PEREMAJAAN SAWIT di Sumbar Perlu Sasar 17.000 Hektare Kebun

Oleh: Newswire 26 April 2018 | 14:09 WIB
PEREMAJAAN SAWIT di Sumbar Perlu Sasar 17.000 Hektare Kebun
Ilustrasi./Antara

Bisnis.com, PADANG—Seluas 17.000 hektare kebun kelapa sawit di Sumatera Barat, yang berusia di atas 25 tahun perlu segera diremajakan pada 2018, kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) provinsi setempat, Irman.

"Kelapa sawit yang perlu diremajakan tersebut merupakan kebun rakyat atau swadaya masyarakat," katanya di Padang, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya luas kebun kelapa sawit di Sumatera Barat yang terdata 250.000 hektare, namun di luar itu pihaknya memperkirakan luasnya terus bertambah yang diperkirakan mencapai 450.000 hektare.

Peremajaan kelapa sawit, lanjutnya merupakan hal yang mesti diprioritaskan agar produksi jangka panjang tetap terjaga dan terus meningkat.

"Jika tidak dilakukan peremajaan, maka akan ada dampak pada jumlah dan kualitas produksi," ujarnya.

Anggaran yang akan digunakan untuk peremajaan ini nantinya dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang akan dikucurkan ke petani sawit di Sumatera Barat.

"Bantuan pembiayaan peremajaan kelapa sawit tersebut sekitar Rp25 juta per hektare," ujar dia.

Nantinya, petani sawit bisa mengajukan proposal untuk mendapatkan data tersebut melalui kelompok tani maupun koperasi karena untuk mendapatkan anggaran itu jumlah minimumnya 25 hektare.

"Bagaimana teknisnya bisa berkoordinasi dengan kelompok tani sawit yang ada di daerah masing-masing," kata dia.

Kemudian Irman menambahkan saat ini, kendala di bidang ekspor kelapa sawit adalah adanya kampanye hitam sehingga ekspor minyak kelapa sawit Indonesia turun.

Salah satu isu yang berkembang di Eropa adalah kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama terjadinya deforestasi atau berkurangnya luasan hutan di negara-negara yang memiliki hutan tropis seperti Indonesia.

Karena isu tersebut juga berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit Sumatera Barat periode 16-30 April 2018 yakni Rp1.909 per kilogram, jauh lebih rendah dibanding bulan yang sama tahun 2017 yaitu Rp2.300 per kilogram.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya