Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Melihat Perekonomian Sumut Jelang Lebaran 2023

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Doddy Zulverdi mengatakan hingga kini jumlah pemudik yang datang ke wilayah Sumut diprediksi mencapai 4,4 juta orang. 
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Banyak hal yang berbeda dengan Lebaran 2023 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari tidak adanya segala pembatasan dari pemerintah, hingga ancaman krisis global yang efeknya secara tidak langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Begitu pun, yang paling dinanti oleh masyarakat di masa lebaran kali ini adalah kesempatan melakukan mudik ke kampung halaman. Sejak pandemi pada 2020, para perantau harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan keluarga dengan alasan untuk menjaga orang-orang terkasih dari paparan Covid-19.

Tidak untuk tahun ini. Masyarakat bebas mudik dan bahkan berdasarkan prediksi Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada Lebaran 2023 ini mencapai 123,8 juta. 

Dampak yang ditimbulkan dari pemudik di masa lebaran ini terhadap perekonomian daerah tentu menumbuhkan optimisme akan perputaran uang di daerah yang kemudian memberikan efek kepada pelaku-pelaku usaha sehingga dapat mengangkat perekonomian.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Doddy Zulverdi mengatakan hingga kini jumlah pemudik yang datang ke wilayah Sumut jika melihat data dari Kemenhub, diprediksi mencapai 4,4 juta orang. 

"Nah ini tentu saja suatu potensi yang besar. Karena akan berdampak pada perputaran uang di Sumut," ujar Doddy kepada Bisnis, Rabu (19/4/2023).

Selain karena sudah keluarnya aturan pemerintah akan pemberian tunjangan hari raya (THR), datangnya pemudik dengan jumlah yang tidak sedikit itu tentu membawa angin segar bagi perekonomian di Sumut.

Karena, menurut Doddy, tak hanya memicu perputaran uang, kedatangan pemudik juga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian di Sumut.

"Kemudian kita juga lihat sendiri bahwa tradisi mudik ini karena perkiraan jumlah pemudik cukup besar, pemerintah juga sudah mengantisipasi dampak kemacetan dengan membuka jalur tol baru, meskipun beberapa bagian masih belum operasional ya, tapi sudah fungsional," jelas Doddy.

Hal itu dinilainya juga akan berdampak pada percepatan dari infrastruktur itu sendiri. Karena aktivitas pemudik inilah yang menjadi salah satu pemicu dari percepatan proses penyelesaiannya. 

"Perhitungan kami, ini juga yang menjadi salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi di daerah kita," timpalnya.

Selain perputaran uang dan percepatan pembangunan infrastruktur, Doddy menyebut pemudik juga akan memicu peningkatan konsumsi di daerah. Biasanya kalau terkait dengan barang, konsumsi untuk pembelian mobil, motor, bahan makanan, pakaian, dan juga komunikasi. 

"Nah inilah beberapa jenis produk yang akan berdampak positif dari mudik ini," sambungnya.

"Meski memang kita perlu waspada terhadap dampaknya dengan inflasi. Memang selama isi selalu, setiap lebaran, ada tekanan permintaan yang berdampak pada harga. Tapi sejauh ini saya melihat potensi atau risiko kenaikan inflasi yang besar di tahun ini akibat dari hari besar keagamanan Idulfitri ini, kecil."

Bukan tanpa dasar. Perkiraan tersebut didasari oleh data-data yang ada. Sampai dengan bulan Maret misalnya, dimana sebagian bulan Ramadan juga termasuk di dalamnya, Sumut berhasil mencetak angka deflasi 0,31 persen, month to month (mtm).

Kondisi ini disebut Doddy agak berlawanan dengan kondisi yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Karena biasanya sebelum Ramadan pun inflasi sudah ikut naik.

"Jadi ini kondisi yang baik, bahwa pengendalian inflasi cukup baik di daerah kita. Harga-harga terkendali. Memang seperti daging sapi ada indikasi naik, tapi tidak terlalu besar. Kalau pun nanti ada tekanan inflasi sampai dengan lebaran, kami perkirakan relatif kecil," tuturnya.

Yang jelas, Doddy memprediksi Lebaran kali ini akan membuat pertumbuhan ekonomi di Sumut di triwulan 2 ini akan lebih baik dari triwulan 1. 

"Selama Covid-19, kan rendah sekali ya. Pertumbuhan ekonomi di 2020 di triwulan lebarannya, angka quarter to quarternya (qtq) di triwulan ketika ada lebaran itu memang negatif sampai dengan 4,7 persen, negatif. Kemudian di triwulan masa Lebaran 2021 sedikit membaik, jadi positif 1,83 persen," jelasnya lagi.

Begitu pun, Doddy berharap di 2023 ini perekonomian di Sumut bisa kembali seperti sebelum krisis masa pandemi. Sebelum pandemi, triwulan di masa lebaran terjadi kisarannya selalu berkisar diatas 3 persen.

"Tahun ini kita prediksi bisa lebih baik, cuma memang tidak akan setinggi seperti sebelum pandemi. Karena ini masih proses pemulihan, tapi prediksi kami pada triwulan lebaran kali ini bisa naik secara qtq sekitar 2,7 persen," tambah Doddy

Di satu sisi, lebaran dapat memicu kenaikan konsumsi, juga kenaikan di beberapa lapangan usaha seperti makanan dan minuman, perhotelan, tranportasi. Akan tetapi di sisi lain, karena liburnya juga cukup panjang, kegiatan produksi juga akan turun. Sehingga menurut Doddy, hal ini yang menyebabkan ada kenaikan (harga) di beberapa lapangan usaha, 

"Tapi prediksi kami, tahun ini triwulan lebaran itu secara qtq dibandingkan triwulan sebelumnya, itu bisa tumbuh 2,7 persen. Angka tersebut lebih baik dari tahun lalu yang angkanya 2,5 persen qtq," ucapnya.

Lalu sektor-sektor yang bertumbuh selama lebaran ini di Sumut kalau mengacu di triwulan 2 tahun lalu, tambah Doddy yang tumbuh cukup tinggi lapangan usahanya itu adalah transportasi dan pergudangan yang tumbuh lebih dari 7 persen qtq, dan juga akomodasi makanan dan minuman ya tumbuh 4,72 persen qtq.

"Nah tahun ini bagaimana? Kami memperkirakan karena kegiatan mudik ini akan berdampak juga ke transportasi, pergudangan, kemudian konsumsi akan berdampak pada akomodasi ya, hotel, restoran. Itulah sektor-sektor yang akan berdampak positif," kata Doddy.

Tahun ini pun ia memperkirakan transportasi dan penyedia makanan, minuman dan juga akomodasi, akan mencatat pertumbuhan lebih baik daripada sektor-sektor lain. Karena peningkatan mobilitas dan peningkatan konsumsi. 

"Dan juga secara historis, berdasarkan kajian yang pernah kami lakukan, korelasinya cukup kuat antara kunjungan wisatawan, khsusnya wisatawan nusantara dengan tingkat hunian hotel dan pendapatan di sektor perdagangan hotel dan restaurant. Ini sebagai ilustrasi buat hitungan. Pada saat sebelum pandemi, rata-rata elastisitas kenaikan wisatawan nusantara ataupun penumpang domestik, terhadap tingkat hunian hotel itu sekitar 0,38 persen."

Artinya, setiap terjadi kenaikan 1 persen kunjungan domestik melalui udara, hal itu berdampak sekitar 0,38 persen kenaikan di sektor perhotelan. Dan itu baru dari sisi angkutan udara. 

Jika ditambah lagi dengan peningkatan arus mudik selama lebaran jalur darat, secara keseluruhan Doddy memperkirakan potensi kenaikan bisnis di sektor perhotelan dan perdangan ini bisa naik sampai dengan 50 persen dari masa normal. 

Di kesempatan yang berbeda, pengamat ekonomi Universitas Sumatera Utara Wahyu Arik Pratomo mengatakan hal yang senada.

Ia memprediksi sektor yang tumbuh pada periode lebaran ini adalah perdagangan, akomodasi dan restoran, transportasi, jasa dan lainnya. 

"Besar pertumbuhan sektoralnya bervariasi 0,2 persen sampai dengan 1,0 persen dari periode lainnya di tahun berjalan," ujarnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Sumut Denny S Wardhana mengutarakan pernyataan yang berbeda dengan prediksi-prediksi tersebut. 

Hingga kini, Denny menyebut okupansi perhotelan di Medan dan di wilayah pariwisata Sumut masih mencapai 40-50 persen. 

Angka tersebut berbanding balik dengan kondisi tahun lalu yang di daerah pariwisata, okupansinya bisa mencapai 100 persen.

"Saya bingung juga ya. Pelepasan PPKM sudah. Apakah daya beli ya, saya terpikirnya begitu. Mungkin, atau masih menahan. Karena tidak naik seperti tahun lalu. Tahun lalu di daerah wisata (sudah) 100 persen, sedangkan di Medan sudah 70-80 persen," papar Denny.

Padahal, Denny menyebut hotel-hotel di Medan dan wilayah lain di Sumut sudah memberikan penawaran promosi paket menginap dengan harga miring untuk menarik minat masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Ade Nurhaliza
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler