Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Alokasi Pupuk Subsidi Sumsel Tahun Ini Menurun, Segini Rincian Urea dan NPK

Alokasi pupuk yang disalurkan oleh pemerintah pusat melalui Pupuk Indonesia berdasarkan pada jumlah usulan yang diajukan oleh setiap kabupaten/kota.
Seorang petani sedang menabur pupuk./Getty  Image
Seorang petani sedang menabur pupuk./Getty Image

Bisnis.com, PALEMBANG – Alokasi pupuk subsidi tahun 2024 untuk Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) tercatat mengalami penurunan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya. 

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 744/KPTS/SR.320/12/2023 tentang penetapan alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk subsidi menetapkan alokasi untuk wilayah Sumsel sebanyak 72.752 ton untuk urea dan 69.452 ton untuk NPK. 

Sementara pada 2023, Sumsel mendapatkan alokasi pupuk subsidi sebanyak 250.000 ton untuk pupuk urea dan 188.000 ton NPK. Hanya saja yang terdaftar di e alokasi berjumlah 150.000 ton untuk urea dan 172.000 ton untuk NPK.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Yudi Sudihartono menjelaskan alokasi pupuk yang disalurkan oleh pemerintah pusat melalui Pupuk Indonesia berdasarkan pada jumlah usulan yang diajukan oleh setiap kabupaten/kota. Namun, karena adanya keterbatasan anggaran dari pusat dan kenaikan bahan baku pupuk NPK maka alokasi dibatasi. 

“Secara nasional memang dibatasi, kurang lebih per provinsi hanya mendapatkan 53% dari usulan yang diajukan,” katanya, Senin (15/1/2024). 

Kendati demikian, imbuhnya, untuk musim tanam selanjutnya pemerintah pusat berencana melakukan penambahan untuk anggaran pupuk subsidi. 

Hal itu tertuang dalam surat Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Nomor : B-05/RC.210/B/01/2024 yang menyebutkan usulan anggaran tambahan untuk pupuk subsidi sesuai arahan Presiden RI sebesar Rp14 triliun setara dengan sekitar 2,5 juta ton sedang diproses. 

“Rencananya akan ditambah, jadi kita tunggu. Mudah-mudahan benar,” imbuhnya. 

Sementara itu, Fungsional Analis Muda Pupuk dan Pestisida, Sarifuddin Umri mengakui capaian serapan pupuk di Sumsel tahun 2023 secara keseluruhan memang tidak sebesar dibanding dua tahun sebelumnya. 

Hal itu, kata dia, dipengaruhi oleh beberapa kondisi salah satunya Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022 tentang perubahan komoditas penerima pupuk subsidi hanya menjadi sembilan komoditas diantaranya jagung, padi, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi dan kakao. 

“Jadi diluar komoditas itu tidak dapat lagi. Padahal di Sumsel ada komoditas lain seperti sawit, nanas, karet, ubi-ubi an dan tanaman hortikultura seperti di Pagaralam itu ada kentang, kubis. Ini makanya penyerapan rendah,” jelasnya. 

Penyebab lain juga seperti sistem penebusan serta kondisi El Nino yang menyebabkan proses tanam petani terhambat dan pupuk subsidi tidak terserap.

“Kekeringan yang panjang, petani tidak menanam sehingga alokasi pupuknya tidak terserap. Dan ketika sudah bisa menanam, ada juga yang terkendala keuangan,” jelasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper