Zurich Topas Life Perluas Pasar Asuransi di Sumatra

Oleh: Ropesta Sitorus 06 September 2018 | 17:30 WIB
Zurich Topas Life Perluas Pasar Asuransi di Sumatra
Head of Property Zurich Insurance Indonesia Rio Daniel (dari kiri), berbincang dengan Presiden Direktur Philippe Danielski dan Head of Communication & Strategic Marketing Zurich Topas Life Chiqita Winarning Hayu seusai pelatihan kelas jurnalistik Meliput isu Terkini di Industri Asuransi Umum dan Jiwa di Jakarta (17/05)./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, MEDAN – Di tengah tren penurunan jumlah nasabah tertanggung asuransi secara nasional, PT Zurich Topas Life masih optimistis mampu memperkuat basis pasar di Sumatra lewat produk inovatif, Zurich Principle Care.

Dalam peluncuran yang dilakukan di Medan, di Medan, Sumatra Utara, Kamis (6/9/2018), Chief Training & Recruitment Officer Zurich Topas Life Arnold Lihawa mengatakan pasar Sumut masih tetap prospektif bagi industri asuransi.

“Saya tidak punya data rinci kenaikannya, tapi tren perkembangan nasabah kami di Sumatra masih tetap tumbuh tiap tahun. Produk asuransi itu seperti makanan, apapun kondisi ekonominya orang tidak berhenti makan, bahkan dalam kondisi risiko semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga orang makin butuh asuransi,” katanya kepada Bisnis.

Dengan jumlah penduduk sekitar 4 juta jiwa di Medan dan 13 juta jiwa di Sumut, wilayah tersebut merupakan daerah yang potensial untuk penetrasi pasar di Indonesia bagian Barat.

Selain faktor kepadatan penduduknya, kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia juga memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang baik, terutama dari sektor perdagangan.

Sejalan dengan ini, pertumbuhan bisnis asuransi di wilayah Medan pun terus menunjukkan peningkatan. Sebagai gambaran, Zurich Topas Life mencatat kenaikan premi untuk wilayah Sumatera dengan pertumbuhan lebih dari 125% secara year on year pada akhir tahun 2017.

Total jumlah nasabah Zurich Topas Life di wilayah Sumatra mencapai lebih dari 18.000 nasabah dengan total premi sebesar Rp168 milliar per Agustus 2018.

“Secara khusus untuk Sumut ini, profil nasabah asuransi dominan pengusaha produk asuransi paling diminati yaitu Zurich Proteksi 8 dan Pro-Fit 8. Mereka ingin perlindungan finansial terhadap aset mereka, investasi serta kepastian pengembalian premi. Jadi kalau ada penyakit kritis, mereka tidak mau aktivitas usahanyanya sampai terganggu, sehingga risikonya ditransfer ke Zurich,” paparnya.

INOVASI PRODUK

Adapun, produk asuransi Zurich Principle Care diyakini mampu menjadi door opener untuk menggaet lebih banyak nasabah karena beberapa inovasi yang ditawarkan. Salah satunya premi yang diklaim cukup terjangkau, mulai dari Rp11.000 /hari, dengan penyesuaian sesuai tingkat usia.

Dia menjelaskan, produk tersebut memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis penyakit kritis termasuk stroke, jantung, kanker, gagal ginjal, sirotis hepatitis, haemofilia, leukimia, dan thalesemia.

“Zurich Principle Care hadir dengan tiga kelebihan utama yaitu mencakup semua jenis penyakit kritis bahkan yang belum ada namanya sekalipun, jaminan premium pengembalian premi 100% tiap ulang tahun polis ke-10 jika tidak pernah klaim, serta manfaat klaim maksimal sampai 3 kali,” kata Arnold.

Mengutip data Badan Pusat Statistik Indonesia 2016, lebih dari 50% penduduk Indonesia merupakan usia produktif, dengan kelompok usia yang mendominasi adalah usia 15-39 tahun sebanyak 84,75 juta atau 32% dari total penduduk Indonesia.

Namun, seiring dengan perkembangan kondisi lingkungan, gaya hidup modern dan pola makan, kaum usia produktif memiliki risiko terpapar penyakit kritis yang lebih tinggi.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di tahun 2015 sedikitnya lebih dari 48.000 orang meninggal dunia setiap harinya karena penyakit kardiovaskular. Dalam laporan WHO pun disebutkan, pada tahun 2020 tigaperempat kematian di negara berkembang disebabkan oleh penyakit kritis.

Dokter sekaligus aktris Lula Kamal yang turut hadir dalam acara peluncuran Zurich Principle Care menjelaskan di Indonesia sendiri, terdapat 3 penyakit kritis tertinggi yang menyebabkan kematian, yaitu penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes.

“Saat ini penyakit kritis tidak terbatas pada mereka yang berusia tua. Generasi produktif di daerah urban dan suburban turut memiliki potensi lebih tinggi akan penyakit kritis karena stress level dan gaya hidup. Bahkan polusi di kota besar pun menjadi penyebab maraknya penyakit kritis,” katanya.

Lula Kamal menambahkan bahwa selain risiko kematian yang tinggi, penyakit kritis juga dikenal memiliki biaya medis yang tinggi, sebagai contoh biaya perawatan penyakit kanker tiap bulannya bisa mencapai ratusan juta.  

Menurut Tower Watson Global Medical Trend Survey Report, biaya kesehatan di Indonesia meningkat sekitar 79% selama periode 2010-2014.

Kementerian Kesehatan di tahun 2016 pun mengklaim bahwa penyakit kritis telah menyerap anggaran tinggi sekitar Rp1,69 triliun atau 29,67% dari total anggaran nasional. Hal ini mencerminkan bagaimana beban finansial dari penyakit kritis dapat memengaruhi kesejahteraan finansial seseorang.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya