Gubernur Edy Ajak Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Tangani Masalah Mutakhir

Masalah yang terjadi di Sumut akhir-akhir ini, mulai dari wabah virus hog cholera babi, mercuri di Madina, keamanan dan kemudahan investasi untuk pariwisata, stunting hingga tentang pelayanan ibu hamil ke daerah.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 19 November 2019  |  16:02 WIB
Gubernur Edy Ajak Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Tangani Masalah Mutakhir
Petugas gabungan menyeret bangkai babi mengunakan perahu di aliran Sungai Bederah, untuk dikubur, di Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/11/2019). Sedikitnya 5.800 ekor babi mati diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut. - Antara/Irsan Mulyadi

Bisnis.com, MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengharapkan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dapat terus bersinergi, terutama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di daerah tersebut.

Berbagai masalah yang terjadi di Sumut akhir-akhir ini, mulai dari wabah virus hog cholera babi, mercuri di Madina, keamanan dan kemudahan investasi untuk pariwisata, stunting hingga tentang pelayanan ibu hamil ke daerah.

“Ada berbagai macam masalah saat ini, saya berharap ini dapat kita selesaikan bersama,” ujar Edy melalui keterangan resminya, Selasa (19/11/2019).

Terkait persoalan wabah virus hog cholera babi,lanjut Edy, perlu tindakan segera dan keterlibatan semua pihak, agar penyebaran wabah ini tidak semakin meluas. Perlu dilakukan penyuluhan kepada para peternak, vaksinasi ternak, pengawasan lalu lintas ternak hingga penindakan terhadap peternak yang membuang bangkai babi sembarang ke sungai dan bebagai tempat lainnya.

Tindakan tegas terhadap para peternak yang membuang bangkai babi ke sungai, menurutnya, perlu dilakukan untuk memberikan efek jera. Apalagi, hal tersebut telah menimbulkan kerugian dan keresahan di tengah masyarakat. Untuk itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Perternakan perlu berkoordinasi dengan Kementerian terkait dan aparat penegak hukum.

Tak hanya itu, dia juga menyinggung tentang kandungan mercuri di aliran sungai di Kabupaten Mandailin Natal (Madina), yang duga disebabkan oleh tambang emas ilegal sepanjang aliran sungai di daerah tersebut. Mercuri merupakan zat kimia berbahaya yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Warga membawa bangkai babi yang dibuang pemiliknya di Danau Siombak Marelan, Medan, Sumatera Utara, Senin (11/11/2019). Data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mencatat sedikitnya ada 4.682 babi mati yang diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut./Antara-Nur Aprilliana Sitorus Br Sitorus

Menurut Edy, hal tersebut termasuk salah satu yang harus ditangani serius oleh unsur Forkopimda di daerah. Karena, selain dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, juga dapat merusak generasi muda penerus bangsa.

Pada kesempatan itu, Edy menekankan, bahwa saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut sedang fokus membangun pariwisata daerah. Antara lain dengan menggandeng sejumlah investor lokal dan mendatangkan investor dari luar negeri. Terutama dalam membangun berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung.

Dia mengatakan para investor tidak akan menanamkan investasinya ke daerah ini jika tidak ada jaminan kemanan, serta perizinan yang berbelit-belit. Oleh karena itu, Dia berharap dukungan semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan iklim usaha yang kondusif, sehingga membuat nyaman para investor untuk berinvestasi di daerah ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
babi, sumut

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top