OKI Kembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran di Lahan Gambut

Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, menggandeng BPPT untuk mengembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran (SPBK) di lahan gambut.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 31 Oktober 2019  |  17:21 WIB
OKI Kembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran di Lahan Gambut
Ilustrasi pemadaman karhutla. - Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran (SPBK) di lahan gambut.

Wakil Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), M. Dja'far Shodiq, mengatakan sistem tersebut dikembangkan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap kali terjadi di wilayah itu.

“OKI jadi percontohan [mengatasi karhutla]. Ini untuk antisipasi agar tidak lagi terjadi kebakaran. Kami berharap kajian ini bisa dimanfaatkan untuk mencegah karhutla di masa yang akan datang,” katanya pada Kamis (31/10/2019).

Sebetulnya, kata Shodiq, upaya seperti kajian-kajian itu sudah dilakukan di Kabupaten OKI sejak beberapa tahun lalu yang bekerja sama dengan berbagai pihak.

Dia juga berharap BPPT dapat berkontribusi membantu pemerintah dalam percepatan pengelolaan lahan gambut yang bermanfaat secara ekonomi namun tetap berlandaskan tata kelola lingkungan yang baik, serta mencegah terjadinya bencana, khususnya kebakaran di lahan gambut.

“Semoga teknologi BPPT ini dapat dimanfaatkan guna mengoptimalisasikan pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan,” ucap Shodiq.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan bahwa sistem itu untuk mengantisipasi kebakaran lahan melalui monitoring.

“Kami pasang alat untuk memantau lahan gambut mulai dari tingkat kelembapan, kadar air. Saat ini masih tahap pilot project, tapi ke depan harus ditetapkan secara merata di Indonesia,” ujarnya.

Dia menjelaskan alat yang ditanam di lahan gambut itu akan mengirimkan hasil monitoring ke server. “Dari situ akan tahu kondisi hutan gambut seperti apa, dan selanjutnya tindakan seperti apa yang akan dilakukan."

Salah satu upaya agar tidak terjadi kebakaran di lahan gambut, kata Seto, adalah dengan menjaga kelembaban gambut.

“Level air di lahan gambut ini minimal 40 cm. Kalau kurang dari situ atau kering bisa ditindak seperti dengan membasahinya kembali bisa dengan pompa yang besar atau dengan teknologi lain seperti modifikasi cuaca," lanjutnya.

Di OKI proyek ini berlangsung sejak 2017. Terkait keberhasilan sistem peringatan dini (early warning) melalui FDRS yang sudah dipasang Seto mengklaim alat tersebut sudah bekerja cukup baik untuk mengetahui tingkat kekeringan di lahan gambut seperti yang dipasang di Kawasan Sepucuk.

Hanya saja, untuk di OKI jumlahnya sendiri masih sangat sedikit sehingga belum seluruh lahan gambut bisa terkontrol.

"Saat ini di OKI baru beberapa unit, untuk kebutuhan sendiri lebih kurang idealnya (dipasang) di 50 titik atau bahkan lebih. Untuk itu ini masih akan terus dikembangkan," ujarnya.

Selain komponen cuaca, tambah Seto, ada komponen lain yang diukur oleh FDRS, yaitu komponen aktivitas manusia, komponen sebaran dan ketebalan gambut. Juga distribusi air gambut dan sumber air untuk mengatasi kekeringan gambut. “Bahkan terhitung kerugian yang diderita dalam rupiah akibat kebakaran lahan gambut.”

Dia mengutarakan pula bahwa aplikasi sistem ini dilakukan bersama dengan institusi terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gambut, Karhutla

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top