AGRI Targetkan Industri Rumah Tangga di Sumsel Gunakan Bahan Baku Gula Rafinasi

Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menargetkan konsumen dari kalangan industri rumah tangga di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel).
Ketua Umum AGRI Edy Putra Irawady./Bisnis-Husnul Iga Puspita
Ketua Umum AGRI Edy Putra Irawady./Bisnis-Husnul Iga Puspita

Bisnis.com, PALEMBANG – Pengusaha produsen gula rafinasi yang tergabung dalam Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menargetkan konsumen dari kalangan industri rumah tangga di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel).

Ketua Umum AGRI Edy Putra Irawady menilai potensi market di wilayah Sumsel sangat tinggi. Hal itu lantaran industri makanan dan minuman yang ada di wilayah itu cenderung menggunakan bahan baku gula yang cukup banyak. 

Namun, kata Edy, belum banyak para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Sumsel menggunakan bahan baku gula rafinasi. “Padahal gula rafinasi ini memiliki tingkat kemurnian yang lebih tinggi. Dan dari segi harga lebih kompetitif,” katanya kepada Bisnis, Jumat (26/5/2023).

Untuk itu pihaknya mencoba memperkenalkan penggunaan gula rafinasi, agar para pelaku industri rumah tangga maupun industri besar lain yang ada di Sumsel dapat memperbaiki kualitas bahan yang digunakan. 

Sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing lebih luas, baik itu di pasar nasional maupun internasional. “Jadi kita upayakan bagaimana para industri maupun UMKM ini bisa naik kelas dengan produk yang berkualitas,” sambungnya. 

Edy juga menjelaskan, nantinya akan dibangun ekosistem pembiayaan dan distribusi gula rafinasi ini melalui koperasi dan pusat bahan baku industri. 

Langkah itu menurutnya mempermudah para pelaku industri dan UMKM untuk memperoleh bahan baku dan juga sistem pembayaran secara bertahap. 

“Jadi mereka bisa terbantu untuk kelangsungan produksinya,” tegasnya. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif AGRI Gloria Guida Manalu mengakui keberadaan gula rafinasi ini memang belum begitu luas. Secara nasional, pengadaan gula rafinasi ini terdapat di 10 koperasi di seluruh Indonesia dengan total kuota 350 ribu ton per tahun. 

Akan tetapi, jumlah penyerapannya masih sangat minim, bahkan tidak sampai 50 persen. “ Artinya masih banyak kuota gula rafinasi yang bisa diserap oleh pelaku usaha,” katanya. 

Gloria juga menerangkan bahwa distribusi gula rafinasi ke UMKM memang tidak secara bebas, melainkan hanya melalui koperasi. “Target pasar kita itu memang industri makanan dan minuman. Supaya hasil dari para petani tebu tetap terlindungi, karena kan bahan baku gula rafinasi kita impor,” pungkasnya. (K64)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper