Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Sumut Tembus 0,74 Persen pada Mei 2022

Bila dibandingkan April 2022 lalu, inflasi Sumatra Utara pada Mei 2022 justru lebih tinggi.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 06 Juni 2022  |  18:23 WIB
Inflasi Sumut Tembus 0,74 Persen pada Mei 2022
Ilustrasi. - Antara

Bisnis.com, MEDAN — Inflasi di Sumatra Utara tembus 0,74 persen pada Mei 2022. Jumlah tersebut meningkat 4,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy).

Catatan inflasi Sumatra Utara tersebut juga lebih tinggi ketimbang inflasi nasional, yaitu 0,32 persen pada Mei 2022. Kurun Januari - Mei 2022, laju inflasi Sumatra Utara tercatat 2,75 persen.

Bila dibandingkan April 2022 lalu, inflasi Sumatra Utara pada Mei 2022 justru lebih tinggi. Sebab, pada April 2022 inflasinya hanya 0,44 persen. "Untuk inflasi Sumatra Utara ini tercatat 0,74 persen, lebih tinggi inflasi kita dari inflasi nasional," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara Nurul Hasanudin, Senin (6/6/2022).

Berdasar data BPS, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatra Utara kompak mengalami inflasi pada Mei 2022.

Antara lain Kota Sibolga sebesar 0,85 persen, Kota Pematangsiantar sebesar 0,62 persen, Kota Medan sebesar 0,76 persen, Kota Padangsidimpuan sebesar 0,77 persen dan Kota Gunung Sitoli sebesar 0,05 persen.

Menurut Nurul, inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.

Kelompok pengeluaran yang dimaksud adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,42 persen, kemudian kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,21 persen, lalu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen.

Selanjutnya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,52 persen, kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,41 persen, lalu kelompok transportasi sebesar 1,16 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,38 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,00 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,21 persen.

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan harga.

Berdasar catatan BPS, komoditas utama penyumbang inflasi selama Mei 2022 di Sumatra Utara adalah angkutan udara, daging ayam ras, ikan dencis, bawang merah, telur ayam ras, ikan tongkol/ambu-ambu, dan jeruk.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, bawang putih, minyak goreng, bayam, kangkung, tomat, dan nanas.

Secara ringkas, terdapat sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran yang menyumbang andil inflasi di Sumatra Utara pada Mei 2022.

Laju inflasi Sumatra Utara pada Mei 2022 yang lebih tinggi ketimbang April 2022 membuat prediksi Bank Indonesia sebelumnya meleset.

Beberapa waktu lalu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara Doddy Zulverdi menyampaikan bahwa inflasi di Sumatra Utara tercatat meningkat 3,63 persen (yoy) pada April 2022. Peningkatan itu lebih tinggi ketimbang Maret 2022 yang hanya 3,26 persen (yoy).

Doddy kemudian memperkirakan inflasi bulanan di Sumatra Utara pada Mei 2022 akan lebih rendah ketimbang bulan sebelumnya. Meskipun secara tahunan diprediksi akan meningkat.

"Pada Mei 2022, inflasi bulanan Sumatra Utara diprakirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya meskipun secara tahunan mengalami peningkatan," kata Doddy belum lama ini.

Menurut perkiraan Doddy kala itu, penurunan inflasi pada Mei 2022 dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi masyarakat pasca HBKN Idulfitri.

Di sisi lain, komponen volatile food diprakirakan akan menjadi pendorong inflasi. Hal itu disebabkan adanya potensi gangguan cuaca yang dapat menghambat produksi dan distribusi, serta masih tingginya harga pakan ternak yang menaikkan biaya produksi.

Secara keseluruhan, lanjut Doddy, inflasi Sumatra Utara pada 2022 ini diprakirakan akan lebih tinggi ketimbang 2021. Namun lajunya masih dalam rentang sasaran 3%±1%.

"Peningkatan inflasi didorong oleh meningkatnya pendapatan masyarakat seiring dengan kian pulihnya perekonomian, penanganan pandemi Covid-19 yang semakin baik dan mendorong mobilitas masyarakat, serta permintaan yang meningkat," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi medan sumut
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top