Tabek.

Produksi Gula Semut

Melihat hasil pabrik tebu yang memproduksi gula merah cukup menggembirakan. Kasri pun melihat potensi hasil alam yang bisa dikelolah seperti sebuah pabrik mini. Hingga akhirnya menemukan batang aren, yang ternyata banyak tumbuh di daerah itu.

"Untuk gula semut itu, alatnya juga dibantu oleh Astra. Memang kita yang minta, dan akhirnya dipenuhi. Alhmadulillah, adanya alat memproduksi gula semut ini, membuat bapak-bapak di desa ini jadi bersemangat untuk mengambil air aren atau nira," jelasnya.

Di Desa Tabek itu diperkirakan ada ratusan batang aren yang tumbuh di atas milik warga. Kendati tumbuhnya tergolong secara liar dan bukan sengaja ditanam, tapi untuk menentukan hak milik aren itu, bila batang arennya tumbuh di dalam si pemilik lahan.

Per harinya ada sekitar 15 liter air nira yang bisa dipenan dengan masa panen dua kali sehari yakni waktu pagi dan sore harinya.

Harga yang air nira per liternya yang dibeli oleh KBA cukup menggiurkan yakni Rp30.000 per liternya. Dengan harga yang demikian, membuat tanaman aren seakan menjadi sumber mata pencarian yang baru bagi masyarakat di Desa Tabek.

Tuti Marlina (34) yang ditugaskan untuk mengoperasikan pabrik gula semut menjelaskan bahwa untuk memproduksi gula semut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Setidaknya menghabiskan waktu dua hari, untuk bisa melihat hasil nira atau masyarakat Miangnya menyebut air niro menjadi gula semut.

"Kita itu memproduksi gula semutnya dalam 2 hari. Mulai dari memasang niro, mencetaknya, menjemurnya, dan hingga di open dengan waktu 12 jam. Jadi prosesnya memang memakan waktu yang lama," kata Tuti.

Tuti yang dipercaya untuk memproduksi gula semut sendiri di pabrik itu menyebutkan bahwa dalam waktu dua hari itu dia bisa memproduksi gula semut sebanyak 15 kilogram.

Dimana untuk mendapatkan gula semut 15 kilogram itu, Tuti mengelolah niro sebanyak 20 liter.

Proses awal yang dilakukannya yakni memasak niro dengan kuali selama 5 jam atau hingga bentuk niro itu menjadi kental. Setelah mengental lalu dicetak untuk dijemur hingga kondisi benar-benar tidak berair lagi.

"Penjemuran itu tergantung cuaca juga, kalau cuaca bagus, maka akan cepat pula kering. Karena kalau tidak kering, susah jadi gula semut, lengket-lengket jadinya," ujar dia.

Bila sudah dinilai kering, proses terakhir adalah memasukan bahan itu ke dalam open dengan suhu 70 derajat celcius dengan waktu selama 12 jam. Alasan perlu di open meski telah dijemur, agar kondisi jadi gula semut nanti benar-benar terurai dengan baik.

"Kalau sudah selesai di open, barulah kita lakukan proses penggilingan menjadi gula halus. Waktu di sini hanya 2 jam saja, maka kita sudah bisa melihat hasilnya yakni gula semut," sebutnya.

Untuk harganya memang terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan gula pasir yang dibuat dari tebu. Dimana untuk gula semut itu per kilogram nya mencapai Rp100.000.

Supaya gula semut tetap terjangkau untuk dibeli, Tuti juga menyediakan kemasan dengan berat 2 ons dengan harga Rp20.000. Kini gula semut KBA Tabek Talang Babungo telah dinikmati oleh masyarakat sekitar, serta turut dibeli oleh pihak PT Astra International Tbk.

"Gula semut ini masih bisa dikonsumsi dengan waktu 4-6 bulan bila di simpan di tempat suhu yang tidak panas," ungkapnya.

Tuti mengaku semenjak dia dipercaya untuk mengoperasikan pabrik gula semut itu, sedikit banyaknya telah turut membantu penghasilan bagi keluarganya, serta membantu memenuhi kebutuhan dua orang anaknya yang masih bersekolah.

