Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kebakaran hutan Riau : Sumber Air Kering, Pemadaman Makin Sulit

Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Rokan Hilir, daerah pesisir Provinsi Riau, terkendala karena sulitnya mendapat sumber air di lokasi kebakaran lahan gambut.
Rustam Agus
Rustam Agus - Bisnis.com 16 Agustus 2018  |  15:20 WIB
Kebakaran hutan Riau  :  Sumber Air Kering, Pemadaman Makin Sulit
Kebakaran hutan dan lahan Riau
Bagikan

Bisnis.com, PEKANBARU - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Rokan Hilir, daerah pesisir Provinsi Riau, terkendala karena sulitnya mendapat sumber air di lokasi kebakaran lahan gambut.

"Kebakaran makin ke tengah jauh dari jalan dan tidak ada air. Itu kendala utamanya," kata Kepala Dusun Rantau Benuang, Ali Anas (56) ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Kamis.

Dusun Rantau Benuang adalah satu dari tiga dusun di wilayah administrasi Desa Tanjung Leban, Kacamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), yang kini dilanda kebakaran lahan. Berdasarkan data aparatur Desa Tanjung Leban, luas kebakaran di daerah itu sudah mencapai 900 hektare (ha).

Kebakaran lahan gambut juga meluluhlantahkan 20 rumah dan pondok milik warga. Lokasi terparah di Dusun Rantau Benuang karena ada 11 rumah yang terbakar, juga tiga sepeda motor dan satu mobil pickup turut dilalap si jago merah.

"Untuk membantu warga juga susah karena api juga membakar jalan," kata Ali Anas.

Dusun Rantau Benuang merupakan area permukiman dan kebun kelapa sawit swadaya. Lokasi tersebut merupakan salah satu daerah terpencil di pesisir Provinsi Riau, berjarak sekitar 260 kilometer dari Kota Pekanbaru. Mayoritas warga setempat berprofesi sebagai petani kelapa sawit.

Ia mengatakan, ketika warga berjibaku menyelamatkan lahan sawit, ternyata api merambat lewat bagian bawah lahan gambut dan menyambar rumah-rumah warga yang berdinding kayu. Warga juga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka, seperti sepeda motor yang masih ada di dalam rumah dan pekarangan juga lumat terpanggang.

"Kondisi warga memang panik fokus selamatkan ladang dan ada yang meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri. Jadi dia selamat, rumah tentunya tak terjaga lagi," katanya.

Sekretaris Desa Tanjung Leban, Wandri, mengatakan sedikitnya 400 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warga Desa Tanjung Leban terpapar asap. Kondisi seperti itu, lanjutnya, terakhir kali terjadi pada 2014.

Wandri menjelaskan kebakaran hebat melanda Desa Tanjung Leban sejak awal pekan ini. Sedikitnya 900 ha lahan gambut yang mayoritas telah ditanami sawit serta semak belukar hangus terbakar. Proses pemadaman masih terus dilakukan oleh tim satuan tugas Karhutla yang terdiri dari TNI, Polri dan masyarakat.

Ia menduga kebakaran tersebut disebabkan adanya pembukaan lahan baru yang dilakukan untuk perluasan perkebunan sawit. Namun, dia memastikan hal itu tidak dilakukan oleh warga setempat, melainkan pemilik lahan yang tidak tinggal di desa itu.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan sebanyak 100 titik panas masih terdeteksi di Rohil pada Kamis ini.

Selain itu, turut terpantau 21 titik panas lainnya menyebar di kabupaten tetangga seperti Dumai enam titik, Bengkalis lima titik serta Pelalawan empat titik dan Indragiri Hulu serta Indragiri Hilir masing-masing tiga titik.

Dari 100 titik panas di Rohil, sebanyak 86 di antaranya dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat adanya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan tingkat kepercayaan atau level of confidence di atas 70 persen.

"Titik api di Rokan Hilir ada 77 titik, Dumai lima titik, Pelalawan tiga dan Bengkalis satu titik api," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebakaran hutan riau

Sumber : Antara

Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top