Erupsi Marapi, 191 Ha Lahan Pertanian Sumbar Terdampak Abu Vulkanik

Total luas lahan yang terkena dampak erupsi Gunung Marapi mencapai 191 hektare yang tersebar di 3 nagari/desa di Kecamatan Canduang.
Seorang petani memanen tomat di Desa Batu Palano, Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Senin (4/12/2023)./Bisnis-Muhammad Noli Hendra
Seorang petani memanen tomat di Desa Batu Palano, Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Senin (4/12/2023)./Bisnis-Muhammad Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Erupsi Gunung Marapi, Sumatra Barat, yang masih terjadi hingga sekarang menyebabkan hujan abu vulkanik di sejumlah desa dan hal ini turut berdampak kepada tanaman sayur.

Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumbar mendata total luas lahan yang terkena dampak erupsi Gunung Marapi mencapai 191 hektare yang tersebar di 3 nagari/desa di Kecamatan Canduang. Dari total lahan terdampak itu, ada 40,5 ha dalam kategori puso alias gagal panen.

Sekretaris Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumbar Ferdinal Asmin mengatakan hujan abu vulkanik yang terjadi akibat erupsi Gunung Marapi turut melanda kawasan pertanian sayur di daerah Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.

"Sebenarnya di Kecamatan Sungai Pua juga ada tanaman pertanian terkena abu vulkanik. Tapi data yang baru kami terima dari Kecamatan Canduang saja," katanya, Rabu (6/12/2023).

Dia menjelaskan total luas tanaman yang terkena dampak abu vulkanik itu, berbagai jenis tanaman serta kategori dampak yang ditimbulkan. Seperti di Desa Bukik Batabuah, untuk tanaman cabe luas lahan yang terkena abu vulkanik 25 ha, dimana untuk dampak yang ditimbulkan dalam kategori ringan luasnya 12 ha, sedang 2 ha, berat 3 ha, dan puso 8 ha.

Lalu ada tomat dengan luas lahan terkena dampak 13 ha, dan gagal panen 7 ha. Kubis juga terkena dampak yaitu 3 ha dan kondisinya masih bisa diselamatkan. Selanjutnya tanaman bawang merah luas terdampak 4 ha, terung 3 ha, ubi jalar 6.

"Untuk bawang merah ini ada yang rusak berat 1 ha, tapi masih bisa diselamatkan dengan cara disiram. Kalau puso itu, sudah tebal sekali abunya, jadi tidak bisa dipanen," ungkapnya.

Dampak hujan abu vulkanik ini juga sampai di Desa Lasi. Di desa ini untuk cabe yang terkena dampak seluas 30 ha dan mengalami puso 10 ha.Tomat ada 15 ha dan mengalami puso 8 ha. Serta kubis 3 ha dan terjadi puso 1 ha.

Bawang merah 3 ha dan kondisi ada 2 ha terjadi puso. Sedangkan terung luas lahan terdampak 6 ha dan mengalami puso 4 ha. Lalu pisang 1 ha lahan terdampak dan hanya sebagian kecil yang gagal panen.

"Untuk Desa Lasi ini cukup luas lahan tanaman yang mengalami puso, karena dari laporan petugas di lapangan di desa itu cukup tebal abu vulkaniknya," sebut dia.

Ferdinal juga menyebutkan untuk di Desa Canduang Koto Laweh cabai merah terkena dampak dengan luas 35 ha, tomat 15 ha, kubus 7 ha, bawang merah 7 ha, terung 12 ha, dan ubi jalar 6 ha. "Di desa ini tidak ada tanaman yang mengalami puso. Artinya dampak yang ditimbulkan masih bisa ditangani atau sayurnya masih bisa dipanen," tutupnya.

Dikatakannya di kawasan Canduang memang cukup luas pertanian, dan didominasi tanaman sayur. Namun dari beberapa desa itu, cabai merah yang cukup luas terkena dampak abu vulkanik.Ferdinal menjelaskan untuk tanaman sayur dalam kategori dampak ringan-berat itu, masih tergolong tanamannya masih bisa diselamatkan atau dipanen.

"Caranya, petani harus menyiram tanamannya, sehingga abu-abu vulkaniknya bisa dibersihkan dari tanaman. Tapi ada abu yang terlalu tebal melekat di sayurnya, dan jika disiram pun tidak bisa membersihkan abu-abu nya itu. Hal itu membuat petani gagal panen," ucap dia.

Dia juga menyebutkan selain di Kecamatan Canduang, dampak vulkanik juga terjadi di Kecamatan Sungai Pua. Hanya saja di daerah itu telah turun hujan, sehingga tanaman sayur sudah berangsur membaik."Kalau sudah ditolong hujan untuk membersihkan abu nya, artinya bisa diselamatkan asalkan abunya tidak terlalu tebal," tegasnya.

Diakuinya bahwa pihaknya masih menunggu data dari daerah lain yang juga turut terdampak abu vulkanik, seperti di Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper