Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fakta Seputar Gempa Bumi di Pasaman Barat, Ini Penjelasan Ahli Geologi Lingkungan

Gempa tersebut merupakan gempa tipe II, yaitu jenis gempa yang diawali Gempa Pembuka (foreshocks), kemudian terjadi Gempa Utama (mainshock), dan diikuti serangkaian Gempa Susulan (aftershocks).
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 27 Februari 2022  |  15:56 WIB
Foto udara kondisi likuifaksi yang terjadi di Malampah, Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.  - BMKG
Foto udara kondisi likuifaksi yang terjadi di Malampah, Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. - BMKG

Bisnis.com, PASAMAN BARAT - Peristiwa gempa bumi magnitudo 6,2 yang terjadi di Pasaman Barat, Sumatra Barat, pada Jumat (25/2), menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat di Pasaman Barat maupun bagi masyarakat di Kabupaten Pasaman yang turut merasakan dampaknya.

Gempa yang berpusat di Pasaman Barat itu, tercatat terjadi pada pukul 08.39 WIB. Lokasi gempa berada di titik koordinat 0.15 LU,99.98 BT dengan pusat di 17 Km timur laut Pasaman Barat, di kedalaman 10 Km.

Gempa tersebut merupakan gempa tipe II, yaitu jenis gempa yang diawali Gempa Pembuka (foreshocks), kemudian terjadi Gempa Utama (mainshock), dan diikuti serangkaian Gempa Susulan (aftershocks).

Kini akibat gempa itu ratusan rumah mengalami rusak berat, bangunan sekolah dan tempat ibadah ambruk. Serta membuat puluhan jiwa penduduk harus mengungsi dan meninggal rumah mereka yang roboh.

Lalu kenapa begitu besar dampak dari gempa yang terjadi di Pasaman Barat itu? Menurut Ahli Geologi Lingkungan, Wisnu Arya Gemilang, yang juga dari Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) Pusat Riset Kelautan Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa kerak dangkal atau Shallow Crustal Earthquake akibat aktivitas sesar aktif, yaitu Sesar Besar Sumatera tepatnya pada Segmen Angkola bagian selatan.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa, baik gempa pembuka maupun gempa utama memiliki mekanisme pergerakan geser menganan (strike-slip dextral)," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis di Padang, Minggu (27/2/2022).

Dia menyebutkan seperti yang telah diketahui bahwa Pulau Sumatera menyimpan potensi tektonik yang dikenal sebagai Patahan Sumatera, yaitu patahan yang memotong Pulau Sumatera dari ujung utara barat di Aceh, hingga ke selatan di Lampung.

Menurutnya hal itu bukan sebagai ramalan atau amaran gempa. Namun dengan memiliki pengetahuan, maka diharapkan akan sedikit mengurangi kepanikan, dan kita menjadi lebih tahu dan lebih siap tentang apa yang harus dikerjakan.

"Patahan Sumatera ini sangat tersegmentasi, dan terdiri dari 20 segmen geometris yang didefinisikan utama, yang berkisar panjang dari sekitar 60 sampai 200 km," jelasnya.

Wisnu menyebutkan panjang segmen itu dipengaruhi dimensi sumber gempa dan telah membagi menjadi patahan-patahan lebih pendek yang secara historis telah menyebabkan gempa dengan kekuatan antara Mw 6,5 hingga 7.7.

Berdasarkan peta historis gempa Sumatera, bahwa lokasi kejadian gempa pada hari ini merupakan daerah sekitar titik segmen yang pernah terjadi gempa dengan kekuatan 6.8SR di tahun 1926.

"Bahaya gempa tidak pernah muncul sendirian. Kita tahu gempa menyebabkan retakan-retakan yang mungkin terjadi longsor akibat dipicu hujan. Gempa juga dapat diikuti oleh dampak bencana lainnya seperti likuifaksi (pencairan tanah) selain itu juga memicu tsunami, tentunya peta bahayanya gempa menjadi tidak sekedar bahaya goyangan gempa saja," sebutnya.

Dikatakannya getaran gempa bumi yang melanda daerah Kabupaten Pasaman pada Jumat 25 Februari 2022 telah mengakibatkan adanya fenomena likuifaksi (tanah mengalir) dan bercampur air panas di pinggiran Sungai Batang Timah.

Peristiwa alam ini membuat material sungai berupa lumpur meluap ke permukiman warga di Malampah, Kecamatan Tigo Nagari. Material lumpur dari Sungai Batang Timah itu meluap ke permukiman warga dan menimpa sejumlah rumah.

Apalagi melihat beberapa bukti longsor yang terjadi di lereng Gunung Talamau, fenomena geologi yang ada di video amatir tangkapan warhga Pasaman yang diposting dalam akun IG InfoSumbar ialah debrisflow atau mudflow yang biasanya terjadi saat hujan lebat terjadi di hulu, dan akan membangkitkan aliran Debris ini dan menghantam pemukiman di sekitar sungai.

Gunung Talamau mempunyai elevasi puncak tertinggi di Sumatera Barat. Akibat gempa pada hari Jumat lalu tersebut, sekeliling aliran sungai di gunung berpotensi mengalami retakan dan longsor sehingga material longsor masuk ke badan sungai dan terbawa aliran air sampai ke hilir.

"Jadi berdasarkan sudut pandang geologi, Kabupaten Pasaman selain dilalui oleh segmen Patahan Sumatera yang berpotensi mengalami pergerakan lempeng dan menimbulkan gempa bumi, Pasaman juga tersusun atas litologi aluvium terdiri dari lanau, pasir, kerikil dengan kelulusan sedang-tinggi terutama pada butiran kasar," ucap dia.

Berdasarkan peta hidrogeologi, Pasaman dan sekitarnya termasuk ke dalam jenis akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas.

Akuifer terutama berupa pasir, kerikil, tufa batuapung dengan keterusan sedang, kedudukan muka airtanah bebas dekat permukaan hingga 5m dari muka tanah setempat, debit mata air kurang dari 10lt/detik.

Riset Tahun 2019

Jika dikorelasikan, hal tersebut sesuai dengan hasil pengukuran geolistrik terdekat yang dilakukan oleh Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan, KKP dalam kegiatan Riset Identifikasi Kerentanan Pesisir pada tahun 2019 di lokasi Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat dengan Penanggung Jawab Kegiatan Herdiana Muthmainah dan Wisnu Arya Gemilang sebagai peneliti Geologi Lingkungan LRSDKP.

Penampang geolistrik tersebut memperlihatkan bahwa pada kedalaman 0-8.5m didominasi oleh material endapan alluvial (pasir). Pada kedalaman >9m, ditemukan lapisan yang mengandung air hanya bersifat menerus di bagian bawah lapisan aluvial (berwarna biru), begitupun pada penampang kedua terlihat lapisan air berada menerus di kedalaman >7.5m.

Kondisi tersebut sangat berpotensi memiliki pergerakan tanah apabila terjadi gempa bumi dengan kekuatan lebih dari 5SR.

Pada saat getaran gempa cukup tinggi, akan berakibat terbukanya beberapa rekahan, sehingga air dengan mudah keluar melalui rekahan-rekahan tersebut dan membawa material tanah lunak di atasnya.

Selain itu, adanya keluaran air panas, dapat diinterpretasikan bahwa di sekitar segmen Sesar Sumatera, apabila terjadi maka pergerakan akan berpotensi menimbulkan sebuah hotspot (sumber panas).

Air yang menyentuh hotspot melalui rekahan batuan akan membentuk air panas, dan saat terjadi gempa akan keluar bersamaan dengan tanah lunak.

"Faktor-faktor geologi inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pergerakan tanah pasca peristiwa gempa 6,2 SR di Kabupaten Pasaman Barat," tegasnya.

Wisnu menyebutkan dari jejak historis kejadian peristiwa gempa bumi di Pulau Sumatera, maka sangat diperlukan sebuah upaya mitigasi bencana gempa bumi serta bencana ikutannya dengan melakukan pembuatan peta zonasi gempa.

Sementara itu, peta untuk kebutuhan kebencanaan harus diturunkan atau diproses dan dianalisis lebih lanjut sesuai dengan mikrozonasi kerawanan gempa.

Untuk kompenen dalam peta rawan bencana (gempa), perlu ditambahkan komponen peta patahan aktif (dan nonaktif). Upaya pembuatan peta rawan bencana (gempa) yang terinci diharapkan dapat meminimalisir dampak terjadinya bencana mendatang. (k56).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa sumbar pasaman barat
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top