Rupiah Melemah, MARK Kian Optimistis Capai Target

Oleh: Ropesta Sitorus 06 September 2018 | 18:30 WIB
Rupiah Melemah, MARK Kian Optimistis Capai Target
Ridwan Goh, Chief Executif Officer PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (tengah) saat memimpin Rapat Umum Pemegang Saham. Dalam RUPSLB Ridwan Goh dipilih menjadi CEO Mark Dynamics Indonesia Tbk, yang baru/Bisnis.com-M. Abdi Amna

Bisnis.com, MEDAN –PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK), emiten produsen cetakan sarung tangan karet yang berbasis di Sumatra Utara,  optimistis mampu memenuhi target kinerja di tengah perkembangan rupiah yang terdepresiasi ke level Rp14.893 per dolar AS.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. Ridwan Goh mengatakan di tengah volatilitas rupiah yang cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir, kinerja perseroan tetap pada jalur pertumbuhan yang ditargetkan.

“Meskipun sebagian besar komponen biaya berdenominasi dolar AS, penjualan kami mayoritas untuk pasar ekspor sehingga kami malah mendapat berkah dari hal ini,” kata Ridwan lewat keterangan resmi kepada Bisnis, Kamis (6/9/2018).

Dia menjelaskan, perseroan saat ini memiliki struktur biaya produksi dengan komponen impor yang tinggi, yakni berkisar 50% dari total biaya.

Dari sisi bahan baku, pergerakan nilai tukar rupiah relatif terjaga karena sudah ada kontrak pasokan untuk periode tertentu. Akan tetapi, dengan komposisi penjualan yang lebih dari 90% untuk pasar ekspor, perseroan justru mendapat berkah dari selisih kurs yang diterima.

“Perseroan mengalami natural hedging atas perbedaan selisih kurs ini, dan hal ini membuat kami tetap dapat menjaga struktur biaya yang rendah. Oleh karena itu, kami juga dapat memastikan target bisnis 2018 akan tetap tercapai sesuai rencana,” ungkapnya.

Mark Dynamics Indonesia sebagai produsen utama cetakan sarung tangan karet menargetkan pencapaian kinerja tahun 2018 dengan pendapatan sebesar Rp310,5 miliar dan target laba bersih setelah pajak Rp72 miliar.

Realisasi hingga akhir Juni 2018, pendapatan yang dibukukan perseroan mencapai Rp155,45 miliar atau 50,1% dari target, sedangkan laba bersih hingga semester I/2018 sebesar Rp36,54 miliar atau sebesar 50,75% dari target akhir tahun.

Secara historis, lanjut Ridwan, pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar AS pada 2017 lalu tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja perseroan yang saat itu masih mencatatkan kinerja positif.

“Begitupun saat ini, dengan nilai tukar rupiah berkisar 15.000 rupiah per dolar, secara analogi perseroan akan tetap stabil dengan peningkatan kinerja secara umum,” lanjutnya.

Dia memerinci, dari perkembangan nilai tukar rupiah pada akhir 2015 sampai dengan akhir 2017 yang berkisar 13.795 dan 13.548 rupiah per dolar, perseroan selalu membukukan pendapatan netto dari selisih kurs. Hal itu lantaran kontributor pendapatan terbesar berasal dari ekspor dengan nilai mencapai 97% dibandingkan pasar lokal.

Kendati bahan baku sebagian besar ekspor, pengelolaan utang perseroan dalam mata uang asing juga masih cukup baik, tampak dari dari rasio perputaran utang yang masih lebih besar dibandingkan dengan rasio perputaran piutang. Rasio perputaran utang pada 2016 dan 2017 sebesar 25,6 dan 9,7, sedangkan rasio perputaran piutang pada tahun tersebut masing-masing 4,8 dan 4,2.

Perseroan juga memiliki pinjaman bank dalam mata uang Dolar AS yang ditujukan untuk membiayai modal kerja, tetapi dengan rasio terhadap modal yang masih rendah, yakni sebesar 0,16% pada tahun 2017.

“Selama masih mengelola utang dengan baik, dampak pelemahan rupiah justru akan meningkatkan pendapatan perseroan, bahkan diperkirakan dalam jangka pendek akan mendapatkan beberapa keuntungan lain dari dampak kebijakan makro pemerintah seperti kemudahan ekspor. Tapi kami mengharapkan pelemahan rupiah masih dalam batas yang tidak mempengaruhi kondisi makro yang berdampak pada faktor lain di luar faktor keuntungan kompetitif perseroan.”

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya