Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Risiko dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat menyebutkan beberapa risiko dan potensi pertumbuhan ekonomi di Sumut pada tahun ini. Berikut perinciannya.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 04 April 2019  |  12:02 WIB

Bisnis.com, MEDAN--Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat menyebutkan beberapa risiko dan potensi pertumbuhan ekonomi di Sumut pada tahun ini. Berikut perinciannya. 

Menurutnya, di tahun ini, tensi pelambatan ekonomi dan perdagangan global masih akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara.

Adapun, di tahun ini, investor bakal menanti hasil pemilihan umum (pemilu). Faktor ketidakpastian ini akan menjadi risiko karena kegiatan investasi berkontribusi sebesar 32% terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Menurutnya, bila investor tak melanjutkan investasinya, kondisi tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi Sumut.

Seperti diketahui, pada 2018, pertumbuhan ekonomi di Sumut berada di level 5,18% sementara investasi yang terealisasi sebesar Rp24 triliun. 

"Bagaimana pengusaha-pengusaha itu apakah mereka masih akan terus melakukan investasi atau tidak? Kalau mereka akan investasi, artinya kita bisa capai," ujarnya. 

Pada tahun ini, katanya, penurunan volume perdagangan dunia terjadi secara global sebagai dampak pelambatan ekonomi dan perdagangan global.

Selain itu, perang dagang dan kebijakan proteksionisme masih menjadi faktor yang membayangi pertumbuhan ekonomi di Sumut. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumut sangat terikat dengan kondisi global karena masih mengandalkan komoditas mentah seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan karet. Adapun, bila dilihat dari pasar ekspornya, Sumut mengirim komoditasnya ke Amerika Serikat dan India.

"Adanya potensi terhadap penurunan-penurunan volume perdagangan dunia karena recovery yang tidak berjalan dengan baik dan juga ini perang dagang antara Amerika dan China," katanya. 

Lebih lanjut, dari sisi potensi, dia menilai rencana investasi di sektor infrastruktur bisa menjadi peluang agar pertumbuhan ekonomi di Sumut tetap terjaga.

Pasalnya, meskipun berada di kisaran 5%, trennya justru melambat bahkan bila dibandingkan dengan kondisi lima tahun lalu dengan pertumbuhan ekonomi 5,23%.     

Menurutnya, potensi datang dari pengerjaan Tol Trans Sumatra, pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, pengembangan tahap II Pelabuhan Belawan, pengembangan Kawasan Danau Toba dan program ketenagalistrikan 35.000 MW.

Selain itu, faktor seperti penyaluran dana desa, inflasi yang terkendali, penerapan kebijakan bahan bakar nabati B20 yang membantu penyerapan pasokan CPO juga perbaikan harga komoditas. 

Potensi ini, katanya, menggerakkan kegiatan investasi dan konsumsi yang berkontribusi sebesar 55% terhadap pertumbuhan ekonomi. Meskipun, dia mengakui masih harus menanti apakah pemerintah yang baru akan melanjutkan kebijakan eksisting.  

"Apakah dilanjutkan oleh pemerintah baru atau tidak. [Bila dilanjutkan] artinya sumbangan dari investasi pasti akan lebih besar dibandingkan sekarang," katanya.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi ekonomi sumut
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top