Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fluktuasi Harga Kedelai di Medan, Pengusaha: Kami Serba Salah

Perajin tahu dan tempe merupakan pihak paling besar terkena dampak akibat kenaikan harga kacang kedelai.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  14:53 WIB
Pabrik tempe dan tahu di Jalan Flamboyan V, Kota Medan.
Pabrik tempe dan tahu di Jalan Flamboyan V, Kota Medan.

Bisnis.com, MEDAN - Perajin tempe dan tahu di Kota Medan mengeluhkan harga kedelai yang melambung sejak awal Januari 2021. Saat ini, harga kedelai dari distributor mencapai Rp9.000 perkilogram.

Perajin sekaligus pemilik Pabrik Tahu UD Anugrah Cipta Nusantara Jonathan Silitonga menyatakan sebelum harga kedelai naik, usahanya meraup untung rata-rata Rp45 juta per bulan. Selama Januari 2021, keuntungannya merosot hingga 33 persen.

“Kami kan produksi rata-ratanya satu ton per hari, kalo dihitung sekitar Rp45 juta sebulan cuma belum dikurangi gaji karyawan. Sekarang keuntungannya sekitar Rp30 juta-an,” ungkap Jonathan di Pabrik Tahu UD Anugrah Cipta Nusantara, Medan Tuntungan, Selasa (19/1/2020).

Jonathan menyatakan, perajin tahu dan tempe merupakan pihak paling besar terkena dampak akibat kenaikan harga kacang kedelai. “Serba salah kalau kita mau naikkan harga. Waktu lagi mahal-mahalnya, ada yang ambil kesempatan ambil langganan awak,” tambah Jonathan

Meski begitu, Jonathan menyebutkan produksi pabrik masih tetap terjaga. Pabriknya masih mampu memproduksi tahu sebanyak satu ton per hari.

Dihubungi terpisah, perajin tahu dan tempe Lilis juga menyatakan mengeluhkan hal yang sama. Keuntungannya berkurang hingga 20 persen pada bulan Januari Selain itu, produksi tahu dan tempe di pabriknya menjadi terbatas karena pihak distributor membatasi pembelian kedelai karena keterbatasan stok.

“Dijatah dari distributor. Lebih dari lima ton gak bisa. Misalnya, (kedelai) masuk kadang 10 hari sekali tujuh ton. Ini cuma dapat lima ton,” kata Lilis, Selasa (19/1/2021).

Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sumatra Utara Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sumut Barita Sihite menjelaskan harga kedelai di pasar global memang melambung tinggi.

Hal ini karena adanya double order kedelai dari China dan hambatan logistik di Argentina sehingga terjadi keterlambatan pengiriman menuju Indonesia. “Ada kebutuhan China di awal tahun sampai mereka double order. Pasti harga terjadi gonjang-ganjing,” kata Barita, Selasa (12/1/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

medan kedelai sumut
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top