Minat Perusahaan di Sumut untuk Go-Public Masih Rendah

Oleh: Ropesta Sitorus 26 Juli 2018 | 08:17 WIB

Bisnis.com, MEDAN –  Meski mulai ada kenaikan, minat korporasi di Sumatra Utara untuk melakukan penghimpunan dana dari pasar modal masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan potensi yang ada.

Muhammad Pintor Nasution, Head of Go Public Information Center Bursa Efek Indonesia Medan, menuturkan jumlah perusahaan besar yang layak melakukan penawaran saham perdana di bursa cukup tinggi, khususnya dari sektor perkebunan kelapa sawit.

Namun, saat ini baru ada tujuh emiten saham dan dua emiten obligasi yang terdaftar dari Sumut.

“Dari hasil riset kami, setidaknya ada 33 perusahaan yang layak go-public yakni dengan aset minimal Rp5 miliar di Medan, tapi yang listing baru 7. Jadi masih sangat kurang,” katanya kepada Bisnis Rabu (25/7/2018).

Adapun, beberapa kendala yang membuat korporasi enggan melantai di bursa antara lain karena alasan laporan keuangan, masalah perpajakan, serta konflik dari internal.

Menurut Pintor, sapaan akrabnya, sebagian perusahaan tersebut masih belum menggunakan laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik.

Selain itu, perusahaan juga masih belum berani untuk transparan dalam hal penghitungan pajak. Padahal, dua syarat tersebut adalah kewajiban yang melekat pada sebuah perusahaan publik.

“Kendala ketiga, kalau perusahaan milik keluarga, mereka biasanya ada yang belum sepaham satu sama lain,” tambahnya.

Sejauh ini, ada dua perusahaan asal Sumut yang telah terdaftar di Bursa untuk emisi obligasi yakni PT Pelindo I dan PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara.

Ada pun, perusahaan yang sudah melakukan penawaran saham perdana yakni PT Toba Pulp Lestari Tbk. (INRU), PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk. (PGLI), PT Bank Mestika Dharma Tbk. (BBMD), PT Ateliers Mecaniques D’Indonesie Tbk. (AMIN), PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK), PT Royal Prima Tbk. (PRIM), dan PT Mahkota Tbk. (MGRO).

Dua perusahaan terakhir merupakan emiten terbaru asal Sumut yang resmi melantai pada Mei dan dan Juli 2018. Realisasi penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya yang rata-rata hanya berjumlah satu perusahaan.

Lebih lanjut, Pintor mengatakan kenaikan minat tersebu tak lepas dari upaya promosi dan edukasi yang terus dilakukan bursa kepada perusahaan.

Setidaknya ada dua program kerja yang selama ini menjadi fokus BEI di Sumut. Pertama, one on one meeting yang rutin digelar tiap bulan dengan perusahaan yang prospektif. Kedua, business meeting yang menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, perusahaan underwriter serta emiten untuk memberikan gambaran dampak dan manfaat IPO bagi korporasi.

Baru-baru ini, BEI menggelar business meeting dengan menggandeng kalangan pelaku usaha yang tergabung dalam komunitas Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) di Medan.

“Karena sudah ada beberapa perusahaan yang sudah listing, beberapa perusahaan besar jadi mulai berminat dan mencari kami,” katanya.

 

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya