Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Risiko dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat menyebutkan beberapa risiko dan potensi pertumbuhan ekonomi di Sumut pada tahun ini. Berikut perinciannya.

Bisnis.com, MEDAN--Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat menyebutkan beberapa risiko dan potensi pertumbuhan ekonomi di Sumut pada tahun ini. Berikut perinciannya. 

Menurutnya, di tahun ini, tensi pelambatan ekonomi dan perdagangan global masih akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara.

Adapun, di tahun ini, investor bakal menanti hasil pemilihan umum (pemilu). Faktor ketidakpastian ini akan menjadi risiko karena kegiatan investasi berkontribusi sebesar 32% terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Menurutnya, bila investor tak melanjutkan investasinya, kondisi tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi Sumut.

Seperti diketahui, pada 2018, pertumbuhan ekonomi di Sumut berada di level 5,18% sementara investasi yang terealisasi sebesar Rp24 triliun. 

"Bagaimana pengusaha-pengusaha itu apakah mereka masih akan terus melakukan investasi atau tidak? Kalau mereka akan investasi, artinya kita bisa capai," ujarnya. 

Pada tahun ini, katanya, penurunan volume perdagangan dunia terjadi secara global sebagai dampak pelambatan ekonomi dan perdagangan global.

Selain itu, perang dagang dan kebijakan proteksionisme masih menjadi faktor yang membayangi pertumbuhan ekonomi di Sumut. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumut sangat terikat dengan kondisi global karena masih mengandalkan komoditas mentah seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan karet. Adapun, bila dilihat dari pasar ekspornya, Sumut mengirim komoditasnya ke Amerika Serikat dan India.

"Adanya potensi terhadap penurunan-penurunan volume perdagangan dunia karena recovery yang tidak berjalan dengan baik dan juga ini perang dagang antara Amerika dan China," katanya. 

Lebih lanjut, dari sisi potensi, dia menilai rencana investasi di sektor infrastruktur bisa menjadi peluang agar pertumbuhan ekonomi di Sumut tetap terjaga.

Pasalnya, meskipun berada di kisaran 5%, trennya justru melambat bahkan bila dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu dengan pertumbuhan ekonomi 5,23%.     

Menurutnya, potensi datang dari pengerjaan Tol Trans Sumatra, pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, pengembangan tahap II Pelabuhan Belawan, pengembangan Kawasan Danau Toba dan program ketenagalistrikan 35.000 MW.

Selain itu, faktor seperti penyaluran dana desa, inflasi yang terkendali, penerapan kebijakan bahan bakar nabati B20 yang membantu penyerapan pasokan CPO juga perbaikan harga komoditas. 

Potensi ini, katanya, menggerakkan kegiatan investasi dan konsumsi yang berkontribusi sebesar 55% terhadap pertumbuhan ekonomi. Meskipun, dia mengakui masih harus menanti apakah pemerintah yang baru akan melanjutkan kebijakan eksisting.  

"Apakah dilanjutkan oleh pemerintah baru atau tidak. [Bila dilanjutkan] artinya sumbangan dari investasi pasti akan lebih besar dibandingkan sekarang," katanya.  


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper