Bappeda Sumsel Tetapkan Delapan Strategi Tahun 2024-2025

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatra Selatan (Sumsel) merencanakan delapan strategi utama yang akan direalisasikan pada tahun 2024-2026.
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, PALEMBANG – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatra Selatan (Sumsel) merencanakan delapan strategi utama yang akan direalisasikan pada tahun 2024-2026.

Delapan strategi tersebut diantaranya perwujudan transformasi ekonomi, peningkatan kondusivitas perekonomian wilayah, pemerataan pembangunan,serta peningkatan kualitas dan daya saing angkatan kerja.

Selanjutnya, strategi lain seperti optimalisasi pemberdayaan masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan, meningkatkan mutu serta aksesibilitas layanan dasar pendidikan dan kesehatan, mengoptimalisasi pengelolaan lingkungan hidup dan bencana daerah, dan terakhir yaitu percepatan reformasi birokrasi pemerintahan Sumsel.

Kepala Bappeda Sumsel Regina Ariyanti yang diwakili oleh Kepala Sub Bidang Pendanaan Pembangunan, Brilliant Faisal mengungkapkan delapan strategi tersebut dibuat berdasarkan pada permasalahan pokok yang masih menjadi tantangan bagi pihaknya.

Menurut penjelasan Faisal, Bappeda Sumsel masih memiliki lima catatan permasalahan yang perlu dibenahi.

Permasalahan pertama yakni kemandirian perekonomian daerah yang belum optimal. Faisal mengatakan hal itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor mulai dari sistem bagi hasil dengan pusat, daya saing yang masih rendah serta sektor pariwisata di daerah tersebut.

“Bappeda berkeinginan agar permasalahan perekonomian daerah ini bisa diatasi secara bersama dengan pihak-pihak terkait di daerah,” ujar Faisal kepada Bisnis, Kamis (2/2/2023).

Kedua, permasalahan tentang kesejahteraan masyarakat yang belum merata dan daya saing sumber daya manusia yang belum optimal.

“Daya saing ini macam-macam sebenarnya, tapi kalau dari Sumsel sendiri yang masih jadi sorotan persoalan kesehatan dan pendidikan,” tambahnya.

Persoalan keempat yang masih menjadi sorotan adalah meningkatnya degradasi kualitas lingkungan hidup dan bencana daerah.

Faisal menilai, hal itu salah satunya disebabkan oleh daerah Sumsel masih terpaku pada sektor unggulan seperti batu bara.

Selain beberapa permasalahan yang masih menjadi tantangan, Bappeda juga mencatatkan capaian baik dari wilayah Sumsel.

Beberapa indikator seperti pertumbuhan ekonomi Sumsel 2022 yang sudah baik, dengan hasil 5,34 persen dan 5,72 persen secara nasional.

Bahkan, Sumsel juga menjadi peringkat ke-2 di wilayah Sumatra, dalam hal pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 2022, angka pengangguran di Sumsel juga berhasil turun menjadi 4,63 persen setelah sebelumnya pada 2021 berada di 4,98 persen.

Selain itu, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita juga mengalami kenaikan dari tahun 2020 sebesar Rp37.323,24 menjadi Rp38.172,58 pada 2021.

Sementara pada tingkat kemiskinan ekstrem, Sumsel juga memperoleh hasil yang baik meskipun tidak lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Pada 2022 ini, kemiskinan ekstrem Sumsel berada di angka 3,19 persen dan secara nasional berada di 2,04 persen. (K64)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper