Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GAPKI Yakini Nilai Ekspor CPO Semakin Moncer

Volume dan nilai ekspor CPO Sumut pun diprediksi makin meningkat seiring dengan disepakatinya perdagangan bebas antara Indonesia dengan Swiss melalui sebuah referendum pada 7 Maret 2021 lalu.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 28 April 2021  |  16:02 WIB
Ilustrasi. - Bisnis/Arief Hermawan P.
Ilustrasi. - Bisnis/Arief Hermawan P.

Bisnis.com, MEDAN - Harga Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatra Utara (Sumut) mencapai Rp2.566 periode 28 April hingga 3 Mei 2021. Rata-rata harga crude palm oil (CPO) Sumut juga menguat Rp604 menjadi Rp11.201 per kg pada pekan ini.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut optimis tren peningkatan harga ini terus berlanjut dan akan berdampak pada peningkatan nilai ekspor CPO.

Sekretaris Gapki Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan, saat ini permintaan CPO sedang bertambah, terutama dari China.

“Jadi mengacu ke situ, permintaan dari RRC naik ya jadi tentu berpengaruh dengan harga. Inikan hukum jual-beli,” kata Timbas, Rabu (28/4/2021).

Volume dan nilai ekspor CPO Sumut pun diprediksi makin meningkat seiring dengan disepakatinya perdagangan bebas antara Indonesia dengan Swiss melalui sebuah referendum pada 7 Maret 2021 lalu.

Timbas menjelaskan, pada tahun 2020 peningkatan harga CPO dan turunannya membuat nilai ekspor dari Sumut naik 10,54 persen dibandingkan tahun 2019.

Pada tahun 2020, nilai ekspor CPO dan turunannya dari Sumut mencapai US$2,52 miliar atau naik sebesar US$240 juta dibandingkan nilai ekspor di tahun 2019 yang sebesar US$2,28 miliar. Jumlah ini memberi andil sebesar 31,17 persen terhadap ekspor Sumut.

Untuk mempertahankan tren peningkatan harga tersebut, Timbas mengharapkan Pemerintah Pusat konsisten dalam mengembangkan biodiesel dari kelapa sawit.

Menurutnya, bila produk turunan kelapa sawit lebih banyak dimanfaatkan di dalam negeri, volume ekspornya pun akan berkurang. Hal ini membuat permintaan produk kepala sawit di pasar global semakin tinggi.

“Kalau pasaran di luar negeri berkurang, tentu harga akan naik karena permintaan makin naik,” imbuh Timbas.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Sumatra Utara adalah Provinsi penghasil kelapa sawit kedua terbanyak setelah Riau.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gapki sumut minyak sawit
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top