Redam Dampak Corona ke Ekonomi, Konsumsi Rumah Tangga Perlu Didorong

Pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat ekonomi domestik dengan mendorong konsumsi rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi akibat pandemi Corona.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 16 Maret 2020  |  16:45 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG - Pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat ekonomi domestik dengan mendorong konsumsi rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi akibat pandemi Virus Corona.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Selatan (BI Sumsel) Hari Widodo mengatakan dorongan konsumsi rumah tangga itu juga mengingat bahwa terdapat daerah, seperti Sumsel, yang perekonomiannya ditopang oleh kelompok pengeluaran tersebut.

Dia mengatakan komponen konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 60 persen terhadap total produk domestik bruto regional (PDRB). 

“Makanya untuk menjaga momentum harus diperkuat konsumsi. Ini perlu peran pemerintah baik pusat maupun daerah,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/3/2020).

Dia menjelaskan stimulus fiskal yang diberikan pusat, seperti bantuan pangan nontunai bisa membangkitkan ekonomi masyarakat. Jika masyarakat memiliki daya beli maka konsumsi dapat terjaga.

Pemda pun, Hari melanjutkan, perlu gencar melakukan belanja langsung yang memiliki multiplier effects terhadap perekonomian.

Ketika pemda melakukan belanja infrastruktur, misalnya untuk perbaikan jalan diharapkan ada dampak lanjutan dari proyek tersebut.

“Gubernur Sumsel akan menggelontorkan Rp1,3 triliun untuk perbaikan jalan-jalan. Dampaknya bisa lebih dari Rp1,3 triliun karena ketika jalan itu bagus, bisa memperlancar ekonomi rakyat, bahkan berpotensi menumbuhkan sentra ekonomi baru di daerah itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bernadette Robiani, mengatakan jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret menanggulangi dampak Corona, maka imbasnya terhadap ekonomi daerah bisa lebih dalam.

“Jika faktor produksi terganggu akibat turunnya ekspor maka berpeluang ada PHK (pemutusan hubungan kerja). Imbasnya, ke pengangguran yang berujung pada peningkatan angka kemiskinan,” katanya.

Bernadette menilai kondisi melemahnya perdagangan global bisa membuat perekonomian Sumsel hanya tumbuh maksimal 5,5 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, EKONOMI SUMSEL

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top