Ini Alasan Utama Warga Membakar Saat Membuka Lahan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau menyatakan sampai saat ini budaya membuka lahan dengan cara membakar, masih diminati warga setempat, karena biayanya yang murah.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  16:43 WIB
Ini Alasan Utama Warga Membakar Saat Membuka Lahan
Api membakar semak belukar diatas lahan gambut yang terbakar di Kabupaten Kampar, Riau, Senin (24/7). - ANTARA/Rony Muharrman
Bisnis.com, PEKANBARU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau menyatakan sampai saat ini budaya membuka lahan dengan cara membakar, masih diminati warga setempat, karena biayanya yang murah.
 
Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger mengaku hal itu menjadi salah satu masih kendala yang dihadapi petugas saat memadamkan api di lahan yang terbakar.

"Membuka lahan dengan cara membakar masih diminati, sebab ini cara yang mudah, murah dan cepat. Makanya pelaku masih kucing-kucingan dengan petugas," katanya Rabu (20/2/2019).

Data BPBD Provinsi Riau menyatakan saat ini ada sekitar 188 desa rawan Karhutla di Provinsi Riau yang terdapat di 75 kecamatan. 

Dari total luasan lahan terbakar di Provinsi Riau sebanyak 841 hektar, Kabupaten Bengkalis masih memegang rekor sebagai daerah dengan sumbangan lahan terbakar paling luas, yakni sekitar 626 hektare.

Hal itu kata Edwar, disebabkan cuaca di wilayah utara Riau seperti Dumai, Bengkalis, dan Rokan Hilir tersebut sangat panas dan minim curah hujan.

"Memang hingga kini Bengkalis masih terbanyak menyumbang luasan lahan terbakar jika dibandingkan dengan daerah lain, karena cuaca panas bahkan tak ada hujan," katanya.

Adapun sebelumnya, status siaga darurat penanganan Karhutla di Riau secara resmi ditetapkan sejak 19 Februari hingga 31 Oktober 2019 mendatang. 

Hal ini dianggap sudah memenuhi syarat karena kini sudah ada 3 daerah di Provinsi Riau yang menetapkan status sama, yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
riau, hutan, kebakaran hutan

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top