Anggaran Ketahanan Pangan di Sumsel Terealisasi Rp435,4 Miliar, Ini Rinciannya

Realisasi anggaran ketahanan pangan di Sumatra Selatan menunjukkan peningkatan secara berturut-turut selama tiga tahun terakhir.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, PALEMBANG – Realisasi anggaran ketahanan pangan di Sumatra Selatan menunjukkan peningkatan secara berturut-turut selama tiga tahun terakhir. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatra Selatan (DJPb Sumsel) alokasi anggaran ketahanan pangan sepanjang tahun 2023 sebesar Rp435,4 miliar atau lebih besar dari tahun sebelumnya yang senilai Rp377,7 miliar. 

“Meningkat Rp57,7 miliar dibanding 2022 yang digunakan untuk penyediaan benih, bibit, sarana prasarana panen dan pembangunan serta rehabilitasi jaringan irigasi,” kata Kepala Kantor Wilayah DJPb Sumsel Rahmadi Murwanto, dikutip Jumat (2/2/2024). 

Alokasi anggaran ketahanan pangan tersebut dimanfaatkan antara lain untuk belanja K/L sebesar Rp303,5 miliar dan belanja penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp131,9 miliar. 

Secara lebih rinci, alokasi untuk belanja K/L meliputi benih berkualitas sebanyak 1,28 juta unit dengan dana Rp2,04 miliar, bibit unggul 1,53 juta unit dengan anggaran Rp10,7 miliar, sarana dan prasarana pascapanen sebesar Rp5,43 miliar dengan jumlah 26 unit, dan pembangunan irigasi sepanjang 16,24 kilometer dengan nilai Rp137,5 miliar serta rehabilitasi irigasi sepanjang 5.340,83 kilometer dengan anggaran Rp147,7 miliar. 

Sedangkan untuk penyaluran TKD dialokasikan untuk DAK fisik pertanian sebesar Rp80,79 miliar, DAK fisik irigasi sebesar Rp45,7 miliar dan DAK non fisik ketahanan pangan dan pertanian sebesar Rp5,39 miliar. 

Di lain sisi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono mengungkapkan pada tahun lalu Sumsel mampu menduduki urutan ketiga tertinggi dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. 

Menurutnya, dengan gelar sebagai salah satu daerah lumbung pangan di tanah air fokus utama yang patut dilakukan oleh Sumsel adalah meningkatkan kontribusi yang lebih besar, utamanya pada produksi padi. 

“Kita sudah disebut sebagai penyangga pangan nasional, artinya kita surplus. Nah, sekarang bagaimana meningkatkan surplus itu,” kata dia. 

Berbagai upaya yang dilakukan untuk mampu mewujudkan itu meliputi peningkatan sinergitas di semua lapisan, pendampingan yang lebih masif serta melakukan berbagai program terobosan seperti menarik investor. 

“Salah satunya penggilingan padi besar, jadi mereka tidak hanya membeli saja tetapi juga ikut terlibat dalam membina petani seperti menyalurkan modal dan lain sebagainya,” pungkas Bambang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper