ASEM-TSOM 2018, Pemerintah Buka Peluang bagi Investor Asing

Oleh: Ropesta Sitorus 18 Juli 2018 | 20:19 WIB
ASEM-TSOM 2018, Pemerintah Buka Peluang bagi Investor Asing
Ilustrasi transportasi udara/ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Bisnis.com, MEDAN – Pemerintah membuka peluang untuk investor swasta masuk dalam pembiayaan pembangunan sejumlah infrastruktur transportasi, khususnya kepada investor dari Eropa dan Asia.

Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono di sela-sela pembukaan Pertemuan Asia Europe Meeting – Transport Senior Official’s Meeting (ASEM-TSOM) tahun 2018 yang digelar di Medan, Sumatra Utara pada 18-19 Juli 2018.

ASEM-TSOM tahun 2018 adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan Asia Europe Meeting-Transportation Minister’s Meeting (ASEM-TMM) ke-4 yang telah diselenggarakan di Bali pada 26 - 28 September 2017.

ASEM-TSOM merupakan pertemuan tingkat Pejabat Senior bidang transportasi dari negara-negara anggota ASEM.

Djoko menjelaskan, dalam agenda yang dihadiri 21 delegasi dari 18 negara tersebut, pihaknya akan menawarkan skema public-private partnership yang dapat dimanfaatkan investor dari Eropa dan Asia.

Bentuknya antara lain berupa infrastruktur transportasi, baik bandara dan pelabuhan. Sebagai contoh, dia menyebutkan proyek yang akan ditawarkan kepada investor asing yakni Pelabuhan Kuala Tanjung di Medan serta proyek jalur kereya api Makassar – Parepare di Sulawesi.

Ketika ditanya lebih rinci mengenai target investasi yang dibidik, dia mengaku Kementerian tidak secara spesifik mematok angka maupun proyek tertentu dalam forum tersebut.

“Banyak sekali kegiatan yang bisa kita tawarkan dan kita jelaskan peluang-peluang kerja sama yang dibuka, tetapi forum ini belum bicara yang sangat mikro. Ini masih pertemuan teknis di mana pejabat senior dikumpulkan untuk membahas beberapa isu dan nanti diputuskan dalam tingkat menteri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Djoko mengatakan pertemuan tersebut juga akan membahas penguatan konektivitas antara Asia dan Eropa. Dua kawasan tersebut menguasai sekitar 60% perdagangan dunia sehingga diperkirakan dapat menjadi kekuatan yang besar apabila ada sinergi.

“Perkembangan yang terjadi di Amerika dewasa ini tentu saja membuat Eropa dan Asia menjadi sangat penting. Untuk itu dari segi transportasi kita ingin betul-betul agar konektivitas ini bisa tumbuh seiring perkembangan ekonomi dan aspek lainnya,” tuturnya.

Konektivitas transportasi tersebut diharapkan dapat menjadi akselerator kerja sama ekonomi dan perdagangan.

“Contoh riilnya, seperti di Indonesia dengan dicabutnya banned terhadap semua airline dari Eropa, diharapkan bisa meningkatkan pelayanan antara Eropa dan Indonesia. Semua itu ada kemungkinannya dan forum ini membuka ruang untuk investasi serta memberikan informasi yang lebih baik bagi investor dari negara-negara Eropa dan Asia lainnya.”

Sementara itu, dalam pertemuan ASEM-TMM yang dibarengi dengan pameran di Bali pada tahun lalu, pemerintah menawarkan 12 proyek dan membidik investasi asing sebesar Rp30 triliun – Rp40 trilliun.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kementerian Perhubungan Sugihardjo yang juga menjadi pemimpin Delegasi Indonesia dalam ASEM-TSOM di Medan mengatakan sejumlah proyek telah mendapat minat yang serius dari investor asing.

“Sudah cukup banyak yang berjalan, contohnya pembangunan kereta api di Sulawesi sudah ada 13 investor asing yang ikut mengajukan penawaran dan 4 dari Indonesia. Dalam proyek lain, seperti bandara atau pelabuhan, mereka kerja sama bilateral dengan Pelindo dan Angkasa Pura,” katanya.

Dia mengatakan, kebutuhan akan investasi swasta, baik dalam negeri maupun asing sangat tinggi dalam pembangunan infrastruktur. Hal itu karena keterbatasan anggaran pemerintah yang diperkirakan hanya mampu memenuhi 1/3 dari total biaya. Kemitraan dengan asing dinilai tidak hanya penting dari segi investasi, tapi juga dari segi networking.

“Bisa saja kita yang bangun, tapi kalau kita mau menjadi hub internasional, harus ada networking, tidak mungkin kita bikin pelabuhan yang bagus fasillitasnya, tapi pemainnya gak ada. Mereka yang sudah punya image kan pasti punya network, itu sisi lain yang kita tarik manfaatnya.”

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya