Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Program Food Estate Masih Hadapi Sejumlah Kendala

Program food estate membutuhkan permodalan, teknologi, peningkatan kapasitas untuk mencapai realisasi.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 07 Juni 2022  |  17:42 WIB
Program Food Estate Masih Hadapi Sejumlah Kendala
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, PALEMBANG – Program food estate atau lumbung pangan  yang dicanangkan pemerintah di daerah, salah satunya Sumatra Selatan, dinilai masih terkendala sejumlah persoalan.

Diketahui, terdapat tujuh kabupaten di Sumatra Selatan yang disiapkan untuk menjadi lokasi food estate yang berbasis tanaman padi dan jagung.

Pembina Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syamsul Asinar Radjam, mengatakan terdapat hambatan teknis dalam program food estate, baik dari segi pengolahan tanah sampai manajemen pengolahannya pasca panennya. 

“Oleh karena itu, food estate mesti dipadukan dengan kawasan pertanian pangan yang telah ada, bermitra dengan petani, dan menerapkan intensifikasi pertanian,” katanya, Selasa (7/6/2022).

Syamsul menjelaskan program lumbung pangan nasional merupakan konsep pengembangan pangan yang terintegrasi dengan pertanian, perkebunan dan peternakan di suatu kawasan. 

Menurut dia, perlu ada intervensi program food estate dalam bentuk permodalan, teknologi, peningkatan kapasitas akan lebih menjamin realisasi gagasan dari program tersebut. 

"Dengan pemilihan lokasi yang tepat sesuai daya dukung alam dan modal sosial di masyarakat petani, dalam dua musim tanam akan terlihat keberhasilan," paparnya. 

Tak hanya itu, kata Syamsul, komoditas pangan yang dikembangkan di food estate tidak bisa dipatok seragam dan harus menyesuaikan dengan kesesuaian lahan, kesesuaian budaya serta pengalaman petani mitra. 

"Tidak mesti terjebak pada produk pangan nabati, bisa juga hewani [perikanan dan peternakan], bahkan produksi pakan untuk mendukung produksi bahan pangan," katanya.

Selain itu, kata Syamsul, hal yang tak kalah penting kedepannya adalah penyimpanan pasar, gagasan food estate mesti dibarengi dengan penyiapan pasar. 

"Akan lebih baik juga dibangun kelembagaan pemasaran yang melibatkan organisasi petani dan Badan Usaha Milik Desa (BumDes)," ujarnya.

Sebagai salah satu faktor pendukung keberhasilan food estate, yakni, alat mesin pertanian (alsintan), Syamsul mengatakan, meski buka hal yang utama, alisntan harus yang bersifat tepat guna agar lebih digunakan maksimal dan bermanfaat.

Berdasarkan catatan Bisnis, Sumatra Selatan menyiapkan lahan seluas 278.483 hektare untuk menjadi food estate tanaman pangan berupa padi dan jagung. 

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatra Selatan, R. Bambang Pramono, mengatakan pihaknya telah memetakan terdapat 7 kabupaten yang berpotensi untuk menjadi food estate berbasis hortikultura.

“Untuk tahap awal food estate berbasis padi dan jagung ada di 7 kabupaten,” katanya.

Adapun ketujuh daerah itu, yakni Muara Enim, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, Prabumulih, OKU Timur dan Lubuk Linggau.

Pramono mengatakan pihaknya menargetkan food estate dapat meningkatkan produksi padi Sumsel menjadi 5 juta ton gabah kering giling (GKG).  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

palembang pertanian food estate
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top