Inflasi Lebaran, Cabai Merah Jadi "Kunci"

Oleh: Juli Etha Ramaida Manalu 07 Juni 2018 | 14:51 WIB
Inflasi Lebaran, Cabai Merah Jadi
Cabai merah/Ilustrasi-Bisnis

Bisnis.com, MEDAN — Pergerakan harga cabai merah diprediksi masih akan menjadi salah satu kunci laju inflasi di Sumatra Utara, khususnya Medan di samping penyaluran THR bagi para PNS yang meningkat nilainya dibanding tahun lalu.

Kepala Divisi Asesmen Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatra Utara Yura A Djanalis menyebutkan, berdasarkan data yang ada, pergerakan inflasi di Sumatra Utara selama Januari hingga Mei 2018 dipengaruhi naik turunnya harga cabai merah. Hal yang sama pun diprediksi masih akan terjadi pada Juni tahun ini.

“Karena kan kita lihat historisnya 2018, naik turunnya [inflasi] itu tergantung harga cabai merah. Ini kan kalau kita lihat di sini Sumut deflasi, ini cabai merah turun, terus naik lagi [inflasi] ini cabai merah juga ini naik. Jadi memang karakternya ini sangat kuat dipengaruhi cabai merah,” kata Yura sembari menunjukkan tabel pergerakan inflasi di Sumatra Utara, Rabu (6/6/2018).

Menurut Yura, naik turunnya harga cabai sendiri dipengaruhi ketersediaan yang ada di pasar. Kendati Sumut cenderung selalu memproduksi cabai dalam jumlah yang cukup bahkan lebih, terkadang wilayah ini bisa mengalami suplai di pasar karena menjadi salah satu sentra produksi untuk Indonesia.

Oleh karena itu, ketika sejumlah daerah lain di Indonesia mengalami kekurangan pasokan, cabai dari Sumatra Utara akan diserap untuk membantu memenuhi kebutuhan di tempat tersebut. Alhasil, ketersediaan cabai merah di Sumut pun menjadi tak seimbang dengan kebutuhan atau permintaan.

“Kita menjadi salah satu sentra produksi untuk Indonesia. Kalau di Jawa lagi ada gangguan, dikirim dari sini sehingga di sini kekurangan pasokan,” jelasnya.

Kebiasaan warga yang lebih memilih mengkonsumsi cabai segar juga kebiasaan tanam petani pun menjadi salah satu faktor. Kecenderungan petani untuk tidak menanam cabai di kala harga murah dan mulai menanam ketika harga beranjak tinggi menjadi salah satu hal yang memicu kelangkaan cabai pada waktu tertentu.

Padahal, dengan siklus tanam seperti ini, selain berpotensi memicu kekurangan cabai pada saat tertentu, potensi keuntungan petani pun bisa terlewatkan oleh masa tanam yang membutuhkan beberapa bulan agar cabai bisa dipanen.

Untuk itu, saat ini pihaknya sedang berusaha mencari cara agar ketersediaan cabai merah di Sumatra Utara bisa tersedia sepanjang waktu demi menahan laju harga cabai yang melonjak di saat-saat tertentu.

“Itu yang sedang dibahas, kalau disimpan cabai itu enggak tahan lama. Di Jakarta dipakai control atmosphere storage system, jadi cabai dimasukan ke situ seperti divakum, bisa sampai beberapa bulan. Cuma, begitu dikeluarin harga bertambah sedikit,” katanya.

Kendati demikian, dia berharap harga cabai pada Juni 2018 bisa stabil di angka yang tidak terlalu tinggi. Pasalnya, dirinya mendapat informasi bahwa salah satu daerah penghasil cabai yang dekat ke Sumut, Aceh, saat ini sedang mengalami panen dalam jumlah besar.

Di samping harga cabai, peningkatan jumlah belanja penduduk pada Juni setelah keluarnya pembayaran THR PNS juga diperkirakan akan menyumbang angka inflasi kendati Yura belum bisa memprediksi seberapa besar pengaruhnya.

“Ini kan yang Mei baru sebagian masa bulan Ramadan. Kita mengantisipasi masyarakat baru mulai belanja di bulan Juni, itu kan menjelang Lebaran sehingga memang potensi untuk tekanan inflasi cukup,” katanya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Medan Gunawan Benjamin menyebutkan, hingga Mei 2018, harga pangan di Sumatra Utara terpantau stabil hingga menurun.

Komoditas cabai terpantau mengalami penurunan harga hingga 30% sementara harga daging berangsur normal setelah sempat mendekati level Rp140.000 per kilogram.

Di sisi lain dia tak menampik adanya potensi inflasi akibat pembagian THR pada PNS. Dia meyakini, pembagian THR ini akan mendongkrak belanja masyarakat.

Meskipun kenaikan harga bahan pokok selama Mei masih terkendali bahkan turun, pembagian THR juga Lebaran yang jatuh pada Juni 2018 dinilai akan meningkatkan transaksi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan pokok yang akan disusul oleh kebutuhan lain seperti sandang.

Kendati demikian, dia yakin efek pembagian THR PNS dan pensiunan daerah di Sumut tidak akan terlalu besar.

“Memang ada kekhawatiran akan peningkatan inflasi dari kelompok sandang. Selain itu, ada THR bagi PNS yang juga bisa mendongkrak inflasi. Namun, saya yakin kontribusi THR ke inflasi tersebut kurang dari 0,1%,” ujarnya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya