Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelajah UMKM: Konsistensi Produksi Sayuran Gapoktan Indah Berbuah Hingga Miliaran Rupiah

Usaha produksi sayuran oleh Gapoktan Indah ini diawali dari keberhasilan sesama perantau, dan menarik minat Sukidi untuk ikut merasakan kesuksesan tersebut.
Setiap harinya, Gapoktan Indah memproduksi sekitar 10 ton sayuran berbagai jenis seperti sawi, pakcoy, bayam, kangkung, timun, pare, hingga komoditas hortikultura.
Setiap harinya, Gapoktan Indah memproduksi sekitar 10 ton sayuran berbagai jenis seperti sawi, pakcoy, bayam, kangkung, timun, pare, hingga komoditas hortikultura.

Bisnis.com, PEKANBARU -- 22 tahun sudah berlalu. Sukidi dan puluhan perantau asal Jawa itu, telah menjalankan perannya sebagai produsen sayur dan hortikultura yang ikut menguatkan ketahanan pangan di Bumi Lancang Kuning.

Usaha produksi sayuran oleh Gabungan Kelompok Tani Inflasi Pangan Rendah (Gapoktan Indah) ini diawali dari keberhasilan sesama perantau, dan menarik minat Sukidi untuk ikut merasakan kesuksesan tersebut.

"Karena melihat banyak yang berhasil setelah merantau ke Riau, saya akhirnya ikut datang ke Pekanbaru dan mulai menanam sayuran. Dulunya lahan yang kami tanam itu di sekitar AURI. Sekarang alhamdulillah sudah mengelola lahan di Desa Karya Indah, Tapung Kampar," ujarnya, Selasa (28/11/2023).

Setiap harinya, gapoktan ini memproduksi sekitar 10 ton sayuran berbagai jenis seperti sawi, pakcoy, bayam, kangkung, timun, pare, hingga komoditas hortikultura. Hasil sayuran ini sudah dijual ke sejumlah pasar tradisional di Pekanbaru, mulai dari Pasar Arengka, Pasar Dupa, Pasar Kodim, Pasar Pusat, Pasar Loket, Pasar Induk AKAP, hingga ke pasar modern seperti Farmers Market dan Pasar Buah.

Tidak hanya itu, pemasaran sayur gapoktan ini juga sudah sampai ke antar kota di Riau seperti Bagansiapi-api, Bagan Batu, dan Bengkalis.

Luas lahan yang dikelola kelompok ini mencapai 45 hektare, dan diolah sekitar 75 petani gapoktan. 4 kelompok tani yang tergabung di Gapoktan Indah yaitu Poktan Maju Lestari, Cinta Mata Uang Rupiah (Cimaru), Penanggulangan Inflasi (Pelangi), dan Agro Bersama Jaga Inflasi (Agro Berjasi).

Hasil yang diterima petani ini tidak tanggung-tanggung. Sukidi menyebut dari lahan seluas kurang lebih 1.800 m2 yang dikelolanya, dia bisa mengantongi pendapatan kotor sampai Rp15 juta setiap bulan. Sedangkan untuk petani yang mengolah lahan sekitar 1 ha, duit yang didapatkan itu nilainya sekitar Rp35-40 jutaan.

"Dari hitung-hitungan BI, pendapatan seluruh petani Gapoktan Indah setiap bulan dari produksi sayuran dan hortikultura ini bisa di atas Rp1 miliar per bulan," ungkapnya.

Konsistensi Sukidi dan rekan-rekannya ini mulai dilirik oleh Bank Indonesia pada 2017 silam. Bank sentral melihat peluang menjaga inflasi dan ketahanan pangan dari sayuran dan hortikultura ini perlu dilanjutkan dan para petani menjadi mandiri.

Untuk itu pada 2018 BI melakukan sejumlah pelatihan seperti memahami pupuk organik, penguatan kelembagaan, intensifikasi produk dari lahan yang ada, sampai memberikan bantuan infrastruktur pendukung seperti pembuatan sprinkle atau penyiram tanaman. Tahun berikutnya bantuan juga diberikan seperti membangun saung tempat wadah petani berdiskusi serta edukasi dalam meningkatkan produktivitas.

Bantuan yang diberikan kepada Gapoktan Indah, memang ada yang bersifat hibah seperti pupuk kandang puluhan ton serta alat mesin pertanian (alsintan). Oleh kelompok ini bantuan tersebut dijual kembali dengan harga diskon, dan hasilnya diputar sebagai modal gapoktan menjalankan unit usaha.

Saat ini Gapoktan Indah sudah mengantongi modal ratusan juta rupiah, dan setiap tahun membuat program dengan tujuan meningkatkan produktivitas para petani sayuran. 

"Sampai 2025 misalnya kami sudah targetkan membantu menyiapkan alat-alat mesin pertanian bagi anggota, sehingga dengan target itu kami yakin produksi sayuran akan terus meningkat dan berkembang. Setelah itu tercapai kami akan rapat lagi dan membuat target baru," ungkapnya.

Dukungan dari BI terus berlanjut. Di akhir 2022 lalu Gapoktan Indah mendapatkan program dukungan digitalisasi pertanian, berupa perangkat digital penyiraman sayuran otomatis yang bisa dikendalikan dari HP dan pompanya menggunakan tenaga listrik dari PLN.

Dari inovasi itu, Sukidi menyebutkan setiap bulannya biaya produksi dari komponen bahan bakar bisa turun sebesar 80%, jika dibandingkan petani harus membeli solar untuk mengoperasikan mesin diesel sebagai sumber energi mesin pompa air.

Namun memang program ini masih dilakukan di kebun percontohan dirinya, mengingat belum semua lahan di gapoktan Indah yang seluas 45 ha tersebut mendapatkan pasokan energi listrik PLN. Pihaknya berharap pemerintah membantu percepatan pemasangan jaringan listrik bagi warga dan petani di wilayah itu sehingga manfaatnya bagi produksi sayuran dan hortikultura dapat terus bertambah.

Kedepan gapoktan ini siap untuk terus menjaga ketahanan pangan dari produksi sayuran dan hortikultura, sembari terus menjaga kualitas dan kuantitasnya sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani dan warga sekitar.

Kepala BI Riau Muhamad Nur menyebutkan komoditas sayuran dan hortikultura merupakan tanaman pangan yang perlu dijaga ketersediaannya untuk masyarakat di Provinsi Riau, sehingga mendukung stabilitas inflasi berbagai jenis komoditas khususnya volatile food.

"Secara geografis Provinsi Riau merupakan daerah dengan lahan gambut yang menjadikan sub sektor perkebunan sebagai ekonomi basis. Hal tersebut menyebabkan penyediaan komoditas tanaman pangan tidak menjadi fokus utama dalam pengembangan sektor pertanian," ungkapnya.

Kondisi tersebut menyebabkan Riau sangat bergantung pada daerah lain seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat khususnya dalam memenuhi kebutuhan beberapa komoditas tanaman pangan seperti bawang, cabai, padi dan beberapa jenis sayuran.

Dukungan yang diberikan BI kepada Gapoktan Indah, diharapkan dapat membantu pemenuhan pasokan sayuran bagi Kota Pekanbaru dan sekitarnya hingga dapat tersebar ke berbagai wilayah di Riau.

Kemudian untuk menjamin proses bisnis pada setiap UMKM binaan berlangsung dengan baik, BI menerapkan prinsip end to end process pada berbagai aspek bisnis UMKM yang dibina. 

"Untuk Gapoktan Indah ini, BI telah mendorong kelompok untuk bekerjasama dengan berbagai pihak pengelola pasar tradisional dan modern, agar produksi sayur lebih mudah sampai kepada konsumen akhir. Langkah ini diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi dan memberi kepastian bagi setiap titik distribusi yang terlibat," ujarnya.

Lewat berbagai dukungan itu, kelompok tani tersebut sudah meraih prestasi sebagai nominasi championship Cluster Nasional pada 2021 lalu. Kedepan dengan program ketahanan pangan ini tentu diharapkan kemandirian para petani tersebut, dapat berbuah kestabilan inflasi bagi daerah hingga nasional, dan meningkatnya kesejahteraan para petani kedepan.

Konten ini merupakan bagian dari pemberitaan Program Jelajah UMKM Riau yang didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, dan Bank BRI Regional Pekanbaru.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Gunawan
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper