Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kopi Pagaralam Raih Penghargaan Kontes Kopi AVPA Paris 2020

Kopi asal Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, berhasil meraih penghargaan dalam ajang kontes kopi dunia, Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA) Gourmet Product tahun 2020, yang digelar Paris, Prancis.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 19 November 2020  |  17:20 WIB
Kopi Pagaralam Raih Penghargaan Kontes Kopi AVPA Paris 2020
Ketua Dewan Kopi Sumsel M. Zain Ismed (kedua kiri) berfoto bersama para petani kopi Pagaralam yang tergabung dalam Dewi Sekopi Besemah. Bisnis/Dinda Wulandari
Bagikan

Bisnis.com, PALEMBANG - Kopi asal Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, berhasil meraih penghargaan dalam ajang kontes kopi dunia, Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA) Gourmet Product tahun 2020, yang digelar Paris, Prancis.

Ketua Dewan Kopi Sumsel, M Zain Ismed mengatakan, Kopi Pagaralam berhasil bersaing diantara 130 produk yang dikirimkan 15 negara produsen kopi di dunia.

“Hanya 74 produk yang diakui meraih Gourmet Medal pada kontes tahun ini, dan salah satunya Kopi Pagaralam. Tentu ini pencapaian yang membanggakan,” katanya, Kamis (19/11/2020).

Dia mengemukakan selain kopi asal Pagaralam, Indonesia juga meraih penghargaan dalam ajang serupa untuk Kopi Kintamani dari Bali, dan tiga jenis kopi asal Jawa Barat dan kopi asal Pasuruan, Jawa Timur.

Menurut Zain, Kopi Pagaralam dipilih dewan juri karena memiliki keunggulan dari sisi rasa berupa ‘strong bitter’. 

Rasa pahit yang unik ini didapatkan karena tanaman kopinya ditanam di ketinggian 1.000-1.4000 mdpl, yang berdampingan dengan jenis tanaman lain yakni cengkih, kayu manis, dan petai. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman kopi itu menyerap saripati tanaman yang ada di sekitarnya.

Keunggulan lainnya, Kopi Pagaralam ini telah melalui proses pembuatan yang higienis, mulai dari pemetikan, perendaman, penjemuran, pengorengan (roasting) dan penyortiran.

Pola pembuatan kopi yang berstandar dunia ini dilakukan Desa Wisata Sekolah Kopi (Dewi Sekopi Basemah) yang membina sejumlah desa di Kelurahan Talang Darat dan Kelurahan Agung Lawangan di Kecamatan Dempo Utara, atau menyasar sekitar 206 petani kopi binaan. 

“Uniknya pula dalam kontes ini, tidak seperti kontes kopi lain di dunia, roasting-nya dilakukan sendiri oleh petani lokal, jadi dari sisi kompetisi memang jauh lebih fair,” kata dia.

Sementara itu, Abdurahman Are, salah seorang petani kopi asal Pagaralam, mengatakan dirinya sangat bangga atas keberhasilan dalam kontes kopi tersebut. 

Bendahara Dewi Sekopi Besemah itu berharap pengakuan internasional itu dapat berdampak pada kesejahteraan petani karena akan semakin banyak peminat yang ingin merasakan citarasanya.

Namun, untuk meningkatkan kesejahteraan tersebut bukan perkara mudah karena sejauh ini, hampir sebagian besar petani kopi di Pagaralam masih menerapkan pola ‘lama’ dalam pemprosesan pasca panennya, seperti petik asalan (tidak petik merah).

Oleh karena itu harga di tingkat petani terbilang rendah yakni Rp19.000 per Kg. Padahal, jika menerapkan pola baru dalam pasca panennya maka harga mencapai Rp34.000 per Kg karena dapat menyasar pembeli kelas premium.

“Di Pagaralam itu, 90 persen penduduk adalah petani kopi. Jika ada perubahan mindset, saya yakin akan ada perubahan besar di Pagaralam karena petani kopinya semakin sejahtera,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumsel kopi
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top