Sumsel Berambisi Tekan Angka Kemiskinan 1% Tiap Tahun

Pemprov Sumatra Selatan berambisi menurunkan angka kemiskinan minimal 1% setiap tahun untuk mengejar target tingkat kemiskinan menjadi satu dig
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  17:14 WIB
Sumsel Berambisi Tekan Angka Kemiskinan 1% Tiap Tahun
Warga beraktivitas di permukiman semi permanen - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemprov Sumatra Selatan berambisi menurunkan angka kemiskinan minimal 1% setiap tahun untuk mengejar target tingkat kemiskinan menjadi satu digit.

Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru mengatakan pihaknya optimistis target tersebut tercapai seiring adanya indikator positif dari perekonomian provinsi itu.

“Pertumbuhan ekonomi Sumsel di atas nasional, inflasi juga terkendali sehingga saya yakin target [angka kemiskinan] turun minimal 1% bisa tercapai,” katanya baru -baru ini.

Deru mengatakan masih tingginya angka kemiskinan yang mencapai 12,71% menjadi tugas utama pemerintah daerah untuk segera diatasi.

Oleh karena itu, kata dia, pemda saat ini cenderung membuat kebijakan yang dapat berpengaruh pada penurunan angka kemiskinan.

Salah satunya, pemprov fokus pada peningkatan produksi pertanian juga pemerataan infrastruktur di daerah.

Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, angka kemiskinan Sumsel telah turun 0,11% dari semula 12,82% per September 2018 menjadi 12,71% per Maret 2019.

Jumlah penduduk miskin pada periode terbaru tercatat mencapai 1,07 juta orang atau berkurang 2.660 orang. Sementara secara sebaran, jumlah penduduk miskin lebih tinggi di perdesaan ketimbang di kota.

Sementara itu, Kepala BPS Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan pemda harus berupaya keras menurunkan angka kemiskinan.

Pasalnya, dia menilai, penurunan yang dicatat pihaknya masih tergolong lambat atau belum signifikan.

“Kemiskinan di Sumsel tidak signifikan penurunannya karena tampaknya kita [bantuan] masih stuck di kelompok masyarakat menengah dan ke atas,” katanya.

Endang menjelaskan pemerintah seharusnya lebih fokus memberikan kebijakan dan program bantuan ke 40% penduduk terbawah secara pengeluaran.

Berdasarkan pengelompokkan Bank Dunia, kata Endang, penduduk dibagi dalam tiga kelompok, yakni 40% berpengeluaran rendah, 40% berpengeluaran menengah dan 20% berpengeluaran tinggi.

Namun demikian, Endang menilai, banyak faktor yang mendukung penurunan angka kemiskinan di Sumsel.  Salah satunya terjadi kenaikan upah buruh tani dari Rp1,39 juta per bulan pada Agustus 2018 menjadi  Rp1,69 juta per bulan pada kondisi Januari 2019.

“Upah buruh kami catat naik signifikan sebesar 21,58%. Selain itu upah buruh konstruksi juga meningkat 1,57%,” katanya.

Tak hanya itu, dia menambahkan, perkembangan harga sawit yang merupakan komoditas andalan Sumsel turut mendukung penurunan angka kemiskinan.

Endang mengatakan  harga tandan buah segar (TBS) meningkat dari Rp103 pada 2018 menjadi Rp 109 pada kondisi Maret 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, kemiskinan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top