Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dear Edy Rahmayadi, Setop Janji Tertibkan Tambang Liar di Mandailing Natal Bila Tak Mampu

Di balik bencana ini, muncul desakan terhadap Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi agar memenuhi janjinya untuk menertibkan tambang emas liar di kabupaten itu. Termasuk yang beroperasi di aliran Sungai Batang Natal.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 21 Desember 2021  |  15:55 WIB
Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi - Istimewa
Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi - Istimewa

Bisnis.com, MEDAN - Bencana alam banjir dan longsor kembali melanda Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Terdapat 16 kecamatan terdampak dan setidaknya 16.446 jiwa sempat mengungsi.

Di balik bencana ini, muncul desakan terhadap Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi agar memenuhi janjinya untuk menertibkan tambang emas liar di kabupaten itu. Termasuk yang beroperasi di aliran Sungai Batang Natal.

Sebab, praktik pertambangan di sepanjang aliran sungai tersebut telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Dampaknya, banjir di kawasan hilir begitu parah saat bencana terjadi. Tepatnya di Kecamatan Natal. Di kecamatan ini, lebih dari 8.000 jiwa sempat mengungsi.

"Kami harap sebelum masa jabatan Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi berakhir, praktik perusakan lingkungan di Mandailing Natal seperti tambang emas ilegal harus selesai. Kalau hanya janji-janji saja dan tidak bisa membuktikannya, lebih baik tidak usah," ujar Direktur Sumut Institute Osriel Limbong kepada Bisnis, Selasa (21/12/2021).

Osriel mengingatkan bahwa Edy telah berjanji untuk menertibkan tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal tak lama setelah dilantik sebagai Gubernur Sumatra Utara pada 2018 lalu. Pada Desember 2019, Edy juga kembali berjanji akan menindaknya.

Namun hingga kini, praktik pertambangan emas ilegal, khususnya di aliran Sungai Batang Natal, masih tetap berlangsung.

"Bahkan saat bencana terjadi lagi baru-baru ini, beliau juga menyadari masih ada aktivitas tambang ilegal di sana. Tapi mengapa sudah bertahun-tahun menjabat gubernur, tidak ada hasil apapun. Buktinya sampai sekarang tambang-tambang itu masih beroperasi," ujar Osriel.

Selain merusak lingkungan pada aliran sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat, praktik tambang juga sangat berbahaya bagi kesehatan. Hal ini, kata Osriel, justru merugikan warga setempat.

Osriel menduga sederet kelahiran bayi cacat di Kabupaten Mandailing Natal selama ini tak lepas dari dampak buruk praktik pertambangan. Sebab, para penambang emas biasa menggunakan bantuan bahan kimia seperti merkuri proses pemisahan unsur logam.

Lebih lanjut, Osriel mengapresiasi niat Edy memfasilitasi warga yang selama ini berkerja sebagai penambang emas ilegal untuk beralih ke profesi lain. Seperti menjadi petani atau peternak. Akan tetapi, Osriel berharap hal itu tidak sekadar wacana belaka.

"Harus direalisasikan. Karena apapun ceritanya, pertambangan di aliran sungai sangat merusak lingkungan dan merugikan warga itu sendiri," kata Osriel.

Menurut warga Desa Pasar III Natal, Kecamatan Natal, Ikhwan AB, banjir kali ini lebih parah ketimbang yang melanda mereka sekitar tiga tahun silam.

Menurut Ikhwan, kondisi tersebut tak lepas dari kerusakan lingkungan di hulu Sungai Batang Natal yang menjadi lokasi praktik tambang emas liar sejak puluhan tahun silam.

Aktivitas pertambangan di sungai yang tak terkendali mengakibatkan musibah lebih parah melanda penduduk di kawasan hilir. Termasuk tempat tinggal Ikhwan.

"Kalau saya menilainya seperti itu. Karena sungai dan tepiannya habis dikeruk untuk tambang," kata Ikhwan kepada Bisnis, Senin (20/12/2021).

Seperti diketahui, sepanjang aliran Sungai Batang Natal kini dipenuhi dengan praktik tambang emas liar. Bukan hanya mengeruk badan sungai, para penambang juga terlihat menginvasi kawasan tepi. Bahkan, beberapa unit alat berat terlihat jelas beroperasi menambang emas kendati ilegal.

Nasib Ikhwan dan pengungsi lainnya kian parah karena akses jalan menuju lokasi sempat putus akibat longsor. Longsor juga diduga terjadi akibat dampak dari praktik pertambangan di tepi sungai. Selain akses jalan yang putus, warga harus bersabar karena listrik juga padam.

"Sungai itu rusak parah akibat tambang. Akibatnya kami yang di hulu yang kena imbasnya. Apalagi kami berdekatan dengan muara," kata Ikhwan.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi tak menampik aktivitas tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal masih berlangsung. Saat meninjau lokasi bencana, Edy bahkan melihat bongkahan-bongkahan kayu.

"Di Mandailing Natal itu banjir lima tahunan. Memang ada kegiatan ilegal, baik itu tambang ilegal, tambang galian C yang juga ilegal dan juga ditemukan potongan-potongan kayu. Itu yang sedang kami pelajari," kata Edy di rumah dinasnya, Senin (20/12/2021).

Untuk mengetahui sumber kayu-kayu itu, Edy mengutus jajaran di dinas kehutanan ke lokasi. Edy pun kembali berjanji akan menindak oknum yang selama ini melakukan tindakan-tindakan ilegal sehingga memperparah bencana alam.

"Saya belum bisa memastikan, nanti akan kita lihat. Nanti kita sampaikan pada masyarakat dan kita tindak orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan ilegal," kata dia.

Edy mengatakan, sudah ada rencana memfasilitasi warga yang selama ini berkerja sebagai penambang emas ilegal untuk beralih ke profesi lain seperti pertanian ataupun peternakan. Akan tetapi, upaya itu terhambat akibat pandemi Covid-19 merebak.

"Kalau yang ilegal khusus emas, ini yang sedang dalam proses karena kemarin terhambat dengan Covid-19, sehingga kami undur. Nanti akan kami ubah alih fungsi rakyat dalam pelaksanaan melakukan galian emas. Nanti akan kami alihkan. Yang pertanian, ya pertanian. Yang perkebunan, ya perkebunan," kata Edy.

Janji untuk menertibkan tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal bukan kali pertama disampaikan Edy. Saat heboh bayi lahir cacat dari orang tua eks penambang emas di kabupaten itu beberapa tahun lalu, Edy juga pernah berjanji serupa.

"Ini sedang dalam pemeriksaan, dalam pengecekan. Tapi apa pun alasannya, tambang emas itu adalah ilegal. Tidak usah dikoordinasikan, sudah pasti dia melanggar harus harus ditindak," ujar Edy" ujar Edy usai berziarah di Taman Makam Pahlawan Medan, Senin (25/11/2019) silam.

Janji yang sama kembali disampaikan Edy sebulan kemudian. Tepatnya usai menghadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Lilin Toba di Medan, Kamis (19/12/2019).

"Kami tidak akan membiarkan praktik tambang emas yang tidak jelas dan tanpa memiliki izin operasional dari pemerintah. Jadi tambang emas ilegal yang banyak terdapat di Kabupaten Mandailing Natal akan ditutup," ujar Edy.

Persoalan tambang emas ilegal di aliran Sungai Batang Natal hingga kini tak mampu dihentikan pemerintah. Bupati Mandailing Natal Muhammad Jafar Sukhairi Nasution juga tak menampik telah kewalahan.

Selama ini, kata dia, pemerintah daerah sudah berupaya untuk menyelesaikan polemik tersebut. Mereka juga sudah menyurati pemerintah pusat agar turun tangan mengatasinya. Menurutnya, kemampuan Pemkab Mandailing Natal untuk melakukan penertiban terbatas.

