Transaksi Saham Warga Sumbar Capai Rp1,03 Triliun per Januari 2019

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi saham masyarakat Sumatra Barat di awal tahun ini mencapai Rp1,03 triliun dari 13.502 investor.
Heri Faisal
Heri Faisal - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  18:13 WIB

Bisnis.com, PADANG—PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi saham masyarakat Sumatra Barat di awal tahun ini mencapai Rp1,03 triliun dari 13.502 investor.

Angka itu merupakan akumulasi dari seluruh investor saham dengan KTP Sumbar. Total dari nilai transaksi itu, volume transaksi saham masyarakat setempat mencapai 11.248.831 lot, dengan frekuensi transaksi sebanyak 56.737 kali.

“Sejauh ini cukup menjanjikan. Kami perkirakan transaksi saham masyarakat asal Sumbar ke depannya masih akan terus meningkat,” kata Early Saputra, Kepala BEI Perwakilan Sumbar, Selasa (26/2/2019).

Sementara itu, total transaksi sepanjang Januari dari 11 anggota bursa yang ada di Sumbar juga cukup tinggi mencapai Rp446 miliar.

Early mengatakan peningkatan transaksi, juga sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor asal daerah itu yang selalu tumbuh di atas 29% sejak 2012. Bahkan, tahun lalu pertumbuhan jumlah investor saham Sumbar mencapai 50,14%.

Per Januari 2019, penambahan jumlah investor baru asal daerah itu sebanyak 553 orang. Total di akhir tahun lalu, jumlah investor dengan KTP Sumbar sudah menyentuh angka 13.098 rekening efek.

Jika dirinci, investor bursa Sumbar paling banyak berasal dari Kota Padang dengan jumlah 7.880 investor, Kabupaten Tanah Datar sebanyak 1.148 investor, Agam sebanyak 841 investor, dan Kota Bukittinggi 838 investor.

Kemudian, Kota Solok sebanyak 706 investor, Pesisir Selatan 505 investor, Kota Payakumbuh 491 investor, Padang Pariaman 425 investor, Limapuluh Kota 397 investor, Pasaman Barat 368 investor, Sijunjung 327 investor, Dharmasraya 307 investor, dan sisanya rata-rata di bawah 200 investor.

Untuk meningkatkan jumlah investor bursa itu, BEI akan meningkatkan sosialisasi dan menambah galeri – galeri investasi di berbagai daerah, termasuk di pasar - pasar.

“Kami rencananya mau buka di pasar – pasar. Sudah ada beberapa pasar yang kami pantau, seperti Pasar Raya Padang dan Pasar Padang Panjang,” kata Early.

Dia mengatakan pedagang pasar perlu mendapatkan pengetahuan dan informasi mengenai berinvestasi dengan benar, sebab, selama ini banyak pedagang yang kehilangan uangnya karena investasi bodong.

Apalagi, imbuhnya, pedagang pasar merupakan calon potensial untuk meningkatkan jumlah investor saham di daerah, mengingat cukup banyak masyarakat Sumbar yang berprofesi sebagai pedagang.

Selain pasar, BEI juga berencana masuk ke nagari – nagari atau desa untuk memberikan edukasi mengenai investasi di bursa saham kepada masyarakat pedesaan.

Sebelumnya, bursa efek lebih banyak melakukan sosialisasi di perguruan tinggi dan instansi pemerintahan. Juga mendirikan galeri investasi di kampus – kampus.

Saat ini, BEI Sumbar sudah membuka galeri investasi di Universitas Andalas (Unand), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Putra Indonesia (UPI YPTK), UIN Imam Bonjol, dan Politeknik Negeri Padang.

Selain itu, juga di Universitas Dharma Andalas (Unidha), Universitas Dharmas Indonesia (Undhari), Universitas Bung Hatta (UBH) dan IAIN Batusangkar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumbar, transaksi saham

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top