Artinya perlahan tapi pasti, perekonomian masyarakat desa mulai membaik. Dari tadi yang acuh dengan potensi yang ada, kini semenjak adanya Astra melalui KBA di Tabek Talang Babungo, semangat untuk hidup sejahtera sangat kental terlihat.

"Ada yang mengejutkan dampak dari Astra itu ternyata. Perilaku masyarakat pun jauh berubah. Keramahan menjadi poin yang paling terlihat, dan berlanjut dengan cinta akan kebersihan lingkungan," ungkap dia.

Melihat adanya kesadaran ke arah yang lebih baik dari masyarakat, Kasri pun menggiring semangat itu untuk menata sejumlah sudut-sudut desa, yakni dengan menanam bunga-bunga di sepanjang jalan.

Seperti namanya desanya yakni Talang Babungo yang artinya berbunga, Tabek pun dipersiapkan menjadi desa tujuan wisata dengan konsep minat khusus.

Membangun Homestay

Dengan adanya menciptakan desa wisata, Kasri pun perlu mengambil langkah untuk menyediakan tempat penginapan dengan konsep desa. Artinya rumah-rumah penduduk pun di renovasi untuk dijadikan homestay.

Kasri sadar betul, bahwa untuk menjadi daerah tujuan wisata, maka tempat penginapan adalah syarat yang harus dipenuhi.

"Kalau mau jadi tempat wisata, harus ada penginapan seperti homestay. Apalagi desa ini jauh dari perkotaan, dan tidak mungkin juga harus bolak balik. Hingga akhirnya kini ada sekitar 45 kamar yang tersedia," katanya.

Diantara 45 kamar itu, dibagi dengan tipe A dan tipe B. Dimana untuk tipe A merupakan kelas penginapan VIP dengan biaya Rp170.00 per malamnya, dan tipe B Rp150.000 per malam nya.

Kasri menyebutkan semenjak adanya penginapan itu, tidak lama kemudian dengan bantuan promosi di media sosial, akhirnya Desa Tabek mendapat perhatian dari wisatawan yang masih bersifat lokal.

Bahkan banyak organisasi-organisasi yang sengaja datang ke Desa Tabek untuk berlibur dan memanfaatkan ketersediaan kamar yang ada.

Berwisata di Desa Tabek, tidak hanya soal menikmati keindahan alamnya saja, tapi juga bisa melakukan banyak hal, yakni berenang di sungai yang airnya begitu dingin, serta menikmati tebu manis dari perkebunan langsung.

"Jadi konsepnya itu wisata minat khusus," tegasnya.

Bahkan saking populernya Desa Tabek itu, ada beberapa kali rombongan dari wisatawan luar negeri juga datang ke Desa Tabek.

Bagi masyarakat di Desa Tabek, tentunya sebuah hal yang baru bisa melihat dan bertemu langsung dengan orang-orang luar negeri yang berkulit putih serta berbadan jangkung itu.

"Wisatawan asing ada, seperti dari Eropa dan bahkan dari Asia juga ada. Untuk potensi ini, kita pun berencana untuk memperbanyak jumlah kamar homestay nya," ujar Kasri.

Dengan adanya rasa semangat bersama dan bergotong royong untuk mengubah desa yang miskin menjadi desa yang sejahtera, kini Desa Tabek menjadi desa yang aman dan indah untuk didatangi.

Bahkan sebagai bentuk kepedulian pemerintah, Desa Tabek juga telah berhasil memperoleh penghargaan sebagai desa yang bersih melalui Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI belum lama ini.

Bagi Kasri, apa yang telah diperbuatnya itu, tak terlepas dari memahami dari konsep hidup nenek moyang yang dikenal dengan peribahasa Alam Takambang Jadi Guru.

Peribahasa inilah yang menjadi pedoman bagi masyarakat Minangkabau untuk bisa mengubah perekonomian di pedesaan ke kondisi lebih baik.

"Maksud pepatah itu adalah orang Minang belajar dari segala kejadian dan fenomena yang ada di alam, sehingga bisa hidup selaras dengan alam dan menjadi rahmat bagi seluruh alam," jelasnya. (k56).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top