"Kami tidak punya kemampuan untuk menertibkannya. Kami sudah menyurati presiden dan kementerian agar itu ditertibkan," kata Jafar kepada Bisnis, Senin (4/10/2021) lalu.

Menurut Jafar, pemerintah daerah pernah menerjunkan personel Satuan Pamong Praja untuk melakukan penertiban. Namun penindakan tidak berhasil karena perlawanan para pelaku tambang.

"Pernah diturunkan Satpol PP, tapi benturannya luar biasa. Sempat lari kocar-kacir pasukan kita. Karena ini sudah domain-nya pusat, kita kembalikan ke pusat. Makanya kami buat surat," kata Jafar.

Jafar menambahkan, pemerintah pusat telah menurunkan tim ke lokasi belum lama ini. Mereka sudah melihat langsung praktik tersebut.

"Mereka sudah saksikan sendiri. Sudah berapa kali kami surati pemerintah pusat agar itu ditertibkan. Barang kali pandangan pemerintah pusat mungkin aspek ekonomi, sosial atau politik. Karena bukan di Mandailing Natal saja tambang liar yang marak," kata Jafar.

Sebelumnya, bencana banjir dan longsor melanda 16 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal pada Jumat (17/12/2021). Setidaknya 16.446 jiwa dari tujuh kecamatan terpaksa mengungsi. Terbanyak dari Kecamatan Natal sekitar 8.000 jiwa.

Bencana ini juga merendam ribuan unit rumah dan fasilitas umum. Sejumlah akses jalan dan pasokan listrik di sejumlah titik sempat putus.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemulihan Sosial Ekonomi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal Julinaida Hasibuan menjelaskan bahwa banjir kini mulai surut. Sejauh ini, hanya tersisa satu kecamatan yang masih terendam. Yakni Kecamatan Muara Batang Gadis.

Beberapa akses jalan yang sempat putus juga sudah bisa dilalui. Namun terdapat sebagian titik lagi yang belum.

Julinaida mengatakan, tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan akibat banjir maupun longsor. Tetapi, satu orang nelayan hilang dan masih dalam proses pencarian. Nelayan itu bernama Zen Batubara (45). Dia hanyut ketika hendak membenahi tali perahunya pada Minggu (19/12/2021) lalu.

"Alhamdulillah tidak ada warga yang meninggal dunia. Karena air naik tidak tiba-tiba. Jadi masih bisa menyelamatkan diri," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/12/2021).

Saat bencana ini terjadi, Bupati Mandailing Natal Jakfar Sukhairi Nasution langsung menetapkan status darurat bencana mulai Sabtu (18/12/2021) hingga Jumat (31/12/2021) mendatang.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah menerbitkan peringatan dini tentang dampak dari aktivitas Typhoon RAI di wilayah Laut China.

Berdasar hasil monitoring model analisis sinoptik, aktivitas itu akan memicu tekanan rendah di Semenanjung Malaysia dan konvergensi di wilayah pantai barat Sumatra.

Typhoon RAI akan mengakibatkan peningkatan curah hujan di wilayah Sumatra bagian Utara. Sembilan daerah di Sumatra Utara berada dalam status siaga. Termasuk Kabupaten Mandailing Natal. Sedangkan 18 daerah lainnya berstatus waspada.

Hingga tiga hari ke depan, Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I Medan Hartanto memperkirakan Sumatra Utara akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan disertai petir serta angin kencang dengan durasi lama.

Cakupan wilayah yang luas dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologis, yaitu banjir bandang, longsor angin kencang dan gelombang tinggi.

"Menyikapi kondisi tersebut di atas agar para pemangku kepentingan dan seluruh komponen masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terjadinya bencana hidrometeorologis di Sumatra Utara pada 18-21 Desember 2021," ujar Hartanto melalui keterangan tertulis.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

banjir sumut mandailing natal
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top