Petani Karet di Sumsel Beralih Tanam Pinang

Petani karet di Sumatra Selatan mulai beralih menanam pinang karena dinilai lebih menguntungkan sejak harga karet tak kunjung membaik.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  17:15 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG – Petani karet di Sumatra Selatan mulai beralih menanam pinang karena dinilai lebih menguntungkan sejak harga karet tak kunjung membaik.

Ketua Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB) Bina Kertayu, Sahri, mengatakan petani di kelompoknya telah rutin menanam pinang sejak 2015 lalu.

“Harga buah pinang saat ini sekitar Rp13.000 per kilogram di tingkat petani. Harga itu jauh lebih baik dibanding karet yang sekarang hanya Rp7.000 – Rp8.000 per kg,” katanya, Kamis (18/7/2019).

Sahri menambahkan petani cenderung menanam pinang juga karena perawatannya dinilai lebih mudah dibanding karet.

“Sebelum dijual buah pinang harus dijemur terlebih dahulu untuk mengurangi kadar airnya,” katanya.

Sahri melanjutkan di Desa Kertayu sudah ada sekitar 25 hektare kebun pinang yang ditanam oleh petani secara berkelompok.

Lahan yang digunakan pun berasal dari kebun karet yang sudah tua dan tidak produktif, kemudian dialifungsikan menjadi kebun pinang.

Dia menjelaskan dalam satu hektare lahan dapat ditanami 900 pohon pinang, rata-rata pohon dengan usia 4-5 tahun bisa menghasilkan dua kilogram buah pinang.

“Apalagi jika menanam bibit unggul, maka massa berbuah akan lebih cepat hanya 3,5 tahun,” katanya.

Menurut dia,  informasi mengenai pasar buah pinang ini sebetulnya sudah diketahui petani sejak beberapa tahun lalu.

Hanya saja, saat itu tidak begitu dihiraukan karena harga jual karet masih tinggi. Namun kini, pinang menjadi alternatif utama petani menggantikan karet.

Untuk pasar sendiri, pihaknya menjual langsung ke pabrik di Provinsi Jambi. Buah pinang tersebut digunakan untuk campuran dalam pewarna tekstil dan cat. Menurut  Sahri, penjualan dilakukan setiap satu atau dua minggu sekali.

“Petani secara berkelompok biasanya akan menyewa mobil dan membawa hasil panen langsung ke pabrik di Jambi. Rata-rata sekali angkut itu 4-5 ton,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran dan Pengolahan Hasil Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan petani yang hendak menanam pinang sebenarnya tidak harus menebang kebun karet mereka. 

Pasalnya, pohon pinang menjadi salah satu tanaman sela (intercropping) yang bersifat tanaman semusim atau tahunan.

“Sebetulnya tidak perlu menebang pohon karet untuk menanam pisang. Kami menganjurkan agar pinang dijadikan tanaman sela saja. Apalagi harga pinang pun naik turun,” ujarnya.

Bedasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel di tahun 2017, terdapat 1.522 ha lahan perkebunan pinang milik petani.

Rinciannya 317 ha kategori belum menghasilkan, 1.119 ha menghasilkan, dan 87 ha tanaman tua menghasilkan maupun rusak. Dari lahan tersebut jumlah produksi mencapai 792 ton per tahun.

Rudi menyarankan, hal yang penting bagi petani karet saat ini adalah memperbaiki mutu bokar dan intensifikasi karet.

Dia menjelaskan dengan melakukan pembersihan lahan dan pemupukan brokasih atau membuat lobang biopori, sehingga daun-daun karet yang kering bisa ditimbun di tempat itu.

“Dengan upaya itu maka diharapkan produksi dan kualitas karet dapat lebih meningkat yang tentunya akan berdampak terhadap harga,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
petani karet, sumsel

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top