Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bulog Gelontorkan 1.923 Ton Gula Pasir di Sumsel

Perum Bulog Divre Sumsel Babel telah menggelontorkan sebanyak 1.923 ton gula pasir dari kuota 2.000 ton ke distributor sebagai upaya mengendalikan harga komoditas itu agar sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 07 September 2020  |  20:24 WIB
Salah satu pedagang gula dipasar tradisional sedang mengemasi gula pasir untuk dijual kembali  -  Arief Rahman
Salah satu pedagang gula dipasar tradisional sedang mengemasi gula pasir untuk dijual kembali - Arief Rahman

Bisnis.com, PALEMBANG – Perum Bulog Divre Sumsel Babel telah menggelontorkan sebanyak 1.923 ton gula pasir dari kuota 2.000 ton ke distributor sebagai upaya mengendalikan harga komoditas itu agar sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Kepala Bidang Operasional dan Pelayanan Publik (OPP) Perum Bulog Divre Sumsel, Tri Novianti, mengatakan saat ini stok gula yang masih ada di Gudang Bulog tersisa sebanyak 77 ton.

“Kami sudah jual ke distributor maupun masyarakat umum untuk stabilisasi harga sehingga harga kembali normal dan sesuai HET,” katanya baru-baru ini.

Novi mengatakan saat ini pihaknya tidak lagi mendapat jatah pasokan gula pasir dari pusat. Pasalnya, beberapa pabrik gula sudah panen dan melakukan penggilingan. 

Dia mengemukakan sebanyak 2.000 ton gula pasir itu berasal dari berbagai daerah mulai dari Lampung, Semarang hingga impor dari luar negeri. Novi mengklaim saat ini harga gula sudah stabil di pasaran dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat lagi.

Selain gula pasir, kata dia, Bulog juga menguasai beberapa komoditas bahan pokok untuk cadangan harga. Salah satunya minyak goreng. Bahkan, Gudang Bulog di Palembang akan menerima 415 ton minyak goreng dalam waktu dekat.

“Masuknya ke Palembang karena kami jadi pusat untuk beberapa daerah di Sumatra. Jadi apabila Bulog Jambi, Bengkulu, Pekanbaru dan Padang membutuhkan minyak goreng bisa dikirim dari sini,” katanya.

Selain komoditas-komoditas tersebut, pihaknya tetap berkomitmen menyerap beras dari petani. Meskipun masih terdapat kendala, salah satunya harga gabah di tingkat petani yang tidak sesuai dengan harga pokok pemerintah (HPP).

Pimpinan Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Ali Ahmad Najih Amsari mengatakan, pengadaan beras dan gabah terus dilakukan tanpa henti. Apalagi memang, meski pandemi dan musim kemarau, petani di Sumsel terus memproduksi beras dan gabah kering giling.

“Saat ini pengadaan atau penyerapan kita sudah capai 55.000 ton dari target kita 80.000 ton. Kita masih terus serap dari petani, baik beras maupun gabah,” kata dia

Dia mengatakan, pengadaan beras saat ini dominan masih berasal dari Banyuasin, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Banyuasin.

Tercatat saat ini stok beras di gudang Bulog di Sumsel dan Babel bisa memenuhi 6--7 bulan kedepan. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu kuatir akan ketersediaan beras, karena Bulog masih mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat.

“Stok beras di Sumsel dan Babel aman. Kita bisa penuhi kebutuhan selama 6--7 bulan kedepan. Untuk itu, masyarakat tidak perlu kuatir dan resah, kami pastikan stok aman,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog sumsel Stok Beras gula pasir
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top