Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Musim Kemarau, Tujuh Daerah di Sumsel Rawan Karhutla

Pemprov Sumatra Selatan memetakan terdapat tujuh wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan atau karhutla pada musim kemarau tahun ini.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 18 Mei 2022  |  19:09 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemprov Sumatra Selatan memetakan terdapat tujuh wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan atau karhutla pada musim kemarau tahun ini.

Hasil pemetaan wilayah itu bertambah dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang semula hanya lima wilayah.

Adapun ketujuh wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) yang berpotensi karhutla adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) dan Lahat.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, mengatakan berdasarkan geografi wilayah ada lima daerah yang paling rawan yaitu OKI, Muba Banyuasin, Muara Enim dan PALI.

“Hal itu karena kelima wilayah tersebut lahan gambutnya luas. Sehingga perlu menjadi perhatian khusus,” katanya, Rabu (18/5/2022).

Namun demikian, Ansori menambahkan, berkaca dari tahun sebelumnya, ada penambahan dua daerah yang luasan karhutlanya cukup luas, yakni OKUS dan Lahat.

"Dua wilayah ini kebanyakan kebun milik masyarakat yang melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar. Sedangkan, untuk indikasi pembakaran yang dilakukan perusahaan belum ditemukan," katanya.

Dia mengatakan saat ini kondisi cuaca di Sumsel masih memasuki musim pancaroba sehingga terkadang panas. Namun, tiba-tiba menghadapi hujan. Pihaknya memprediksi puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2022.

Menurut Ansori, BPBD Sumsel telah siaga untuk menghadapi karhutla. Apalagi, Surat Keputusan (SK) Gubernur Sumsel terkait siaga karhutla telah dikeluarkan.

"Jadi baik personel maupun peralatan semua telah disiapkan. Namun, akan diturunkan sesuai dengan eskalasi di lapangan. Jika besar maka diturunkan, jika kecil masih menjadi tanggung jawab daerah tersebut," paparnya.

Untuk jumlah personel yang diturunkan masih sama dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 5.000 personil gabungan dari masing-masing OPD.

Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan penggunakan delapan unit helikopter water bombing kepada pemerintah pusat.

"Nantinya helikopter ini diturunkan tidak sekaligus melainkan sesuai kondisi karhutla," terangnya.

Bahkan pihaknya menyebutkan, sebaran hotspot terus bertambah.

Tercatat, pada Februari lalu hotspot di Sumsel hanya 80 titik. Kemudian, Maret bertambah menjadi 180 titik.

Lalu, pada April kembali mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 212 titik. Sedangkan, pada awal Mei 2022 hotspot terpantau yakni sebanyak 70 titik.

“Hotspot ini tersebar di beberapa wilayah di Sumsel terkecuali di Palembang. Hotspot sendiri tidak selalu berujung kepada karhutla,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel Karhutla
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top