PHRI Sumut Pesimistis Capai Okupansi di Atas 50% Persen

Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel berbintang di Sumatra Utara dinilai masih belum optimal sampai dengan akhir tahun ini. Mengingat rerata okupansi hotel selama ini juga masih di bawah 50 persen, sehingga perlu didorong untuk memperkuat industri ini.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 07 November 2019  |  16:04 WIB
PHRI Sumut Pesimistis Capai Okupansi di Atas 50% Persen
Dermaga Parapat Danau Toba, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. - Antara/Andika Wahyu

Bisnis.com, MEDAN - Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel berbintang di Sumatra Utara dinilai masih belum optimal sampai dengan akhir tahun ini. Mengingat rerata okupansi hotel selama ini juga masih di bawah 50 persen, sehingga perlu didorong untuk memperkuat industri ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara rata-rata okupansi hotel berbintang sebesar 44,29% pada September 2019, meskipun angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 43,40%.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Sumut menilai kondisi industri perhotelan di Sumatra Utara sampai dengan akhir 2019 diproyeksi belum stabil, jika dilihat dari tingkat keterisian kamar hingga saat ini.

“Tahun ini masih belum optimis, kami berharap tahun depan bisa meningkat,” kata Ketua PHRI Sumut Denny S. Wardhana kepada Bisnis, Kamis (7/11/2019).

Denny menambahkan tingkat keterisian kamar terbilang belum stabil lantaran masih dibayangi harga tiket pesawat rute domestik yang masih tinggi, sehingga banyak yang enggan untuk mencari hotel atau berwisata di Sumatra Utara. “Melihat kondisi tersebut banyak yang membatalkan untuk ke Sumut,” katanya.

Sebagai gambaran, dia menyebut bila dibandingkan tahun lalu, tahun ini cenderung lebih sepi karena konsumen yang sebagian besar merupakan institusi swasta juga pemerintah memilih untuk mencari hotel di lain kota seperti kota di Jawa yang tak memerlukan biaya tinggi untuk tiket pesawat.

Dia berharap permintaan aktivitas meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) atau petemuan, insentif, konvensi, dan pameran di Sumatra Utara dapat meningkat. Pasalnya, aktivitas tersebut tidak hanya mendongkrak okupansi, tetapi juga rata-rata lama menginap (RLM).

Untuk itu, seluruh pemangku kepentingan di Sumut mulai dari pemkot, pelaku usaha wisata, PHRI, hingga masyarakat perlu mendorong penyelenggaraan acara besar baik di tingkat nasional ataupun internasional. Sebelumnya kerap menjadi pilihan untuk melakukan pertemuan, pameran dan konvensi. Sayangnya, di tahun ini kegiatan cenderung lebih lengang.

“Peningkatan kerjasama dengan Asita dan pihak airlines untuk promo juga dibutuhkan,” tambahnya.

Dia berharap okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel di Sumut paling tidak dapat meningkat 10%-15% . Mengingat selama ini peningkatan masih di bawah rata-rata okupansi hotel sebesar 50%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
okupansi hotel, wisata sumut

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top