Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konflik Wakil Walkot Medan dengan Bos Pabrik Bulu Ayam Memanas, Begini Kronologinya!

Perseteruan Wakil Wali Kota Medan dan bos PT Anugerah Prima Indonesia So Huan alias Ahu kian memanas. Begini kronologinya.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  14:14 WIB
Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman  -  Bisnis/Nanda Fahriza Batubara
Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara
Bisnis.com, MEDAN - Perseteruan Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman dan bos pabrik bulu ayam PT Anugerah Prima Indonesia So Huan alias Ahu kian memanas. Simak kronologi hingga fakta-fakta terbaru dari dua belah pihak. 
Senin (23/5/2022), Aulia menuding Ahu pernah mencoba menawarinya uang alias suap. Tanpa membeberkan secara detail, Aulia menyebut percobaan itu dilakukan Ahu terhadap dirinya semasa masih berstatus anggota DPRD Kota Medan. Tudingan ini disampaikan Aulia untuk menampik dugaan dendam pribadi di balik penyegelan pabrik milik Ahu.
Pabrik yang dimaksud adalah tempat pengolahan pakan ternak berbahan dasar bulu ayam di Kawasan Industri Medan (KIM) I, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatra Utara.
"Oh tidak ada. Tidak ada. Tidak ada sensi pribadi. Berapa kali dia mau kasih uang kepada saya, saya tidak mau. Dia mau kasih duit," kata Aulia kepada Bisnis.
Aulia mengatakan penyegelan itu dilakukan karena operasional pabrik pengolahan bahan pakan ternak itu telah menyalahi aturan yang berlaku. Menurutnya, limbah pabrik terintegrasi dengan saluran pembuangan masyarakat. Sehingga bau busuk yang ditimbulkan meresahkan warga sekitar.
Bahkan, dia mengaku tak cuma sekali ditawari uang oleh Ahu.
"Salah. Dia salah ketemu orang. Dari sejak saya anggota DPRD, dia mau kasih duit kepada saya. Saya tidak mau. Karena itu tempat tinggal saya," kata Aulia.
Terpisah, pemilik PT Anugerah Prima Indonesia So Huan alias Ahu menanggapi santai tudingan Aulia soal suap tersebut. Ahu memilih untuk membuktikan tudingan Aulia melalui meja hijau. Ahu pun menitipkan salam untuk Aulia.
"Titip salam. Sampai jumpa pembuktian di pengadilan," ujarnya.
Perseteruan Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman dan bos PT Anugerah Prima Indonesia So Huan alias Ahu memanas belakangan ini. Tensi tinggi keduanya menyangkut operasional pabrik pakan ternak berbahan dasar bulu ayam milik Ahu di KIM I, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatra Utara. 
Aulia menuding limbah pabrik terintegrasi dengan permukiman dan menimbulkan bau busuk yang meresahkan warga sekitar. Sementara itu, So Huan mengklaim segala dokumen perizinan sudah dilengkapi perusahaannya.
Perseteruan kian panas setelah Pemko Medan menyegel pabrik untuk yang ketiga kalinya pada Agustus 2021 lalu. Setelah delapan bulan ditutup, pabrik itu kembali dibuka pada April 2022.
Di sini perkara lain muncul. So Huan mengaku kehilangan aset-aset perusahaannya semasa penyegelan berlangsung. Tak tanggung-tanggung, dia mengklaim ada 25 item barang pabrik yang lenyap dengan total nilai mencapai Rp5 miliar. Adu mulut antara keduanya pun melebar ke media sosial.

Saling Kenal 

Namun, di balik perseteruan yang terjadi, belakangan terkuak fakta baru. Ternyata, So Huan dan Aulia Rachman saling kenal. Mereka diduga juga sering mengobrol dan sempat berteman. Kisah masa lalu keduanya dibenarkan oleh So Huan. Dia mengaku sudah kenal Aulia jauh sebelum politikus Gerindra itu terpilih Wakil Wali Kota Medan Periode 2021-2024. 
Sebelum jadi wakil kepala daerah, Aulia diketahui pernah menjabat Ketua PAC Gerindra Medan Deli. Aulia kemudian lolos pemilihan legislatif dan duduk sebagai anggota DPRD Medan pada 2019 lalu. Karena alasan tertentu, hubungan So Huan dan Aulia disinyalir retak seusai pertemuan mereka di suatu kafe kawasan Medan pada Februari 2020 silam. 
So Huan sebenarnya membeberkan apa yang terjadi kala itu. Namun, dia menolak pernyataan dipublikasikan atau informasi off the record. So Huan juga meminta agar kisah masa lalunya tidak dikaitkan dengan prahara PT Anugerah Prima Indonesia saat ini.
"Kami sering duduk minum kopi, tapi itu masalah sosial. Saya rasa kita jangan hubungan itu kemari. Karena kalau kita cerita urusan pribadi ke perusahaan, nanti agak rancu. Memang ada, kita sosial, ada yang mengajak ngopi itu ada," ungkap So Huan kepada Bisnis.
So Huan mengaku tidak pernah memeroleh berita acara maupun surat perintah penyegelan dari Pemko Medan. Termasuk penjelasan resmi mengenai penyebab pabrik disegel. Di sisi lain, dia telah melaporkan dugaan pencurian aset ke Polda Sumatra Utara.
"Bahkan segel itu dibuka sekitar April lalu, itu pakai gunting baja. Sebab kata mereka kunci gembok segel hilang. Setelah pintu pabrik dibuka itu saya tahu banyak barang-barang yang hilang," ujarnya.
So Huan tak menampik bau busuk yang ditimbulkan oleh operasional pabriknya. Namun, menurut dia, tingkat polutan udara masih di bawah ambang batas. Di sisi lain, pabrik itu juga berada di KIM yang notabene kawasan khusus industri. So Huan merasa aneh jika ada warga yang keberatan.
"Kalau soal bau, saya akui memang bau. Jangan kan di pabrik, di mana saja tetap ada bau tertentu. Namun emisi udara tetap jauh di bawah ambang batas sebagai mana yang ditentukan undang-undang dan kami berada di KIM. Keluhan warga mana sih yang dimaksud?" tanya So Huan.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman mengaku memang kenal dengan sosok So Huan. Dia memanggilnya dengan sapaan Ahu.
"Jadi sebenarnya begini, supaya tahu alur ceritanya. Saya kenal dengan orangnya, si Ahu itu saya kenal. Bahkan sejak saya anggota DPRD Medan, saya sudah kenal orangnya," kata Aulia kepada Bisnis. Penuturan Aulia tidak sampai di situ. Meski tak secara rinci, dia mengklaim pernah ditawari uang oleh So Huan. Namun Aulia menolaknya.
Aulia mengatakan dasar penyegelan pabrik PT Anugerah Prima Indonesia bukan soal perizinan. Dia tak menampik segala perizinan sudah dilengkapi So Huan. Yang jadi persoalan, menurut Aulia, operasional pabrik tersebut menyalahi aturan dan tidak mengikuti hasil kajian konsultan. 
Menurutnya, saluran limbah pabrik pengolahan bulu ayam itu terintegrasi dengan pembuangan masyarakat. Sehingga menimbulkan bau busuk yang meresahkan warga sekitar.
Tiga bulan sebelum penyegelan, kata Aulia, dia sudah menelepon So Huan dan mengingatkan persoalan limbah tersebut. Namun, menurutnya, peringatan tersebut tidak diindahkan. Hingga akhirnya sekelompok orang mendatangi Balai Kota dan Gedung DPRD Medan untuk menuntut penutupan pabrik beberapa waktu lalu.
"Saya bilang sama dia, kalau kalian berusaha atau membuka usaha tidak di tempat tinggal saya, mungkin saya tidak mau ribut. Ini kalau berusaha dekat tempat tinggal saya. Ini kan sama juga melempar muka kita pakai tahi. Pakai kotoran," katanya.
Aulia mengatakan, segel pabrik milik So Huan dibuka karena yang bersangkutan berniat pindah ke daerah Kabupaten Deli Serdang. Jika masih beroperasi di lokasi saat ini, Aulia berjanji tak segan-segan untuk menutupnya lagi.
Menurut Aulia, ada beberapa poin aturan yang dilanggar oleh pabrik So Huan. Pertama soal pengelolaan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3). Menurutnya, pabrik tersebut tidak memilik limbah pengelolaan B3 yang sesuai aturan.
"Pengelolaan bulu ayamnya itu menggunakan bangkai. Dalam aturan, untuk mengelola bulu ayam itu harus dicuci dulu, ini kan tidak. Dalam aturan undang-undang, itu pemerintah berhak menutupnya. Jadi kami tidak ada masalah dengan dia," kata Aulia.
Aulia tak ingin ambil pusing soal dugaan kehilangan aset yang dialami So Huan. Menurutnya, hal itu juga bukan tanggung jawab Pemko Medan. Dia juga mengaku heran lantaran alat-alat dengan ukuran besar bisa diangkut begitu saja dari KIM.
"Kalau untuk kehilangan aset, itu tidak ada urusannya dengan Pemko Medan. Apakah pihak pemerintah menyegel sesuatu, pemerintah itu membuat penjagaan barang di situ kan tidak. Tidak semuanya. Kecuali barang ilegal," imbuhnya.
Lebih lanjut, Aulia membantah kunci gembok segel pabrik So Huan hilang. Kunci itu, kata dia, ada di rumahnya. Namun karena terdesak waktu, segel pabrik itu akhirnya dibuka tanpa kunci.
"Saya pun baru dapat kuncinya. Katanya kunci gudangnya hilang, itu ada. Di rumah saya itu saya simpan. Ada. Kita bukan karena ada unsur apapun, maaf lah ya. Kita bukan keturunan pencuri, sorry. Kuncinya ada, karena buru-buru kemarin itu, ya sudah buka saja. Tidak ada masalah saya bilang," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

medan pemkot medan
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top