Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelajah UMKM: Produksi Cabai Gapoktan Cagar Tumbuh Berlipat Berkat Demplot Digital Farming

Setiap masa panen tiba biasanya warga sekitar dan juga pedagang cabai akan langsung datang membeli ke kebun petani yang dikelola Poktan JMS.
Indra merupakan Ketua Kelompok Tani Jaring Mas Sejahtera (JMS), di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar.
Indra merupakan Ketua Kelompok Tani Jaring Mas Sejahtera (JMS), di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar.

Bisnis.com, PEKANBARU—Masih tergambar jelas di dalam ingatan Indra Noval, bahwa produksi tanaman cabai yang biasa mereka lakukan bertahun-tahun lamanya hanya bisa menghasilkan sekitar 500 gram sampai maksimal 800 gram cabai dari setiap batangnya. Namun kini semua kondisinya telah berubah, dan hasil panen cabai yang didapatnya telah membuat senyumnya lebar merekah.

Indra merupakan Ketua Kelompok Tani Jaring Mas Sejahtera (JMS), di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar. Poktan itu merupakan bagian dari Gabungan Kelompok Tani Cagar atau Cabai Kota Garo yang ada di Kampar.

“Kami sudah lama menanam cabai dan memang di daerah ini sudah dikenal sebagai produsen cabai birandang. Lalu pada 2017 kami membentuk komunitas Poktan JMS. Sejak saat itu kami terus aktif melakukan produksi cabai secara mandiri dan memang ya angka hasilnya di sekitar 400 gram sampai maksimal 800 gram per batang dan itu udah paling berat mendapatkan hasil segitu,” ungkapnya Selasa (27/11/2023).

Lalu karena sudah dikenal sebagai sentra produksi cabai, dan semakin berkembangnya media sosial, setiap masa panen tiba biasanya warga sekitar dan juga pedagang cabai akan langsung datang membeli ke kebun petani yang dikelola Poktan JMS.

Pada akhir 2021, saat musim panen cabai dirinya bertemu dengan perwakilan Bank Indonesia, dan lahan cabai yang dikelola pihaknya mendapatkan perhatian untuk dikembangkan sebagai klaster ketahanan pangan dan pengendalian inflasi dalam program kerja Bank Sentral.

Dukungan mulai berdatangan. BI memberikan bantuan berupa alat bantu produksi pertanian seperti traktor roda empat, kultivator ukuran sedang dan kecil, mesin rumput, hingga mesin diesel penghisap air untuk membantu irigasi. Hasilnya tidak main-main, anggota Poktan JMS semakin bersemangat dalam menghasilkan cabai birandang. Luas lahan tanaman cabai di desa itu awalnya sekitar 5 ha, kini sudah berkembang menjadi 10 ha dan dikelola sekitar 17 petani.

Para petani juga semakin fokus dalam menambah jumlah tanaman cabai yang disiapkan. Noval contohnya bisa menanam hingga 7.000 batang cabai di lahan seluas 0,5 ha yang dikelolanya.

Melihat kegigihan para petani, BI secara konsisten memberikan program dukungan dan pendampingan agar produksi dan kualitas cabai yang dihasilkan terus meningkat. Pada 2022 lalu, Poktan JMS mendapatkan program Demplot Digital Farming, yang membuat sistem produksi tanaman cabai di lokasi itu bisa dikendalikan secara digital dan terukur dengan jelas.

“Manfaatnya kami bisa melakukan penyiraman dan irigasi pupuk tanaman cabai secara otomatis dari HP saja, kemudian bisa melihat dan mengukur kondisi tanah mulai dari unsur hara nya, kemudian kalium, parameter suhu, sampai kepada kelembaban tanah dan ukuran PH tanah,” ungkapnya.

Setelah berjalan satu siklus tanam sejak akhir 2022 dan mulai dipanen pada Maret 2023, hasil yang diterima pihaknya tidak main-main. Angka produksi cabai di demplot itu meroket hingga 150% dibandingkan dengan sistem tanam manual seperti sebelum-sebelumnya.

Dia menyebut dari angka produksi rerata sebesar 400-800 gram perbatang, kini hasil yang diraih Poktan JMS dari program demplot digital farming bisa sekitar 2 kg per batang. Dari kalkulasi pihaknya, dengan luas lahan yang ada sekitar 0,5 ha dan 7.000 batang cabai, hasil yang didapatkan mencapai 14 ton cabai, atau jauh meroket dari produksi sebelumnya yang sekitar 4 ton saja.

Hasil produksi cabai yang melimpah itu, disebutkan telah dijual ke berbagai lokasi pasar yang ada di sekitar Kampar dan Kota Pekanbaru, termasuk kepada pedagang yang datang langsung ke lokasi kebunnya.

Noval mengakui dengan keberhasilan program digital farming ini, diharapkan pihaknya bisa ikut berbagai kegiatan bisnis matching yang lebih banyak, sehingga produksi cabai yang meningkat itu dapat diserap oleh pasar dengan maksimal dan harga yang diterima oleh petani juga dapat terjaga.

Kepala BI Riau Muhamad Nur menyebutkan Gapoktan Cagar (Gabungan Kelompok Tani Cabai Kota Garo) merupakan UMKM Binaan BI dan berkerjasama dengan Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Kampar.

Program pembinaan ini termasuk ke dalam pengembangan klaster cabai berbasis pemberdayaan kelompok tani di Kabupaten Kampar.

"Bank Indonesia menginisiasi pengembangan klaster cabai dalam rangka penyiapan suplai cabai di provinsi Riau melalui pembinaan dan pendampingan kelompok-kelompok tani sebagai sentra pengembangan komoditas cabai. Upaya ini dapat mengurangi ketergantukan pasokan cabai dari daerah lain karena saat ini Riau hanya mampu memasok sekitar 30-40% saja," ungkapnya.

Disebutkan klaster cabai Gapoktan Cagar telah berdiri sejak 2019 melalui inisiasi BI. Saat ini Gapoktan Cagar memiliki 6 Kelompok Tani Cabai dengan jumlah anggota sebanyak 89 petani, dengan total luas lahan produktif seluas 46 ha, yang tersebar di 3 desa yakni Desa Kota Garo dan Desa Bangun Lestari di Kecamatan Tapung Hilir, serta Desa Pulau Birandang di Kecamatan Kampa kabupaten Kampar.

Dia menyebut Riau bukanlah daerah ekonomi basis pertanian tanaman pangan, namun faktor alam dan lingkungan masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung agrikultur yang baik untuk budi daya tanaman pangan dan hortikultura khususnya komoditas cabai. Kondisi ini tentunya manjadi potensi besar bila diiringi dengan inovasi, improvisasi serta peningkatan kapasitas petani dalam mengelola usaha pertanian.

Saat ini produksi cabai dari Gapoktan Cagar telah mengalami perkembangan, baik secara kualitas maupun jumlah produksi, yaitu secara intensifikasi ataupun ekstensifikasi. Hal tersebut berkat dorongan dan fasilitasi dari BI secara materi dengan memberikan sarana poduksi, hingga bimbingan teknis melalui pelatihan, serta pendampingan teknis lapangan yang diberikan rutin kepada semua kelompok tani.

"Adapun produktivitas cabai rata-rata sebanyak 14 ton per hektare dalam sekali periode tanam. Dalam setahun umumnya petani 2 kali periode tanam. Sebelum adanya program klaster cabai, petani masih sendiri-sendri dan belum memiliki kelompok tani, dimana produktivitas cabai hanya rata-rata 7 ton per hektare atau per satu periode tanam," ungkapnya.

Dengan adanya program klaster cabai ini, Gapoktan Cagar juga menjadi sentra cabai di Kabupaten Kampar, dimana kelompok tani budidaya cabai menjadi pusat pelatihan tentang budi daya cabai kepada masyarakat.

Kelompok juga kerap mendapatkan kunjungan dari lembaga pendidikan formal atau informal dalam rangka belajar teknis menanam cabai kepada kepada kelompok tani.

Keberhasilan Gapoktan Cagar dalam mengembangkan klaster cabai ini tidak luput dari kepercayaan yang diberikan oleh lembaga pembiayaan formal yaitu dari Bank BRI kepada petani cabai melalui Program KUR, dengan total lebih kurang Rp1,2 miliar.

"Gapoktan Cagar juga telah mengimplementasikan digital farming budi daya cabai di Provinsi Riau pada akhir 2022, yang dibuktikan dengan panen raya oleh Kelompok Tani Jaring Mas Sejahtera Desa Pulau Birandang, dan telah dipanen pada 2023," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Gunawan
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper